Istimewa
Genial-  Kegiatan terorisme saat ini sudah kian canggih. Bahkan saat ini,  pendanaan  kegiatan terorisme sudah sudah melalui transfer via "smartphone".

Hal ini diungkapkan oleh  Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD di Jakarta, Jumat (10/1) seraya menunjuk "smartphone" awak media yang digunakan merekam wawancara seperti dilansir Carapandang.com. 

Mahfud ditemui usai menunaikan Shalat Jumat di Kantor Kemenko Polhukam, dan baru saja juga bertemu dengan Direktur Jenderal Penanggulangan Terorisme Pemerintah Jepang Shigenobu Fukumoto.

Dalam pertemuan yang berlangsung di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius ikut mendampingi Menko Polhukam.

Mahfud melanjutkan pendanaan kegiatan terorisme sudah berbeda dengan jaman dulu yakni masih secara konvensional melalui bank. Dengan cari ini aparat penegak hukum  masih dengan mudah melacak aliran dana untuk kegiatan terorisme. Dengan cara yang digunakan saat ini membuat aliran dananya susah terlacak, apalagi disebar ke berbagai orang sebagai penerima dana sebelum dikumpulkan kembali.

"Sekarang, 'jret' gitu sudah sampai ke yang bersangkutan, dan itu disamarkan dan dibagi. Misalnya, di Indonesia ada yang nerima 100 orang dibagi-bagi, dikumpulkan. Itu dioperasikan untuk beli senjata merakit senjata, dan sebagainya," katanya.

Selain itu, Mahfud juga mengkhawatirkan semakin canggihnya terorisme karena lebih banyak melibatkan kaum perempuan dan anak-anak. Ia mencontohkan warga negara Indonesia yang terindikasi terlibat terorisme yang masih berada di Suriah, atau sering disebut FTF (Foreign Terrorist Fighter).

"Coba yang ada di Suriah itu ada 187 orang kita di sana yang diduga bergabung dengan teroris. Sebanyak 31 orang itu laki-laki, sisanya itu perempuan dan anak-anak," kata Mahfud. (Mir)

You may also like