istimewa
GENIAL. Sobat, kita lanjutkan jalan-jalan kita di Kashan, Iran, yang penuh dengan pesona, setelah kita mengetahui Kota Bawah Tanah Kashan atau Nushabad.
 
Sobat, di kawasan Kashan ini ada Pemandian Sultan Amir Ahmad, yang merupakan cucu Imam Syiah yang kesembilan, yaitu Imam Jawad. Makam Sultan Amir sendiri tak jauh dari pemandian ini.
 
Dulu, di Iran, setiap kota pasti terdiri dari lima elemen, yaitu masjid, pasar, rumah, pemandian dan tadah atau tangki tempat air. Sejak pra-Islam, pemandian umum raja-raja telah populer di Iran, dan salah satu elemen penting di setiap kota di Iran, pun ketika Islam telah masuk, adalah pemandian umum. Pemandian ini menjadi tempat berkumpul para keluarga kerajaan dan kerabat serta para tetamu.
 
Namun sekarang, pemandian tersebut sudah tidak berfungsi lagi sebagai pemandian, dan telah menjadi museum untuk para wisatawan domestik maupun asing. Selain luas, pemandian ini pun mempunyai arsitektur yang indah khas Persia, tak kalah dengan rumah rumah cantik di Kashan ini.
 
Dibangun pada abad ke-16 pada masa kerajaan Safawi, pemandian ini terdiri dari beberapa ruangan di dalamnya. Diantaranya ada ruangan yang berbentuk aula segi delapan besar dengan kolam segi delapan di tengahnya. Ruangan yang dikelilingi oleh delapan pilar yang memisahkan tempat duduk terluarnya ini bernama Sarbine. Biasanya dipakai untuk ruang ganti, juga tempat berkumpulnya para pemandi. Mereka duduk santai sambil mengobrol.
 
Sementara tempat mandi utama disebut Garmkhaneh atau Sardkhaneh yang berisi beberapa pemandian air panas atau air dingin, terletak di dekat Sarbineh. Pemandian ini banyak dihiasi oleh mosaik bernuansa pirus dan emas, selain dinding cantik dan lukisan kuno. Kubah pemandian ini dipasangi gelas cembung untuk menyerap cahaya dan menyembunyikan bagian dalam dari luar.
 
Sobat, di Kashan juga Jalali Natural Refrigerator atau lemari es yang dalam bahasa Farsi disebut Yakhcal. Zaman dulu, lemari es di Iran dibuat secara alami dari tanah liat. Bentuknya besar seperti kubah dan bisa memuat banyak bahan makanan. Meskipun sekarang tidak lagi terpakai, tetapi tetap menjadi daya tarik wisata domestik dan asing. Tempatnya dekat dengan rumah-rumah cantik dan bersejarah yang kemarin kita kunjungi. Cek lagi, tulisan sebelumnya. he he
 
Nah sobat, Iran, walaupun termasuk negara di Timur tengah, tetapi di samping mempunyai empat musim seperti di Eropa, juga tidak semua tempat di Iran adalah gurun pasir. Hanya ada beberapa saja gurun pasir di Iran, diantaranya Gurun Pasir Maranjab. Di gurun pasir ini kita bisa merasakan seperti hidup di negara-negara Arab, ditambah unta-unta yang berkeliaran bebas. Tentu saja ada pemiliknya, dan kita bisa menaikinya dengan dibantu sang pemilik.
 
Paling asyik kalau kita kesini bareng dengan teman-teman, dan menginap di kemah-kemah yang kita dirikan di alam terbuka di atas Gurun Pasir. Malamnya kita bisa menyalakan api unggun, sambil makan malam bareng. Paginya, kita bisa menikmati sunrise, dan sorenya kita bisa menikmati sunset.
 
Ini yang saya alami dulu ketika berkunjung ke Gurun Pasir Maranjab ini. Unforgettable memory!
 
Sobat, di Kashan juga ada Caravanserai. Ini bahasa Parsi, dari karavan dan sarai. Karavan sebenarnya sudah menjadi bahasa Indonesia yang artinya rombongan, kafilah atau kumpulan orang orang yang bepergian. Sedangkan sarai artinya istana atau rumah yang besar.
 
Istilah Caravansarai ini dipakai di Iran dan di Turki. Artinya tempat persinggahan atau penginapan untuk para pedagang pada masa itu dimana jalur sutra menjadi jalur perdagangan internasional yang sangat aktif. Di Caravanserai inilah mereka beristirahat.
 
Sekarang, ketika zaman sudah berubah, dan tidak ada lagi para pedagang yang melalui jalan sutera, Caravanserai yang tersebar di sekitar Iran, diantaranya yang berada di Kashan ini, sekarang menjadi penginapan tradisional untuk para pengunjung Gurun Pasir ini. [***]
 
Sifa Sanjurio
Staf Pengajar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
 
 

You may also like