Ilustrasi
Genial - Ibn al-Jawzi tidak melewatkan kesempatan untuk mengkritik berbagai pihak dalam kitabnya Shaydul Khathir. Dalam beberapa bagian beliau mengkritik Imam al-Ghazali dalam persoalan ilmu kalam. Di bawah ini saya contohkan bagaimana kritik Ibn al-Jawzi terhadap Imam al-Ghazali soal sejarah.

Awalnya Ibn al-Jawzi dalam halaman 451 membangun narasi bahwa ahli fiqh itu harus juga meluaskan wawasan keilmuannya ke bidang lain, termasuk sejarah. Lantas beliau mencontohkan kekurangtelitian Imam al-Ghazali dalam kitabnya Fadhaih al-Bathiniyyah, yang lebih dikenal dengan julukan al-Mustazhhiri:

‎وقد ذكر في كتاب له سماه “المستظهري وعرضه على المستظهر بالله أن سلميان بن عبد الملك بعث إلى أبي حازم فقال له: ابعث لي من فطورك! فبعث إليه نخالة مقلوة، فأفطر عليها، ثم جامع زوجته، فجاءت بعبد العزيز ثم ولد له عمر! وهذ تخليط قبيح، فإنه جعل عمر بن عبد العزيز بن سليمان بن عبد الملك! فجعل سليمان جده؛ وإنما هو ابن عمه.

Imam al-Ghazali berkisah bahwa Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik menggauli istrinya setelah memakan kiriman makanan dari seorang ulama Abu Hazim. Lantas lahirlah Abdul Azis, yang kemudian kelak memiliki anak bernama Umar bin Abdul Azis.

Kisah ini lantas dibantah karena tidak sesuai data sejarah. Kalau alur kisah dari Imam al-Ghazali diikuti maka Sulaiman itu kakeknya Umar bin Abdul Azis, padahal fakta sejarahnya mereka berdua adalah sepupuan.

Saya verifikasi info dari Ibn al-Jawzi ini ke kitab imam al-Ghazali, dan saya menemukan bahwa benar kisah janggal itu terdapat di kitab Fadhaih al-Batiniyyah halaman 217. Saya lacak data sejarah, dan benar Sulaiman itu sepupu Umar, bukan kakeknya.

Namun Ibn al-Jawzi tidak berhenti sampai di sini. Beliau juga mengkritik data sejarah yang dikemukakan oleh Juwayni yang terkenal dengan julukan Imam al-Haramain, guru dari Imam al-Ghazali.

وقد ذكر أبو المعالي الجويني، في أواخر كتاب “الشامل في الأصول” قال: قد ذكرت طائفة من الثقات المعتنين بالبحث عن البواطن أن الحلاج والجنابي القرمطي وابن المقنع تواصوا على قلب الدول، وإفساد المملكة، واستعطاف القلوب، وارتاد كل منهم قطرًا، فقطن الجنابي في الأحساء، وتوغل ابن المقنع في أطراف بلاد الترك، وقطن الحلاج ببغداد، فحكم عليه صاحباه بالهلكة والقصور عن بلوغ الأمنية، لبعد أهل بغداد عن الانخداع، وتوفر فطنتهم، وصدق فراستهم.

Disebutkan oleh al-Juwayni dalam kitabnya as-Syamil fil Ushul bahwa sekelompok perawi yang terpercaya mengatakan bahwa al-Hallaj, al-Jannabi al-Qaramati dan Ibn al-Muqaffa melakukan konspirasi politik melawan penguasa saat itu. Namun mereka gagal.

Ibn al-Jawzi kemudian berkomentar:

‎قلت: ولو أن هذا الرجل أو من حكى عنه عرف التاريخ، لعلم أن الحلاج لم يدرك ابن المقفع؛ فإن ابن المقفع أمر بقتله المنصور، فقتل في سنة أربع وأربعين ومائة، وأبو سعيد الجنابي القرمطي ظهر في سنة ست وثمانين ومائتين، والحلاج قتل سنة تسع وثلاث مائة، فزمان القرمطي والحلاج متقاربان، فأما ابن المقفع فكلا.

Menurut Ibn al-Jawzi, kisah di atas tidak bisa diterima oleh ahli sejarah. Kenapa? Al-Hallaj (244 – 309 H) boleh jadi hidup semasa dengan al-Jannabi (268-332 H), dan ada kemungkinan mereka bertemu, tapi tidak mungkin keduanya bertemu dengan Ibn al-Muqaffa’. Soalnya nama terakhir ini sudah wafat dihukum mati oleh Khalifah Manshur pada tahun 144 H —seratus tahun sebelum al-Hallaj lahir.

Saya coba melacak keterangan Ibn al-Jawzi di atas.

Pertama, saya menemukan dalam karya Ibn Khallikan (1211-1282 H) kitab Wafayatul A’yan (2/155) kritikan yang serupa dengan yang dsampaikan Ibn al-Jawzi terhadap Imam al-Juwayni. Menurut Ibn Khallikan, ada kemungkinan yang dimaksud oleh al-Juwayni itu nama yg mirip, yaitu Ibn al-Muqanna’. Jadi ada typo di naskah kitab al-Juwayni (huruf nun tertukar fa).

Tapi Ibn Khallikan meragukan sendiri kemungkinan ini karena Ibn al-Muqanna’ wafat 163 H, yang artinya gak ketemu juga dengan al-Hallaj. Kemudian Ibn Khallikan menyodorkan nama lain, Ibn as-Syalmaghani, tokoh kontroversial yang dihukum mati juga oleh Khalifah pada tahun 322 H. Karena hidup sejaman dengan al-Hallaj dan nasibnya sama-sama tragis, maka Ibn Khallikan menduga inilah nama yang dimaksud oleh Juwayni. Tapi benarkah demikian?

Kalau gitu gimana kalau kita lacak langsung dari kitab as-Syamil fi Ushul ad-Din karya Imam al-Juwayni yang dirujuk oleh Ibn al-Jawzi dan juga Ibn Khallikan? Sekitar 700 halaman lebih kitab klasik yang ditahqiq oleh Dr Sami an-Nasyar saya pelototi, namun saya tidak menemukan teks tersebut.

Kok gitu? Boleh jadi kitab yang sampai ke kita itu tidak komplit. Aslinya kitab as-Syamil merupakan syarah dari kitabnya Qadhi Baqillani. Mungkin ada bagian yang hilang dari manuskrip. Atau saya yang kurang teliti melototinya. Yang jelas siapapun yang membaca kitab babon as-Syamil ini akan tahu bahwa kitab ini mengupas dengan gaya polemik akan aqidah Asy’ari vis-a-vis aliran lain. Jadi, kitab ini tidak membahas soal tasawuf, atau sejarah politik. Rasanya out of topic kalau masalah konspirasi politik al-Hallaj dibahas didalamnya.

Yang lebih musykil lagi, Ibn Khallikan, yang lahir sekitar 11 tahun setelah Ibn al-Jawzi wafat, tidak merujuk kepada kitab Ibn al-Jawzi. Langsung menyebut kitab as-Syamil karya al-Juwayni untuk kemudian mengkritik kutipan al-Juwayni di atas. Jangan-jangan Ibn Khallikan tidak membaca langsung kitab as-Syamil. Jangan-jangan ini kekurangtelitian Ibn al-Jawzi sendiri dalam merefer ke kitab karya al-Juwayni. Mungkin kutipan itu terdapat di kitab al-Juwayni yang lain. Saya mencoba melacak ke kitab karya Ibn al-Jawzi dan al-Juwayni yang lain, tapi belum berhasil mendapatkan kutipan teks aslinya.

Lantas siapa kedua nama orang yang dituduh bersama al-Hallaj melakukan konspirasi melawan pemerintah saat itu? Kalau info konspirasi di atas benar, jangan-jangan dihukum matinya al-Hallaj tidak sepenuhnya karena pandangan kesufian beliau, tapi juga ada aroma politik.

Di atas sudah saya tunjukkan bagaimana hasil kritikan Ibn al-Jawzi kita coba lakukan verifikasi. Melelahkan melacak hal semacam ini. Butuh komitmen dan ketelitian menelaah tumpukan kitab.*

*Penulis : Nadirsyah Hosen
Wakil Ketua Pengasuh Pesantren Takhasus Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta.  Tulisan ini  sudah naik di situs personal Gus Nadir di https://nadirhosen.net. 


You may also like