Ilustrasi
GENIAL.ID, Tafkir - Tak ada persoalan bersifat global dan melintasi batas-batas geografis yang kini mengancam keberlangsungan planet bumi serta kehidupan manusia, selain dari krisis iklim. Menurut Cambridge Dictionary krisis iklim adalah sejumlah permasalahan serius yang ditandai dengan adanya perubahan cuaca di planet bumi, diantaranya yang utama adalah bumi semakin panas, sebagai akibat dari aktivitas manusia yang terus meningkatkan gas rumah kaca ke atmosfer.

Krisis iklim merupakan dampak akumulatif dari berbagai kerusakan lingkungan hidup yang telah dan sedang terjadi, baik di daratan maupun lautan. Diantara bentuk kerusakan lingkungan hidup yang dapat disebut adalah deforestasi hutan dunia yang semakin meningkat dan penggunaan energi fosil dalam skala besar. Lebih jauh, krisis iklim adalah penanda kegagalan pembangunan yang telah dipilih, dimana eksploitasi sumber daya alam untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang menjadi aktivitas utamanya.

Dampak buruk krisis iklim

World Meteorological Organization (WMO), sebuah badan khusus PBB untuk cuaca dan iklim, hidrologi dan geofisika yang pusat di Jenewa, Swiss, melaporkan sepanjang tahun 2015-2019 temperatur global mengalami peningkatan rata-rata sebesar 0.2 °C dibandingkan dengan tahun 2011-2015. Dalam pada itu, tahun 2016 menjadi tahun terpanas dengan kenaikan temperatur sebesar 1 °C dibandingkan dengan temperatur bumi sebelum masa revolusi Industri.

Di dalam laporan bertajuk, The Global Climate 2015-2019, WMO mencatat sejumlah dampak buruk krisis iklim di berbagai negara. Diantara dampak yang dilaporkan adalah banjir, gelombang panas, dan kekeringan. Sepanjang 2015-2019, banjir dilaporkan telah menghantam China pada Juni-Juli tahun 2016. Akibatnya, sebanyak 310 orang meninggal dan secara ekonomi negara ini alami kerugian sebesar USD 14 triliun.

Pada Agustus 2017, banjir juga melanda sejumlah negara, yaitu India, Bangladesh, Nepal, dan Sierra Leone. Total orang yang meninggal di India, Bangladesh, dan Nepal, tercatat sebanyak 1200 orang serta 40 juta orang terdampak kesehatannya akibat penyakit yang menyebar pasca banjir. Sementara di Sierra Leone, banjir disertai longsor telah membunuh 1.102 orang.

Selanjutnya, pada Juni-Juli 2018, Jepang dilanda banjir yang menyebabkan 245 orang meninggal dunia dan sebanyak 6.767 rumah hancur. Satu bulan setelah itu, tepatnya Agustus 2018, banjir menghajar India yang membunuh 223 orang dan memaksa 1,4 juta orang mengungsi. Kerugian ekonomi akibat banjir di India ini diperkirakan sebanyak USD 4.3 triliun.

Dampak buruk krisis iklim lainnya adalah gelombang panas. Pada Mei-Juni 2015, MWO mencatat India dan Pakistan dihantam gelombang panas yang menyebabkan 2.248 orang meninggal di India, dan 1.229 orang di Pakistan. Tahun 2015 dan 2018, gelombang panas juga menghantam Eropa, yang menyebabkan 3.275 orang meninggal pada tahun 2015 dan 1500 orang meninggal pada tahun 2018.

Terkait dengan dampak krisis iklim yang lain, yaitu kekeringan, MWO mencatat  sepanjang 2015-2018 cadangan air mengalami penipisan di cape Town, Afrika Selatan, yang menyebabkan kota ini hampir kehabisan air pada 2018. Di Afrika timur pada 2016-2017, 6,7 juta orang mengalami kerawanan pangan pada puncak kekeringan.

Tak hanya itu, pada Oktober 2017 - Maret 2018, - kekeringan menghantam Argentina Utara dan Uruguay. Akibatnya, sejumlah tanaman musim panas mati dan masyarakat mengalami gagal panen. Kerugian pertanian diperkirakan mencapai USD 5.9 miliar.

Di Indonesia, dampak buruk krisis iklim dapat dilihat dari sejumlah hal penting, diantaranya kebakaran hutan dalam lima tahun terakhir. Pada tahun 2015 saja, tercatat 2.6 hektar hutan hilang dan setidaknya 34 orang meninggal. Selain itu, krisis iklim berdampak terhadap tenggelamnya pulau-pulau kecil dan semakin banyaknya wilayah pesisir yang terkena abrasi. Dalam konteks pertanian, krisis iklim merusak musim tanam dan panen. Akibat jangka panjangnya, kedaulatan pangan akan dipertaruhkan.

Deretan berbagai fakta tersebut penting dijadikan pengingat bahwa krisis iklim adalah bahaya serius yang harus mendapatkan perhatian besar dari berbagai pihak.

Memahami Catatan Geoklimatik Ibnu Khaldun

Apa hubungan antara krisis iklim dengan Ibn Khaldun? Berpagi-pagi penulis perlu menegaskan bahwa Ibn Khaldun adalah ilmuwan pertama yang menjelaskan pengaruh iklim dan kondisi alam terhadap kehidupan manusia. Kitab Muqaddimah yang ditulis dalam rentang waktu 1332-1406 M menggambarkan hal ini dengan sangat baik. Meskipun kitab ini merekam fakta-fakta dan peristiwa pada masa hidupnya Ibn Khaldun, namun memiliki relevansi yang sangat kuat bagi kehidupan manusia saat ini.  

Di dalam kitab Muqaddimah, bab pertama, mukaddimah kedua, Ibn Khaldun menulis mengenai peradaban manusia secara umum serta menjelaskan bagian bumi yang memiliki peradaban karena ditopang oleh sumber daya alam. Di dalam Bahasa Arab, pembahasan itu ditulis sebegai berikut: “al-Muqaddimah al-tsāniyah, fī qishtil ‘umran minal ardhi wal isyarati ilā ba’dhi mā fīhi minal bihār wal anhār wal aqālim”.

Pada mukaddimah kedua itu, Ibn Khladun menambahkan pembahasan mengenai kawasan-kawasan tertentu di planet bumi ada yang lebih makmur daripada kawasan lainnya. Di dalam Bahasa Arab, pembahasan itu ditulis sebegai berikut: “fī anna al-rub’u al-syimāli minal ardh aktsaru ‘umronan min al-rub’u al-janūbi w dzikru as-sabab fī dzālik”.

Selanjutnya, pada mukaddimah ketiga, Ibn Khaldun menjelaskan bahwa berbagai kawasan di bumi memiliki iklim sedang dan ekstrim serta memberikan pengaruh terhadap warna kulit, kondisi dan kebudayaan manusia. Di dalam Bahasa Arab, pembahasan itu ditulis sebegai berikut: “al-Muqaddimah al-tsālitsah, fī al-mu’tadil minal aqālim wal munharif wa ta’tsīr al hawa fī alwānil basyar wal katsīr min ahwālihim.”

Pada mukaddimah keempat, ia menulis pengaruh berbagai kawasan di bumi beserta dengan udara atau cuaca terhadap warna kulit manusia dan berbagai macam kondisi kebudayaannya. Di dalam Bahasa Arab, pembahasan itu ditulis sebegai berikut: “fī ātsaril hawa fī akhlāq al-basyar”.

Selanjutnya, pada mukaddimah kelima, ia menulis satu pembahasan mengenai korelasi peradaban dengan kondisi kesuburan tanah dan kelaparan serta pengaruhnya terhadap akhlak manusia. Di dalam Bahasa Arab, pembahasan itu ditulis sebegai berikut: “fī ikhtilāf ahwāl al-‘umrān fil khashab wal jū’ wa mā yansya ‘an dzālik minal āstār fī abdān al-basyar wa akhlāqihim”.  

Yang menarik, pada mukaddimah ketiga, Ibn Khaldun menulis di kawasan yang secara iklim dan kondisi alamnya tidak ekstrim panas atau dingin serta mendukung kehidupan, disanalah peradaban manusia tumbuh dan berkembang. Lebih lanjut ia menulis sebagai berikut:

“Karenanya, ilmu pengetahuan, berbagai profesi, bangunan, pakaian, makanan pokok, buah-buahan, hewan-hewan, dan segala sesuatu yang terbentuk di daerah yang stabil (iklimnya, PR), memiliki sifat stabil. (Adapun) manusianya adalah manusia yang paling pertengahan dalam tubuh, warna kulit, akhlak dan agama...” (Ibn Khaldun, Muqaddimah, Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah, h. 65)

Jika diringkaskan, gagasan Ibn Khaldun tentang hubungan antara alam, iklim dan manusia dapat ditulis sebagai berikut: kondisi iklim di planet bumi membentuk kebudayaan manusia. Terdapat tujuh wilayah dengan kondisi iklim yang sangat dingin di bagian paling utara sampai sangat panas di bagian paling selatan. Di kedua wilayah ekstrim tersebut tidak mungkin muncul peradaban besar karena cara hidup masyarakat di kawasan tersebut hanya untuk bertahan. Peradaban hanya mungkin tumbuh dan berkembang pada wilayah iklim sedang karena dimungkinkan untuk menetap.

Pandangan ini menegaskan bahwa kondisi iklim dan alam yang memberikan daya dukung menjadi prasayat utama terbangunnya kebudayaan dan peradaban manusia, termasuk terbentuknya negara, berjalannya aktivitas ekonomi, tersedianya beragam jenis pangan yang dibutuhkan oleh manusia, serta terbentuknya berbagai pranata sosial kehidupan manusia.

Pandangan Ibn Khaldun, di dalam teori ekologi manusia, disebut sebagai teori geoklimatik atas kebudayaan dan peradaban manusia, dimana kondisi iklim, kondisi alam, keragaman musim, serta tingkat curah hujan, memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap keragaman budaya dan bangunan sosial-politik (Prof. Oekan Abdoellah, Ph.D., Dari Ekologi Manusia ke Ekologi Politik, Jakarta: Gramedia, 2020, h. 62-63).

Catatan geoklimatik Ibn Khaldun membantu kita untuk menyadari bahwa krisis iklim yang semakin parah menghantam planet bumi dan mempercepat kerusakan alam menjadi penanda utama kehancuran kehidupan manusia dan makhluk lainnya di planet ini. Dalam jangka panjang, krisis ini akan menghancurkan kebudayaan manusia dalam hal mengelola sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dalam konteks ini, Philip Alston, seorang pelapor khusus PBB untuk isu kemiskinan ekstrim menyebutkan bahwa pada masa depan akan terjadi apa yang dinamakan climate apartheid. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan sebuah kondisi dimana orang-orang kaya yang memiliki banyak harta dapat membayar supaya mereka terhindar dari kelaparan (akibat krisis pangan) yang disebabkan oleh krisis iklim. Pada saat yang sama, orang-orang miskin di dunia yang jumlahnya lebih banyak, harus hidup menderita dalam kondisi ketiadaan pangan. Akibat krisis iklim, diperkirakan pada tahun 2050 akan ada satu miliar orang yang melakukan migrasi ke berbagai tempat di dunia demi menghindari ancaman kelaparan.

Krisis iklim adalah ancamanya yang sangat nyata. Jika terus dibiarkan, kehidupan di panet ini akan dipertaruhkan. Jared Diamond di dalam bukunya yang terkenal, Collapse, menegaskan bahwa kerusakan lingkungan dan krisis iklim merupakan dua dari banyak faktor yang dapat mempengaruhi dan melestarikan peradaban manusia. [**]

** Oleh:  Parid Ridwanuddin  
Penulis adalah Pengajar di Departemen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina, serta seorang environmentalist yang mendalami isu iklim dan lingkungan hidup, diantaranya isu pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil.


You may also like