Apridhon Rusadi (Peneliti Sindikasi Indonesia Maju ) 
Genial - Sebuah kemerdekan pembelajaran di kampus harus dimaknai sebagai sebuah pembaharuan metodologi pendidikan.  Metodologi ini diharapkan membawa dampak kepada upaya pemecahan masalah yang dihadapi sebuah kelompok masyarakat pembelajar. Sebagaimana Santoso S Hamidjojo seperti dikutip Abdulhak (2002) menyatakan bahwa inovasi pendidikan sebagai, “Suatu perubahan yang baru dan secara kualitatif berbeda dari hal (yang ada) sebelumnya dan sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan tertentu, termasuk dalam bidang pendidikan”.

Untuk mencapai tujuan  pendidikan sebagai solusi menuju perubahan dan pemecahan dari persolan masyarakat, memang selayaknya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim meluncurkan kebijakan “Kampus Merdeka” yang diharapkan juga menjadi kemerdekaan pembelajaran bagi peserta didik. Sebagaimana disampaikan Mendikbud dalam Rapat Koordinasi Nasional Kemenristek/Badan Riset Inovasi Nasional pada Rabu-Kamis, 29-30 Januari 2020 bertempat di Puspiptek mengatakan, kebijakan Kampus Merdeka menjadi jawaban agar inovasi  dan penelitian bisa tumbuh dalam ekosistem yang saling mendukung. Nadiem optimis kebijakan ini menjembatani peluang yang lebih luas bagi mahasiswa dan perguruan tinggi untuk terlibat di bidang penelitian dan teknologi.

Kebijakan Kampus Merdeka ini juga harus sejalan dengan kemerdekaan belajar mahasiswa, sehingga kampus semestinya mendorong pembelajaran di perguruan tinggi yang semakin otonom dan fleksibel. Sehingga paradigma pembelajaran akan lebih inovatif.

Hari ini pendidikan kretatif dan inovatif telah menjadi trend dunia karena Indonesia telah memasuki era distrupsi teknologi. Sehingga paradigma lembaga pendidikan lebih diarahkan pada pengembangan ilmu pengetahuan, melatih kemampuan dan keahlian, dan menanamkan sikap modern para individu yang diperlukan dalam proses pembangunan.

Memposisikan riset menjadi bagian dari tridarma perguruan tinggi, sehingga sejalan dengan pokok-pokok pikiran lahirnya kampus merdeka yang ingin memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk meningkatkan kualitasnya dengan demokratisasi penelitian dan menguji hasil penelitiannya, sehingga hari ini dengan bergabungnya Kemendikbud dan Kemenristekdikti bisa menjadi harapan capaian universitas kelas dunia dengan metodologi pendidikan berbasis riset ilmiah.

Ada sesuatu yang menarik dalam pengelolaan perguruan tinggi akan datang, perguruan tinggi akan dituntut berlomba-lomba mengejar pengakuan bidang akademik internasional, karena sebuah pencapaian tertinggi dengan akriditasi A harus juga diakui oleh lembaga akreditasi internasional.

Tujuan utama dari inovasi adalah berusaha meningkatkan kemampuan, dari sumber-sumber tenaga, uang, sarana-prasarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi. Jadi keseluruhan sistem perlu ditingkatkan agar semua tujuan yang telah direncanakan dapat dicapai dengan sebaik-baiknya (Hasbullah, 2001 : 189).

Sudah banyak inovasi yang telah dilakukan dalam bidang pendidikan sampai saat ini, seperti cara belajar siswa aktif (CBSA), Guru Pamong, Sekolah Persiapan Pembangunan, Guru Pamong, Sekolah Kecil, dll. Kita percaya bahwa inovasi dan terobosan-terobosan dalam dunia pendidikan yang dilakukan oleh lembaga negara sesungguhnya sepenuhnya adalah untuk mempersiapkan generasi bangsa yang siap berperan di zamannya.

Pendidikan perguruan tinggi ke depan sangat diharapkan sekali tidak hanya menekankan nilai sebagai indeks prestasi komulatif (IPK) akan tetapi juga menjadikan indeks inovasi komulatif sebagai bagian dari output pendidikan itu sendiri.  Sehingga yang dihasilkan bukan hanya masyarakat yang mampu menilai, akan tetapi juga melahirkan masyarakat yang bekerja memberikan solusi terhadap berbagai persoalan kebangsaan. [*]

 

*Apridhon Rusadi

 Penulis adalah Peneliti Sindikasi Indonesia Maju

You may also like