Pelaku Ken alias Murat yang baru saja mendapat remisi dari LP Lembata (Foto: Bara Pattyradja)
GENIAL.ID, Lembata - Kelikur, Lembata. Malam Lebaran (Sabtu, 24/05). Lomblen didera hujan. Listrik padam. Tak ada sinaran cahaya. Langit Buyasuri sepenuhnya diselubungi kegelapan.

Malam Lebaran. Tapi ini kali tak ada kumandang gema takbir menyambut Hari Raya Idul Fitri. Dunia seperti membisu, dibius Corona.
Orang orang bertafakur di bilik masing masing. Juga Masa, janda paruh bayah yang tinggal bersama anak gadisnya di sebuah rumah di tepi bukit Kelikur, Kedang.

Malam Lebaran. Selepas sembahyang dan mengaji, Masa istirahat di kamar tamu. Anaknya telah pulas di kamar  belakang. Waktu semakin larut. Namun rinai hujan tak kunjung reda. Bumi seolah dibasuh langit agar kembali murni.

Di beranda rumah tepi bukit itu, seorang lelaki muda diam-diam mengendap. Setelah berhasil mendongkel gagang pintu, Ia berjingkrak ke dalam kamar tamu yang remang. Sebatang lilin yang memendarkan cahaya samar di samping dipan dipadamkannya.

Lelaki muda ini, menyangka bahwa yang terbaring di ruang tamu itu adalah anak gadis yang incarannya. Lalu ia pun segera melancarkan aksi bejatnya. Sontak Masa kaget dan berteriak hingga paniklah sang Predator. Bertubi-tubi telapak kaki kekarnya bersarang secara brutal di dada Masa. Tangannya membekap mulut Masa. Lehenya dicekik. Sebilah bambu runcing berukuran kecil ia tancapkan tiga kali tepat ditenggorokkan dan bagian perut Masa. Darah mengucur deras. Masa lunglai tak berdaya.  Kemudian ia bopong tubuh Masa meninggalkan kamar. Seberkas cahaya  membuat Masa mengenali wajah pelaku.

Ya. Masa mengenalinya. Sang Predator itu adalah Murat alias Ken. Tetangganya. Resedivis kasus asusila yang baru dua bulan menghirup udara bebas setelah mendapat remisi dari LP Lembata.

Masa dibawa pergi menjauh dari rumah. Hujan mengguyur mereka. Predator itu sigap berjalan menyusuri rimbun pohon dan cadas batu batu sembari menggendong Masa. Ia hempaskan tubuh Masa ke tanah seperti sebatang kayu yang tak berguna. Lalu Ken mengambil sebuah batu ceper, hendak meniti batok kepala perempuan uzur yang meringis menahan rasa sakit tak terperih. Lirih pinta suara Masa  mengiba pada Ken. Berlinangan air mata dan tangis Masa terbata melafazkan kalimah, suaranya bergetar;

“Tolong, tolong jangan bunuh saya di sini, Ken. Tolong... Jika saya harus mati, ijinkan saya mati di depan rumah, agar anak perempuanku dapat menemukan jasadku. Kamu inginkan apa? Uang? Perhiasan? Ada di lemari. Tapi tolong bawa pulang saya ke rumah”.

Permohonan itu  mengubah pikiran Ken hingga batu ceper itu terlepas dari genggam tangannya. Rupanya Tuhan Maha Rahim masih menyayangi Masa. Ken membopong kembali tubuh Masa. Pembunuh berdarah dingin itu bahkan masih sempat mengganti baju korban dan membersihkan darah di lehernya. Sebelum meninggalkan Masa, Ia berkata;

“Jikalau orang-orang bertanya tentang luka di lehermu, katakan saja bahwa ini bekas cakaran kucing”.

Sang Psikopot muda itu pun berlalu pergi, menghilang ditelan kegelapan. Masa tergeletak seorang diri.  Perlahan ia merayap ke kamar anak gadisnya. Suaranya yang sayup sayup di balik pintu berhasil membangunkan si gadis yang sedang tidur pulas.

Listrik menyala. Tiktok jam dinding menunjuk pukul dua dini hari. Sang gadis menelpon karib kerabat dan para tetangga. Orang-orang berdatangan memberi pertolongan. Masa dilarikan ke Puskesmas terdekat.

Keesokan harinya, kabar tentang percobaan pemerkosaan dan penganiayaan berat yang menimpa Masa tersebar ke semua pelosok Buyasuri. Setiap malam warga yang memiliki anak gadis di rumah resah dan berjaga-jaga. Rekam jejak Ken di kampung itu memang penuh dengan daftar hitam. Mulai dari kasus pencurian di Balauring hingga pencabulan. Penjara sama sekali tidak memberikan efek jera baginya. Ken, menjelma menjadi horor  yang mengerikan.

Cara Ken memperlakukan korban menunjukkan gejala psikologis seorang Psikopat. Kombinasi tindakan brutal dan lembut sebagai sebuah harmoni dalam satu moment. Seorang psikopat menyiksa korban dengan cara keji lalu memberikan perhatian serta menunjukkan rasa empati yang dalam pada korbannya.

Ken, seperti mencapai sensasi kenikmatan dengan jalan menyakiti korban. Melalui rasa sakit korban itulah Ken memenuhi hasrat psikisnya yang abnormal. Dengan demikian, Ken bukan sekedar seorang kriminal biasa. Ia adalah ancaman sosial bagi anak-anak perempuan di seluruh Lembata. Mata rantai kejahatannya meski diretas secara tegas sebelum kejahatannya menjadi circle. Sebelum jatuh korban Masa-Masa yang lain. Sangsi yuridis yang serius terhadap psikopat seperti Ken perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh dari pihak penegak hukum dan juga pemerintah Lembata yang berkewajiban menciptakan rasa aman bagi seluruh warganya.

Apa yang menimpa Masa, bukan lagi persoalan individual. Peristiwa ini merupakan masalah kemanusiaan universal. Betapa seorang warga negara, seorang wanita tua, terancam di negerinya sendiri.

Dua malam berlalu. Setelah pencarian panjang di balik tebing tebing dan semak belukar. Ken dibekuk oleh enam “orang pintar” dan aparat keamanan di sebuah desa saat sedang mencari makan di rumah warga karena kelaparan. Psikopat yang konon punya ilmu magic itu, kini dikarantina di polsek Buyasuri.

Malam Lebaran. Dan Masa tak sempat merayakan hari kemenangan itu. Tubuh ringkihnya terpekur di bangsal perawatan RSUD Lembata. Ia tekah melewati fase kritis tapi mulutnya terus mengeluarkan getah darah. Semoga Allah memberinya kekuatan dan mengangkat rasa sakit yang menderanya. (*)

*) Kisah yang ditulis oleh penyair Indonesia Bara Pattyradja ini diangkat dari kisah yang benar-benar nyata

You may also like