Diah Purwitasari
GENIAL.ID, Opini - Pandemi Covid-19 yang menyerang secara global hingga saat ini belum berakhir. Kita  tidak tahu sampai kapan virus ini akan berhenti menyebar. Pembelajaran jarak jauh  (PJJ) bagi para siswa dan mahasiswa yang mulai diterapkan sejak Maret 2020 lalu hingga kini masih dilakukan. Para siswa dan mahasiswa tetap belajar dari rumah untuk menghindari penyebaran virus yang makin meluas.

Saat ini telah dilakukan penyesuaian pada Surat Keputusan Bersama dari 4 Menteri mengenai Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran selama masa pandemi. Berdasarkan aturan terbaru, sekolah di kawasan zona kuning dan hijau dapat kembali melakukan pembelajaran tatap muka. Hal ini meningkatkan kekhawatiran terhadap akan timbulnya klaster baru penularan virus.

Namun di lain pihak pengambilan keputusan ini merupakan bentuk kesadaran pemerintah akan banyaknya aspirasi masyarakat terkait kendala dan dampak negatif dari PJJ. Banyak satuan pendidikan di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar ) sangat kesulitan untuk melaksanakan PJJ dikarenakan minimnya akses. Saat ini 88 % dari keseluruhan  daerah 3 T berada di zona kuning dan hijau. Adanya penyesuaian SKB 4 menteri ini, maka satuan pendidikan yang siap dan ingin melaksanakan pembelajaran tatap muka memiliki opsi untuk melaksanakannya secara bertahap dengan protokol kesehatan yang ketat.

Kewenangan penyelenggaraan pembelajaran tatap muka ada di tingkat daerah. Selain itu kepala sekolah harus mengisi daftar periksa pencegahan Covid-19 dan diverifikasi oleh Satgas Penanganan Covid-19 dan Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota setempat. Jadi kekhawatiran terhadap munculnya klaster baru sebagai dampak dari dibukanya pembelajaran tatap muka di daerah zona kuning dan hijau bisa diminimalisir.

Selain persetujuan Dinas Pendidikan Daerah dan kepala sekolah, persetujuan dari komite sekolah dan orang tua juga menjadi syarat mutlak untuk anak kembali pergi ke sekolah. Anak berhak untuk tetap melakukan pembelajaran jarak jauh apabila orang tua tidak mengijinkan dan belum merasa aman untuk anaknya. Bagi sekolah dan perguruan tinggi di wilayah zona orange dan merah, pembelajaran jauh harus tetap dilakukan. Bersamaan dengan dikeluarkannya penyesuaian SKB 4 menteri, Kemendikbud juga mengeluarkan kurikulum khusus untuk pembelajaran di masa darurat.

Kemendikbud telah menerbitkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus. Satuan Pendidikan dalam kondisi khusus dapat menggunakan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran peserta didik. Kurikulum tersebut memberikan fleksibilitas bagi sekolah untuk memilih kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran siswa. Satuan pendidikan pada kondisi khusus dalam pelaksanaan pembelajaran dapat tetap mengacu pada kurikulum nasional, menggunakan kurikulum darurat atau melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri.

Kurikulum darurat (dalam kondisi khusus) yang disiapkan oleh Kemendikbud merupakan penyederhanaan dari kurikulum nasional. Pada kurikulum tersebut dilakukan pengurangan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran sehingga guru dan siswa dapat berfokus pada kompetensi esensial dan kompetensi prasyarat untuk kelanjutan pembelajaran di tingkat selanjutnya.

Mengutip dari laman www.suteki.co.id ada dampak positif dari PJJ  yang selama ini diterapkan, antara lain : Pertama, Memicu Percepatan Transformasi Pendidikan. Sistem PJJ yang berbasis teknologi tentu mengharuskan lembaga pendidikan, guru, siswa bahkan orang tua agar cakap teknologi. Hal ini memicu percepatan transformasi teknologi pendidikan di negeri ini. Ini tentu berdampak positif karena penggunaan teknologi dalam pendidikan selaras dengan era Revolusi Industri 4.0 yang terus merangsek maju.

Kedua, Banyak Munculnya Aplikasi Belajar Online. Percepatan transformasi teknologi pendidikan karena pandemi Corona membuat berbagai platform meluncurkan berbagai aplikasi belajar online guna mendukung PJJ. Banyak munculnya aplikasi belajar online membuat belajar #DariRumahAja tetap dapat dilakukan dengan efektif. Aplikasi-aplikasi belajar online dikembangkan dengan penyediaan fitur-fitur yang memudahkan dalam melakoni belajar online.

Ketiga, Banyaknya Kursus Online Gratis. Banyak lembaga bimbingan belajar memberikan kursus online gratis atau ada yang memberikan dengan potongan harga. Keempat, Munculnya kreatifitas tanpa batas Pandemi Corona membuat ide-ide baru bermunculan. Para ilmuwan, peneliti, dosen bahkan mahasiswa berupaya melakukan eksperimen untuk menemukan vaksi Covid-19. Seperti yang dilakukan oleh alumni UGM yang membantu mengatasi kekurangan masker dengan membuat masker yang bisa dicuci ulang. Tidak hanya itu, kreativitas lain yang juga tidak kalah menarik, seperti mahasiswa Rumah Bahasa UI yang menjadi relawan Covid-19 dan membantu mengedukasi masyarakat.

Keempat, Kolaborasi Orang Tua dan Guru. Selama masa pandemi ini, peserta didik tentu akan menghabiskan waktu belajar di rumah. Di mana ini menuntut adanya kolaborasi yang inovatif antara orang tua dan guru sehingga peserta didik tetap bisa menjalani belajar online dengan efektif. Selain itu, kolaborasi yang inovatif dapat mengatasi berbagai keluhan selama menjalani belajar online. Ini akan memberikan dampak positif bagi dunia pendidikan baik di masa kini maupun masa mendatang.

Kelima, Penerapan Ilmu di Tengah Keluarga. Saat semua sekolah ditutup dan #BelajarDariRumah, menjadi kesempatan bagi peserta didik untuk menerapkan ilmu di tengah keluarga. Baik hanya sekedar membuka diskusi kecil atau dengan mengajarkan ilmu yang diperoleh kepada keluarga. Ini berperan penting dalam meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap suatu ilmu dengan cara aplikasi secara langsung. Ilmu yang diaplikasikan secara langsung akan memberikan pengaruh tidak hanya pada yang mengaplikasikan namun juga bagi yang menerima pengaplikasian.

Keenam, Membangun Mental Positif. Dr.Ibrahim Elfiky (Maestro Motivator Muslim Dunia) dalam bukunya yang berjudul “Terapi Berpikir Positif” mengatakan bahwa untuk melakukan perubahan positif dalam hidup, maka mulailah dengan Tawakal kepada Allah. Dengan begitu, kita akan mendapatkan kekuatan spritual untuk melakukan perubahan. Setelah itu ganti pikiran kita dengan pikiran positif, ini akan berpengaruh terhadap kondisi jiwa.

Dalam Energy Medicine, Dr. Herbert Spencer dari Universitas Harvard mengatakan bahwa lebih dari 90% penyakit tubuh disebabkan oleh jiwa. Ini disebut dengan Psycho-Somatic Disease. Artinya, jiwa (psycho) berpikir dan memengaruhi tubuh (somo). Jadi kita memiliki tantangan untuk tidak memberikan ruang bagi mental negatif berkembang. Sebaliknya, kita harus membangun mental positif agar Covid-19 tak dapat memberikan ancaman sedikitpun. Perilaku membangun mental positif perlu ditanamkan kepada anak-anak dan generasi muda sejak dini.

Mendikbud, Nadiem Makarim berharap kerjasama semua pihak dapat terus dilakukan. Orang tua diharapkan dapat aktif berpartisipasi dalam kegiatan proses belajar mengajar dirumah, guru dapat terus meningkatkan kapasitas untuk melakukan pembelajaran interaktif dan sekolah dapat menfasilitasi kegiatan belajar mengajar dengan metode yang tepat.

Adanya bantuan kuota internet dari pemerintah bekerjasama dengan para penyedia layanan jasa seluler untuk para siswa dan mahasiswa perlu diapresiasi. Para orang tua tidak perlu lagi merasa terbebani oleh biaya kuota disaat sulit akibat pandemi ini. Hanya daerah terpencil yang jauh dari sinyal internet yang kemungkinan masih mengalami kendala dalam pembelajaran jarak jauh ini.

Akan tetapi sebagian besar daerah tersebut merupakan zona kuning dan hijau, sehingga pembelajaran tatap muka bisa dilakukan sesuai ketentuan yang sudah ditetapkan dengan tetap mengikuti syarat protokol kesehatan yang ketat. Dengan adanya penyesuaian pada SKB 4 Menteri diharapkan semua siswa di seluruh Indonesia tetap mendapatkan hak pendidikannya dimasa pandemi ini. Semoga pandemi Covid-19 segera berlalu agar dunia pendidikan dapat berjalan dengan normal kembali. [**]

 

*Oleh: Diah Purwitasari

Penulis merupakan Praktisi Pendidikan dan Alumni Pasca Sarjana UHAMKA Jakarta.

You may also like