Ilustrasi karya Ali Arapoglu @pexels
GENIAL.ID,Tafkir- Ketiga laki-laki itu tengah menyusuri jalan pulang, ketika petir menyergap langkah mereka dan hujan turun dengan derasnya. Laut seolah-olah ditumpahkan begitu saja dari haribaan langit, membuat ketiganya panik berlarian untuk mencari tempat berteduh.

Untung saja, tak berapa lama dari permulaan hujan nan deras dan dahsyat itu, merekapun sampai di depan mulut sebuah gua. Alangkah leganya hati mereka disaat memasuki gua yang hangat itu. Mereka segera menempati sudut-sudut dalam gua kecil itu, untuk mengusir dingin yang terserap dari tubuh mereka yang basah.

Petir menggelegar, kilat menyambar, mengiringi curah hujan yang kian membesar di luar gua. Selagi ketiga musafir tengah asyik dalam percakapannya, tiba-tiba terdengar suara derak, diiringi goncangan hebat dalam gua kecil yang hangat itu.

Bumi yang terinjakpun bergetar keras, sedang batu-batu kecil dari langit-langit susul menyusul berjatuhan menimpa kepala mereka. Ketiga musafir saling merapatkan badan. Dan saat tubuh mereka mulai goyah menahan getaran gempa, terdengar suara ledakan dahsyat dari arah mulut gua.

Kegelapan meliputi gua itu, disaat lindu berhenti. Terhenyaklah ketiga laki-laki itu, ketika menyadari bahwasanya jalan satu-satunya bagi mereka untuk keluar dari gua telah tertutup rapat.

Sebuah batu besar rupanya telah jatuh tepat menutupi jalan keluar. Hingga ketiga musafir merasa, sangat mustahil bagi mereka untuk keluar, melihat tak secelah pun tersisa untuk sinar yang masuk dari sana. ”Tidak ada yang bisa menolong kita selain Allah.”ujar laki-laki pertama, kepada dua orang kawannya.

”Ya, sungguh betul ucapanmu.”timpal laki-laki kedua.”Dalam keadaan seperti ini tak ada yang sanggup menolong kita kecuali Allah. Tinggal doa saja yang mungkin sebagai harapan.”

Laki-laki pertama menjatuhkan tubuhnya di lantai gua, saat laki-laki kedua mengepalkan tangan dan memukulkannya ke tembok gua.  ”Ya. Sungguh tiada mungkin yang dapat menyelamatkan kita dari bahaya ini, kecuali bila kita berdoa kepada Allah !”ucap laki-laki ketiga, yang kebetulan duduk paling dekat dengan mulut gua, berusaha membangkitkan harapan yang lain.

Tanpa menunggu waktu lama, mendengar ucapan kawannya, laki-laki pertama, laki-laki yang tampak paling gelisah diantara ketiga musafir lantas menekur dan berdoa. ”Ya Allah, hamba memiliki orangtua yang telah renta. Sudah menjadi kebiasaan hamba, memberikan susu yang segar kepada mereka, sebelum hamba memberikannya pada istri, anak dan budak hamba...”ucapnya terbata-bata.

Sejenak menarik nafas, laki-laki itu kembali berdoa,”Satu hari hamba berjalan jauh demi mencari kayu bakar dan mencari nafkah, sehingga pulang ketika hari telah larut malam. Hamba dapati kedua orangtua hamba sudah tertidur pulas. Hambapun lalu memerah susu sebagaimana kebiasaan hamba. Selesai memerah susu, hamba mendatangi keduanya, namun keduanyapun masih tertidur pulas.”

“Yaa Rabb, hamba menunggu dan menunggu sampai keduanya terbangun. Pagi hari ketika orangtua hamba terjaga, segera hamba berikan susu yang hamba perah pada keduanya, padahal semalaman anak hamba merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini sampai menarik-narik kaki hamba. Yaa Allah, seandainya perbuatan ini adalah karena mengharap keridhoan-Mu, maka singkirkanlah batu yang menyumbat mulut gua ini.”lirih laki-laki pertama memohon, saat mengakhiri munajatnya.

Suasana hening sejenak. Setelah itu terdengar bunyi derak, pertanda batu besar di mulut gua telah bergeser dari tempatnya. Secercah sinar kecil menembus dari balik mulut gua. Ketiga musafir terkesima memandang sinar kecil, yang menyeruak masuk menembus sampai ke tembok gua. Sinar dengan ukuran sebesar jari telunjuk itu kembali membangkitkan harapan mereka.

Melihat hal tersebut, laki-laki kedua lantas melanjutkan upaya yang telah diawali oleh kawannya tadi. Tak berbeda dengan kawannya, ia pun mengerahkan segenap perasaannya, demi terkabulnya munajat yang ia sampaikan.

”Yaa Allah, saya mempunyai sepupu yang teramat saya cintai. Saya sangat mencintainya sebagaimana seorang laki-laki mencintai seorang perempuan. Saya ingin sekali bermesraan dengannya, namun dia selalu menolak. Beberapa waktu kemudian, ia datang memohon bantuan padaku, sedang saya bersedia memberikan seratus dua puluh dinar harta saya, dengan syarat ia mau menyerahkan dirinya, kapanpun saya menginginkannya.”

Laki-laki kedua menangis, tak mampu menahan perasaannya. Kedua temannya berharap-harap cemas, dengan jantung berdegup kencang dan nafas tertahan.

”Yaa Rabb, saat perut saya telah berada diantara  kedua kakinya, sepupu perempuan saya mencegah saya untuk berbuat zina terhadapnya. Ia bilang : ”Takutlah kamu kepada Allah. Janganlah kamu merenggut kehormatanku kecuali dengan jalan yang benar.”

"Mendengar keluhannya, sayapun segera pergi dan merelakan emas yang telah saya berikan. Padahal, yaa Rabb, sesungguhnya aku sangat menginginkan dan mencintainya. Yaa Allah, jika saya melakukan itu sebab mengharapkan ridho-Mu, maka singkirkanlah batu besar yang menutupi mulut gua ini.”

Terdengar lagi bunyi derak. Ketiga laki-laki yang terjebak dalam gua itupun tak sabar ingin melihat hasil daripada doa yang diucapkan kawannya. Rasanya makin tebal harapan mereka, tatkala mereka menyaksikan celah kecil yang tadi terkuak, telah terbuka lebih lebar dari sebelumnya.

Dua laki-laki yang telah ber-wasilah sebelumnya, mengalihkan pandangan kepada laki-laki ketiga, yang masih terpana menyaksikan celah kecil yang kini telah terkuak sedikit lebar.  

Ketika matanya bersitatap dengan mata kawan-kawannya, laki-laki itupun makin optimis doanya akan dikabulkan Allah, dan celah kecil yang kini terkuak sedikit lebar itu akan semakin terbuka, sehingga mereka bertiga dapat keluar dari gua yang gelap pekat itu. 

Setelah mengucapkan asma Allah dengan khusyuk, tulus, dari dalam lubuk hatinya, laki-laki ketigapun mulai bermunajat.

”Yaa Allah, aku telah mempekerjakan beberapa orang dan memberikan upah yang sempurna kepada mereka. Namun, ada seorang pekerja yang meninggalkan begitu saja upahnya, dan lama ia tak kembali untuk menagih upahnya. Selama ia tak menagih upahnya, kukembangkan upahnya itu kedalam beberapa usaha. Usaha yang aku awali dari upahnya itu kemudian berkembang demikian pesat.”

Selang beberapa tahun kemudian, pekerja yang pergi tanpa pesan itu datang untuk menagih upahnya. ”Wahai tuan, aku meminta upah pekerjaanku yang dulu.”kata sang pekerja.

Walaupun sikap pekerja yang datang menagih upah itu agak sedikit kasar, laki-laki ketiga melayaninya dengan santun.”Silahkan, semua yang kamu lihat, unta, sapi, kambing atau budak yang sedang menggembalakannya, semua itu adalah upahmu.”jawab laki-laki ketiga sambil menunjuk hewan gembalaan dan penggembalanya, yang sedang berkumpul di sekitar tempat itu. 

Mata pekerja penagih upah-pun terbelalak,”Wahai hamba Allah, janganlah kamu mempermainkan aku !”

”Aku tidak mempermainkanmu. Sesungguhnya upahmu dulu telah berkembang menjadi seperti ini.”jawab laki-laki ke-tiga, untuk meyakinkan pekerja yang menagih upah kepadanya itu.

Laki-laki bertubuh tinggi semakin khusyuk berdoa. Demikian dalam ia menghayati doanya, semakin besar dan yakin bahwasanya, Allah akan mengabulkan permohonannya. ”Yaa Allah, kemudian pekerja yang menagih upah itupun mengambil semua peliharaan yang kutunjuk, tanpa meninggalkan satupun dari hewan-hewan itu. Seandainya hal itu kulakukan sebab mengharapkan ridho-Mu, maka singkirkanlah batu yang menutup mulut gua ini.”

Usai munajat laki-laki bertubuh tinggi, terdengar bunyi derak yang lebih keras daripada sebelumnya, pertanda batu besar penutup mulut gua itu tengah bergeser dari tempatnya.  Ketika cahaya dan udara dari luar berhamburan masuk kedalam gua itu, ketiga laki-laki itupun bersegera meninggalkan gua dimana mereka terjebak beberapa lama. Alangkah leganya mereka, bisa keluar dari dalam gua itu, berkat doa dan wasilah yang mereka panjatkan dengan penuh segenap takut dan harap.

Uswah dari Abdullah Bin Umar

Abdullah bin Umar r.a., adalah putra Sayyidina Umar bin Khatthab r.a., yang mendengar langsung cerita di atas dari lisan mulia, Nabi SAW. Disebabkan oleh persaudaraannya dengan Hafsah, isteri Nabi SAW, Ibnu Umar dapat bergaul lebih erat dengan sang junjungan alam.

Meski terikat tali kekeluargaan, yang memungkinkan beliau dapat lebih bebas bertanya dan belajar dari Nabi SAW, namun Ibnu Umar selalu berusaha menghadiri majelis-majelis ilmu untuk umum dimana sang habibullah biasa menyampaikan risalah-risalahnya.

Sebagaimana amanat cerita Nabi SAW dalam kisahnya di atas, yaitu makbulnya doa sebab bakti pada orangtua, meninggalkan zina dan bersikap amanat lagi qanaah, Abdullah bin Umar r.a. dikenal sebagai anak yang berbakti pada orangtua, pemuda yang kuat memegang kehormatan dan keluhuran akhlak, serta senantiasa memegang apa yang diamanatkan dan merasa cukup atas apa yang ada pada dirinya.

Dalam menjalankan salah satu amanat dari cerita di atas, yaitu berbakti kepada orangtua, ada sebuah cerita masyhur tentang Ibnu Umar.  Dalam kisah tersebut dipaparkan, bahwa pernah dalam perjalanan menuju Makkah al-Mukarramah, Ibnu Umar berpapasan dengan seorang Arab Badui. Beliau mengucapkan salam kepada Badui tersebut, lalu menaikkan laki-laki berpakaian sederhana dari suku pedalaman Arab itu keatas keledai. Sesampainya di kota suci, Ibnu Umar menghadiahi orang tersebut sorban, sambil berkata,”Semoga Allah lekas menyelesaikan hajatmu.”

Beberapa orang kenalan Ibnu Umar tampak begitu heran, menyaksikan begitu ramah dan santunnya beliau kepada orang Badui tadi. Untuk menuntaskan keheranan para kenalannya tersebut, beliau menjelaskan,”Sesungguhnya ayah orang ini adalah sahabat karib bapakku, Umar. Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya termasuk kebaikan seseorang adalah menyambung tali silaturrahim kepada teman-teman ayahnya.”

Disamping kisah yang mencerminkan kualitas birrul walidayn (bakti kepada orangtua), Abdullah bin Umar dikenal sebagai pemuda yang senantiasa menjaga kehormatan diri. Jangankan berbuat zina, beliau bahkan pernah hendak memutuskan syahwat-nya dengan melakukan kebiri, demi kekhusyukan ibadahnya selama hidup kepada Allah SWT. Hanya saja, Nabi SAW melarang beliau dan sahabat-sahabat lain yang hendak melakukan tersebut, mengingat pemutusan syahwat adalah melanggar fitrah dan memutuskan keturunan.

Sifat amanat dan qanaah-nya Ibnu Umar, sebagaimana sifat laki-laki ketiga yang didatangi buruh penagih upah dalam kisah diatas, terbersit dari penolakannya atas pembai’atan dirinya menjadi khalifah, pasca mangkatnya Khalifah Utsman bin ’Affan r.a.

Ketika terjadi kemelut, siapa yang bakal menjadi pemimpin umat Islam setelah terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan sehingga darah kaum muslimin tumpah di jazirah Arab, Ibnu Umar memilih untuk ber-uzlah. Padahal banyak kalangan umat Islam mengharapkan kesanggupannya untuk dibaiat, sampai-sampai ada seseorang yang menghardiknya,”Tidak seorangpun yang lebih buruk perlakuannya kepada hamba Allah selain kamu !”

Tersentak dada Ibnu Umar, demi mendengar hardikan orang itu."Apa yang aku lakukan sehingga engkau sampai berkata demikian ?"bertanya beliau kepada si penghardik.  ”Maka ulurkan tanganmu, wahai Ibnu Umar, agar kami dapat memberikan bai’at. Sesungguhnya engkau pantas menjadi pemimpin kami dan kaupun adalah seorang keturunan khalifah."

"Bagi mereka yang setuju, tentu bukan suatu masalah. Sedang bagi orang-orang musyrik dan kelompok lain yang tidak menyetujui, bagaimana sikapku terhadap mereka ?"

Mendengar pertanyaan dan sikap Ibnu Umar yang tampak mulai mengendur, sang penghardik tadi berkata dengan lantang,”Kita akan memerangi mereka sampai mereka mau memberikan bai’at kepadamu !"  

Putra salah seorang sahabat Nabi SAW, yang dikenal kukuh dan tegas, Umar bin Khatthab r.a. ini, berkata dengan mantap,”Bila harus terjadi pertumpahan darah, maka lebih baik aku tidak menjadi siapa-siapa !” . 

Dengan tegas Ibnu Umar memilih untuk tidak ikut masuk dalam lingkaran pertikaian. Lagi pula, dalam pertimbangannya, yang bertikai bukan semata sahabat-sahabatnya saja, melainkan masih sesama saudara-saudaranya sendiri. Baik karena terikat tali kekeluargaan maupun karena aqidahnya, sebagai sesama umat Islam.

Itulah sekelumit uswah dari sosok Abdullah bin Umar, yang terinspirasi dari kisah yang beliau dengarkan sendiri dari Nabi SAW, perihal amal-amal utama yang dapat menolong seorang mukmin tatkala dihimpit kesulitan besar. (Kisah diilhami oleh hadits no.13 dalam Terjemah Riyadush-Shalihinbab Ikhlas dan Niat dalam Segala Perilaku Kehidupan) [**]

**Oleh:  A Eddy Adriansyah
Penulis adalah pembelajar dan keluarga besar Pesantren PERSIS 110 Manba'ul Huda. Tinggal di Portsmouth, Inggris.


You may also like