Ilustrasi
GENIAL.ID, Opini -“Pancasila Dalam Tindakan, Melalui Gotong Royong Menuju Indonesia Maju”. Sebuah selogan sarat makna yang menjadi inspirasi pemerintah beberapa waktu lalu pada momentum peringatan Hari Lahirnya Pancasila 1 Juni 2020. Gotong royong yang oleh Bung Karno pada pidato lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945 merupakan intisari dari Pancasila itu sendiri. Artinya Pancasila bukan sekedar teori atau nilai yang ada di angan-angan saja, akan tetapi Pancasila harus membumi, harus hadir dalam tindakan nyata masyarakat Indonesia. Bukti nyata gotong-royong kita juga diuji dalam situasi pandemi ini untuk membantu sesama warga bangsa dalam upaya meminimalisir dampak sosial Covid-19.

Semangat gotong royong ini pula yang menjadi ruh dan semangat sebuah gagasan program Kemendikbud yang akhir-akhir ini cukup populer diberi nama Program Organisasi Penggerak (POP). Dikutip dari portal resmi Kemendikbud, program ini bertujuan mendorong hadirnya Sekolah Penggerak yang berkelanjutan dengan melibatkan peran serta organisasi. Fokus utamanya adalah peningkatan kualitas guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Selanjutnya organisasi yang berpartisipasi dalam program tersebut dapat menerima dukungan pemerintah untuk mentransformasi sekolah menjadi Sekolah Penggerak. Pada tahun 2020-2022 Program Organisasi Penggerak memiliki sasaran peningkatan kompetensi 50.000 guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan di 5.000 PAUD, SD dan SMP.

Mengutip pernyataan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Iwan Syahril di berbagai media, ada tiga skema pembiayaan untuk menyukseskan POP. Selain murni Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terdapat skema pembiayaan mandiri dan dana pendamping (matching fund). Akan ada sejumlah organisasi penggerak yang akan menggunakan pembiayaan mandiri dan matching fund. 

Meski demikian, Kemendikbud tetap melakukan pengukuran keberhasilan program melalui asesmen dengan tiga instrument; Pertama, Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter (SD/SMP). Kedua, instrumen capaian pertumbuhan dan perkembangan anak (PAUD). Ketiga, pengukuran peningkatan motivasi, pengetahuan, dan praktik mengajar guru dan kepala sekolah.

Di satu sisi, proses seleksi organisasi yang memilih skema pembiayaan mandiri dan matching fund juga dilakukan dengan kriteria yang sama dengan para peserta lain yang menerima anggaran negara. Dengan menggandeng organisasi atau yayasan yang fokus di bidang pendidikan.

Tak hanya itu, dari sisi proses seleksi Program Organisasi Penggerak  ini dalam pandangan penulis tentunya dilaksanakan secara transparan, dengan prinsip akuntabilitas, dan independensi yang fokus kepada substansi proposal organisasi masyarakat. Kemudian, proses evaluasi proposal terdiri atas evaluasi administrasi yang dilakukan tim verifikasi administrasi Kemendikbud, dilanjutkan dengan evaluasi teknis substantif, evaluasi pembiayaan, dan verifikasi yang dilakukan tim independen. Artinya Kemendikbud tidak melakukan intervensi terhadap hasil tim evaluator demi memastikan prinsip imparsialitas.

Lantas apa yang menjadi kegelisahan kita kemudian terkait program ini dan apa korelasi dengan nilai yang menggugah semangat gotong royong kita? Tentu menjadi kegelisahan kita, ketika dua ormas Islam terbesar di republik ini, yakni NU dan Muhammadiyah menyatakan menarik diri dari program ini, dimana sebelumnya kedua ormas ini dinyatakan lolos verifikasi oleh Kemendikbud.

Seperti diberitakan di berbagai media, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PP Muhammadiyah serta Lembaga Pendidikan (LP) Maarif Nahdatul Ulama (NU) memutuskan keluar dari Program Organisasi Penggerak. Muhammadiyah dan NU sebagaimana kita ketahui merupakan dua entitas umat dan bangsa yang telah begitu panjang dengan rekam jejak di dunia pendidikan Indonesia. Pengunduran diri LP Ma’rif NU dan Majelis Pendidikan Muhammadiyah dari POP, dikawatirkan dapat mendegradasi legitimasi dari POP itu sendiri. Di berbagai sumber data lembaga pendidikan NU dan Muhammadiyah mempunyai jaringan sekolah, tenaga pendidik, hingga peserta didik yang sangat besar yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Muhammadiyah memiliki 30 ribu satuan pendidikan yang tersebar di seluruh Indonesia. Persyarikatan Muhammadiyah sudah banyak membantu pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan sejak sebelum Indonesia merdeka. Begitu juga dengan NU.

Berbicara NU tak lepas dengan pembicaraan kiprahnya di dunia pendidikan khususnya pesantren, lahirnya NU tidak dapat dipisahkan dari pergumulan   pesantren.   Pesantren   merupakan   sumbangan   terbesar   NU   bagi   pendidikan generasi muda di negeri ini. Hingga saat ini sudah ada ribuan pesantren yang tersebar di penjuru nusantara.

Demikian betapa besarnya kiprah Muhammadiyah dan NU di dunia pendidikan nasional. Karenanya sangat disayangkan ketika kedua lembaga tersebut menyatakan mundur dari program yang dibangun dengan semangat gotong royong dalam ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa ini. Semestinya terhadap hal-hal yang dirasakan masih kurang pas dalam pandangan setiap organisasi masih bisa dilakukan komunikasi dan koordinasi yang mengedepankan semangat kebersamaan dengan Kemendikbud RI.

NU dan Muhammadiyah hendaknya tetap pada prinsip dan istiqomah bahwa pendidikan merupakan salah satu pilar mencerdaskan kehidupan bangsa. POP ini merupakan program yang sejatinya untuk memberdayakan komunitas pendidikan Indonesia dari mana saja. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas belajar anak-anak Indonesia yang fokus pada keterampilan fondasi terpenting untuk masa depan SDM Indonesia, khususnya literasi, numerasi dan karakter.

Ini bukan soal lembaga siapa yang mendapat apa. Ini adalah tentang anak-anak didik dan masa depan pendidikan di Indonesia, sebenarnya pemenangnya itu harusnya anak-anak Indonesia. Jadi bukan masalah eksistensi organisasi semata, karena semangatnya adalah gotong royong.

Akhirnya kita sangat berharap, ada kearifan dan kebijaksanaa Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PP Muhammadiyah serta Lembaga Pendidikan Maarif Nahdatul Ulama (NU) untuk kembali di jalan bersama dalam program organisasi penggerak, demi lestarinya semangat dan nilai gotong royong kita, demi masa depan pendidikan umat dan anak bangsa.  [*]

 

* Oleh : Amilan Hatta

Penulis merupakan Direktur Eksekutif Lembaga Analisis dan Kajian Kebudayaan Daerah (LINKKAR)

 

You may also like