Nabil Syuja Faozan
GENIAL.ID, Tafkir -  Sejak kecil, kita pasti pernah mendengar berbagai macam cerita atau kisah para Nabi dan Rasul yang memiliki karakter kebaikan untuk kita teladani. Yang memiliki berbagai macam mukjizat yang diberikan oleh Allah SWT. Mulai dari Nabi Adam sebagai manusia pertama di muka bumi hingga Nabi Muhammad sebagai khatamun-anbiyya atau penutup para nabi.

Salah satu kisah Nabi dan Rasul yang memiliki makna mendalam dan dapat kita teladani adalah kisah Nabi Ismail. Putra dari Nabi Ibrahim ini, dikisahkan bersama ayahnya mengalami berbagai macam ujian dan cobaan yang mengharukan. Salah satunya adalah peristiwa penyembelihan Nabi Ismail yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Pada kisah tersebut, Nabi Ibrahim diuji oleh Allah SWT untuk merelakan putra semata wayangnya disembelih. Dan kisah inilah menjadi asal muasal perintah Allah SWT kepada kaum muslimin untuk melakukan ibadah kurban.

​Saking banyaknya pelajaran yang dapat diambil dari kisah tersebut, Allah SWT mengabadikannya dalam surat As-Saffat ayat 102-109. ”Maka tak kala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” tanpa berfikir panjang Ismail menjawab, ”Wahai ayah, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang orang yang sabar.” (QS As saffat: 102).

Dari percakapan tersebut, Ibrahim dan Ismail bersepakat untuk sama-sama berkurban. Ibrahim mengurbankan putra yang telah lama dinantikannya dan Ismail mengurbankan hidupnya.

Ada beberapa nilai kebaikan dari kisah tersebut yang dapat kita teladani sebagai kaum milenial, apa saja?  Pertama adalah aspek keimanan kepada Allah SWT. Ismail merupakan anak yang telah didamba-dambakan kelahirannya oleh Nabi Ibrahim akan tetapi, Nabi Ibrahim rela agar putranya tersebut disembelih atas perintah Allah SWT. Hal ini menggambarkan bahwa Nabi Ibrahim dengan putranya Ismail meletakan kecintaannya kepada Allah melebihi cintanya kepada apapun.

Selanjutnya adalah aspek kemanusian, kisah tersebut mengajarkan kepada kita harus rela mengkurbankan segala sesuatu yang kita miliki baik berupa harta, tahta maupun popularitas. Karena setiap yang dikurbankan dan disedekahkan itu akan menjadi amalan yang abadi di sisi Allah SWT. 

Kemudian, peristiwa kurban juga mengajarkan kepada kita untuk menyembelih sifat-sifat kebinatangan seperti serakah,egois dan menyakiti manusia. Maka, melalui peristiwa ini Allah SWT ingin menjadikan kurban sebagai momentum kepada kita untuk menyembelih sifat-sifat kebinatangan tersebut.  Karena jika tidak menghilangkannya, sifat-sifat tersebut mampu mengganggu hubungan kita sebagai sesama manusia.

Yang terakhir adalah aspek lingkungan, dari kurban kita belajar bahwa pentingnya menjaga hubungan baik dengan hewan, tumbuhan dan segala sesuatu yang ada lingkungan kita. Sebab dari kurban kita belajar bagaimana hewan kurban harus diperlakukan dengan baik. Tidak boleh sakiti bahkan ditakut-takuti.

Maka dari itu, kita sebagai kaum milenial harus mampu meneladani Nabi Ibrahim dan putranya Ismail. Ibadah kurban juga menjadi pelatuk buat kita untuk memperbaiki diri dan memperbaiki hubungan kepada Allah dan makhluk-Nya. Wallahu’alam [*]

*Oleh: Nabil Syuja Faozan
Alumni Mahad Darul Arqam Muhammadiyah dan Sekretaris PD IPM Garut


You may also like