Willfridus Demetrius Siga, S.S., M.Pd
GENIAL.ID, Opini - Ancaman Covid-19 sejak awal pandemi menyerang hampir semua lembaga pendidikan, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini sampai jenjang Pergurun Tinggi. Situasi pandemi ini mengharuskan institusi pendidikan menjaga agar semua staf dan peserta didik tetap aman selama masa krisis sampai menerimanya sebagai sebuah kenormalan baru.

Berbagai analisis risiko dilontarkan; prioritas kesehatan peserta didik, penerimaan peserta didik baru yang sudah berjalan, kesiapan stakeholder serta sarana dan prasarana pendukung. Semua analisis ini sangat memperhitungkan faktor kesehatan, efisiensi, dan efektivitas. Kondisi kenormalan baru ini pun menjadi persoalan bagi dunia pendidikan.

Sebagian besar aktvitas belajar mengajar selama krisis pandemi Covid-19 menerapkan model emergency remote teaching and online learning (https://er.educause.edu). Anggap saja seperti memberi ‘bantuan’ selama masa tanggap darurat sambil berharap untuk kembali ke ruang kelas. Konsekuensinya, tarik ulur kebijakan soal kapan memulai tahun ajaran baru, metode dan idealisme pendidikan menempatkan kita pada kondisi tidak siap untuk masuk dalam ruang kenormalan baru pendidikan.

Ada dua pilihan yang kemudian sering muncul ke permukaan, pertama, tetap memulai aktivitas belajar mengajar dengan protokol kesehatan yang ketat. Kedua, menunggu sampai virus ini benar-benar lenyap sambil menerima kenyataan bahwa virus corona tidak akan hilang meskipun ada vaksin. Merujuk dari dua pilihan di atas, ada beberapa tinjauan kritis yang perlu menjadi pertimbangan.
 
Berawal Dari Ketidaksiapan

Model pendidikan kita yang  masih konvensional berpindah ke ruang virtual terjadi begitu cepat dan mengejutkan. Ketidaksiapan kita menjadi bukti bahwa kita tidak memiliki desain proses belajar mengajar ketika terjadi krisis global. Memindahkan semua instruksi dan tutorial secara verbal ke dalam instruksi digital (online) sepertinya belum pernah terjadi apalagi dilakukan secara massal. Sebagian besar lembaga pendidikan tidak siap dengan situasi ini, bahkan ada stigma bahwa proses belajaran mengajar secara daring memiliki banyak kelemahan ketimbang metode tatap muka. Beberapa lembaga pendidikan mulai tergoda untuk membandingkan pembelajaran daring dengan cara tatap muka tradisional.

Kondisi di atas oleh Neil Postman (1995) menyebutnya sebagai problem metafisik. Ruang virtual mungkin hanya berlaku untuk keterampilan mekanis. Namun untuk menjadi seorang pribadi yang berbeda karena suatu hal yang telah dipelajari merupakan keterampilan yang berbeda secara teknis. Kemampuan dalam menyampaikan wawasan, konsep, cara pandang, dan menanamkan sebuah pembiasaan baik berbeda dengan mengajarkan orang untuk mengoperasikan sebuah komputer atau mesin.

Dengan demikian, motivasi pendidikan dan peserta didik menjadi penting di sini. Artinya, ketika ruang kelas dipindahkan ke dalam ruang virtual tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa Anda tidak nyaman, tidak siap, lebih baik ke sekolah/kampus, mendengarkan guru/dosen secara langsung, mengerjakan ujian di atas kertas, harus mengerjakan setumpuk pekerjaan rumah, walaupun pada saat itu Anda sungguh merasa tidak memiliki motivasi.

Tarik ulur perihal idealisme pendidikan, menyiratkan kerinduan untuk kembali ke ruang kelas. Kita masih sangat yakin bahwa proses belajar mengajar hanya bisa tecapai melalui tindakan dan kompetensi antara pengetahuan dan pengalaman real. Pembelajaran sebagai proses sosial dan kognitif, bukan hanya masalah transmisi informasi. Pengalaman belajar belum dapat tergantikan oleh teknologi manapun. Ketidaksiapan pendidikan kita bisa jadi juga dikarenakan oleh cara berpikir kita yang hanya melihat krisis pandemi ini sebatas sebuah bencana global tanpa memperhitungkan kesiapan kita terhadap risiko jangka panjang yang ditimbulkannya.
 
Disrupsi Pendidikan

Christensen sejak tahun 1995 dalam Havard Bussines Review (Bower dan Christensen, 1995) dan dipublikasikan dalam buku The Innovator’s Dillema (Christensen,1997) telah memperkenalkan istilah disruption atau disruption innovation. Istilah ini lantas menjadi semakin populer di era dominasi digital sejak munculnya fasilitas online.

Inovasi teknologi menawarkan efisiensi, simplisitas, dan kenyamanan. Teknologi dapat membuat kita belajar bisa dari mana saja dan kapan saja. Dengan demikian, inovasi pendidikan kita seharusnya didesain untuk lingkungan belajar yang fleksibel, inklusif, dan berpusat pada peserta didik. Salah satu kunci kesuksesannya adalah semua peserta didik dipastikan dapat mengakses dan belajar secara daring.

Teknologi yang dalam hal ini diwakili oleh internet menjadi semacam mesin prediksi, mencegah kita bersentuhan dengan pengalaman, dan menciptakan semesta informasi yang unik. Strategi inilah yang digunakan oleh google dan zoom meeting untuk memberikan fasilitas belajar mengajar secara daring. Lee Mcintyre (2018) menyebut, media digital menempatkan kita dalam sebuah echo chamber (ruang gema) yang sejatinya tidak membentuk apapun tentang diri kita. Ia menciptakan keadaan di mana fakta-fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik daripada pertimbangan emosional dan keyakinan personal.

Pengalaman interaksi langsung dengan manusia, digantikan dengan media, rekaman, ataupun simulasi dunia virtual yang selalu menawarkan banyak pilihan informasi. Mekanisme virtual dinilai miskin intimitas dan pengalaman personal bahkan menghadirkan ancaman bagi interaksi sosial yang berkualitas. Pendidikan pun terkena dampaknya. Interaksi secara virtual mungkin dirasa sebagai sebuah hal yang tidak biasa dengan berbagai macam alasan, merasa tidak nyaman di depan kamera, tidak paham mengoperasikannya, royal kuota, atau mungkin ada lembaga pendidikan berpikiran bahwa di rumah orang tua bisa mejelaskan semua materi kepada anaknya.

Efektivitas dan efiesiensi menjadi alasan semu. Banyak orang tua cenderung menyukai gagasan sekolah sebagai “lembaga keterampilan” untuk meraih pekerjaa di masa depan. Maka tidak heran, anak dijejali segala macam ilmu dengan keyakinan bahwa otak mampu mengartikulasikannya dalam berbagai kemampuan untuk bertahan hidup. Apabila hakikat pendidikan hanya berhenti sebagai "lembaga keterampilan", maka sekolah/kampus tidak lebih dari sebuah penjara, jauh dari idealismenya sebagai rumah yang memberi kenyamanan.
 
Teknologi untuk Pendidikan yang Humanistik

Kebanyakan dari kita berasumsi bahwa perubahan teknologi yang cepat dalam dunia kerja membutuhkan orang-orang yang bisa beradaptasi dan berubah. Kenyataan ini bukan berarti membuat kita latah dalam proses pendidikan yaitu bahwa mereka yang berilmu, memiliki kompetensi, dan mampu menguasai dunia adalah mereka yang akan sukses dalam hidupnya. Asumsi seperti ini bisa saja keliru karena teknologi belum mampu membuat orang beradaptasi, memiliki keterbukaan, mampu menerima keberagaman, memiliki rasa solidaritas, dan kebijaksanaan dalam hidup. Apa yang tidak tersentuh oleh teknologi harus tetap dilakukan dengan mendekatan ilmiah yang bernuansa humanistik.

Teknologi bekerja secara misterius dan tentunya mengarahkan orang pada tujuan-tujuan yang baru. Suka atau tidak, lembaga pendidikan harus mengakomodir teknologi. Kita tidak bisa lepas dari teknologi, kita hanya memiliki kemampuan untuk membuat pilihan atas teknologi itu sendiri. Tarik ulur soal the new normal idealisme pendidikan menyiratkan beberapa pertanyaan mendasar, apakah kita bosan dengan dunia virtual (daring) atau mungkin kita sedang ‘dipaksa’ untuk merasa bosan dengan dunia nyata?

Apakah pemanfaatan teknologi digital akan mampu memberi solusi bagi persoalan dunia nyata? Kita sedang dalam posisi tawar menawar dengan realitas. Memanfaatkan teknologi sebagai media tanpa harus merasa bergantung penuh terhadapnya.
Lembaga pendidikan tetap ikut bertanggung jawab pada kecerdasan sikap peserta didik antara lain tanggung jawab, kerja sama, disiplin, kesetiakawanan, sabar, jujur, adil, dan demokratis.

Lembaga pendidikan harus tetap menjadi tempat bagi setiap individu untuk belajar meletakkan kebutuhan individu di bawah kepentingan kelompok (universal). Itulah alasan kenapa kehadiran di kelas (tatap muka) antara pendidik dan peserta didik tetap dianggap relevan. Postman menyebutnya sebagai making civilized people.

Sekolah memang tidak dapat menyelesaikan semua persoalan hidup, namun sekolah bisa merespon persoalan itu karena ada pendidik (guru/dosen) yang tidak hanya mengajarkan peserta didik tentang cara membaca, menulis, dan berhitung, tetapi mereka juga mampu memahami kegelisahan, tekanan, kebingungan, keputusasaan seorang peserta didik.

Tujuan pendidikan bukan hanya memperoleh pengetahuan, terbelenggu oleh sistem, tetapi lebih daripada itu tujuan pendidikan adalah menawarkan kiat untuk memanfaatkan pengetahuan demi menstrasformasi peradaban, paling tidak mampu mengubah sejarah hidup pribadi. Bercermin dari beberapa perspektif di atas, maka idealisme pendidikan bukan lagi menjadi persoalan tarik ulur kepentingan, kekuatiran yang berlebihan, apalagi ketidakmampuan untuk mengubah metode dan pola pikir.

Jika ini yang terjadi, maka bersiaplah karena kita sedang mengarah pada kematian idealisme pendidikan yang hanya berkutat pada cara memencet tombol, merakit sirkuit, dan memecahkan algoritma. Matinya idealisme pendidikan, artinya kita mati sebagai manusia (humanism), mati sebagai warga negara (nationalism), dan mati sebagai cendekiawan (intellectualism). (*)

*) Willfridus Demetrius Siga, S.S., M.Pd
(Dosen Fakultas Filsafat – Lembaga Pengembangan Humaniora - Universitas Katolik Parahyangan Bandung)
willy_d@unpar.ac.id


You may also like