Istimewa (Net)
Genial - Virus Corona atau Covid-19 merupakan virus yang sedang menyerang dunia saat ini. Virus ini sudah menyerang ke hampir semua negara di antaranya China, negara-negara Eropa, Amerika, hingga Asia sudah terkena dampaknya. 

Indonesia pun terkena serangan virus ini, bermula dari awal sampai akhir bulan  Maret ini sudah ada seribu lebih orang yang dinyatakan positif Covid-19, seratus lebih diantaranya meninggal dunia.

China merupakan negara pertama yang terdampak virus ini. Ada banyak kabar berita mengenai awal adanya virus ini. Diantaranya ada yang mengatakan bahwa ini merupakan virus yang sudah ditemukan sejak 1960, namun dalam berjalannya waktu virus ini berubah menjadi virus yang ganas dan dapat mengakibatkan kematian. 

Penyebaran Covid-19, diduga memiliki keterkaitan dengan aktivitas sejumlah masyarakat dalam mengkonsumsi satwa liar seperti tikus, kelelawar, curut, karnivora, dan primata. Namun ada yang beranggapan bahwa virus ini dikembangkan oleh manusia sendiri dan ada kaitannya dengan perang dagang antara AS dan China.

Kabar tentang hubungan virus ini dengan perang dagang memang bukan tanpa alasan. China adalah negara eksportir terbesar di dunia. China juga merupakan pusat produksi barang dunia, Apabila China mengalami penurunan produksi maka global supply chain akan terganggu dan dapat mengganggu proses produksi yang membutuhkan bahan baku dari China. 

Dampat krusial Covid-19

Banyak Negara yang sangat bergantung dengan bahan baku dari China terutama bahan baku plastik, bahan baku tekstil, part elektronik, komputer dan furnitur.
Indonesia merupakan salah satu Negara yang terkena dampak perubahan ekonomi China. Indonesia sering melakukan kegiatan impor dari China dan China merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.

Penurunan permintaan bahan mentah dari China seperti batu bara dan kelapa sawit akan mengganggu sektor ekspor di Indonesia yang dapat menyebabkan penurunan harga komoditas dan barang tambang.

Virus Corona juga berdampak pada investasi karena masyarakat akan lebih berhati-hati saat membeli barang maupun berinvestasi. Virus Corona juga memengaruhi proyeksi pasar. Investor bisa menunda investasi karena ketidakjelasan supply chain atau akibat asumsi pasarnya berubah. 

Di bidang investasi, China merupakan salah satu negara yang menanamkan modal ke Indonesia. Selain itu juga dari segi pariwisata sangat terdampak, karena beberapa negara sudah memperketat negara mereka dari turis asing. Bukan hanya tempat wisata, Kabah tempat biasa seorang muslim melakukan Ibadah Umroh pun harus ditutup oleh pihak Arab Saudi karena tidak ingin menambah penyebaran.

Alternatif Lockdown

Untuk mengatasi penyebaran dan dampak dari Covid-19 beberapa Negara membuat kebijakan lockdown. Di dalam kamus Merriam Webster, lockdown artinya mengurung warga atau sebagian warga untuk sementara demi menjaga keamanan. 

Lockdown juga diartikan sebagai tindakan darurat ketika orang-orang dicegah meninggalkan atau memasuki suatu kawasan untuk sementara, demi menghindari bahaya. Sedangkan beberapa negara yang sudah menerapkanya di antaranya yaitu, China. Italia, Prancis, hingga Malaysia.

Lockdown memang merupakan salah satu cara yang tepat untuk menurunkan angka penyebaran virus ini, terbukti China berhasil melakukannya. Kota Wuhan yang merupakan tempat pertama kali diserang oleh virus ini sudah sejak bulan Januari dilockdown dan menurut pengumuman pemerintah China 8 April Kota Wuhan akan kembali dibuka. 

Setelah beberapa bulan akhirnya penyebaran yang terjadi dapat teredam dan dikurangi. Di Indonesia lockdown lebih dikenal dengan istilah karantina kesehatan. Peraturan tentang karantina tertuang dalam UU Nomor 6/2018 tentang Karantinaan Kesehatan. Dalam Pasal 49 ayat 1 disebutkan empat jenis karantina, yaitu Karantina Rumah, Karantina Wilayah, Karantina Rumah Sakit, Pembatasan Sosial Berskala Besar oleh pejabat Karantina Kesehatan. 

Apabila karantina ini dilaksanakan maka setiap warga tidak diperbolehkan keluar rumah tanpa izin. Bahkan bagi mereka yang keluar tanpa izin dapat dikenakan pidana penjara sesuai dengan Pasal 93 UU Kekarantinaan Kesehatan. Meskipun tidak ada yang diperbolehkan keluar rumah, namun pemerintah wajib bertanggung jawab dan memberikan kebutuhan hidup dasar dan makanan untuk masyarakat sesuai dengan Pasal 55 UU Kekarantinaan Kesehatan.

Pemerintah DKI Jakarta sendiri sudah mulai melakukan himbauan untuk melakukan social distancing karena karantina hanya bisa ditetapkan oleh pemerintah pusat. Dari mulai menutup tempat wisata, beberapa event yang mengundang banyak orang dibatalkan hingga memindahkan pembelajaran di sekolah menjadi di rumah.

Cara ini memang cukup efektif, namun belum cukup untuk meredam masyarakat agar tidak keluar rumah. Masih banyak masyarakat yang belum mau berdiam diri di rumah karena mereka masih bekerja untuk mencari nafkah.

Jika memang karantina ini diberlakukan di Jakarta maka aka nada beberapa dampak negative yang terjadi. Pertama, soal ketersediaan pangan tentu tidak siap karena sebagian besar kebutuhan pokok disumbang dari daerah luar Jakarta. Arus distribusi barang akan terganggu jika karantina dilakukan. 

Kedua, panic buying masyarakat Jakarta belum bisa diantisipasi. Jadi ketika karantina diumumkan, masyarakat yang panik akan menyerbu pusat perbelanjaan. Bukan hanya makanan minuman, tapi juga obat-obatan bisa ludes tak tersisa. 

Ketiga, kalau karantina dilakukan, aktivitas semua perusahaan yang kantor pusatnya di Jakarta akan terganggu karena peredaran uang sebagian besar di Jakarta. Secara lebih luas, ada 1,2 juta unit kantor di Jabodetabek, kemudian ada 7,3 juta orang karyawan di wilayah tersebut. Kemudian yang terakhir, pelaku UMKM akan kena imbas paling parah, driver ojol tidak bisa bekerja.

Apabila memang pemerintah hanya kekurangan biaya untuk menanggung kebutuhan selama karantina. Maka kita bisa meminta bantuan kepada masyarakat yang memiliki harta berlebih untuk membantu pemerintah. Pemerintah sendiri memang sudah membukakan rekening untuk menampung sumbangan dari masyarakat. 

Namun masyarakat lebih banyak menyalurkan melalui lembaga lain, seharusnya pemerintah atau pejabat dapat memberikan contoh terlebih dahulu seperti memberikan gajinya untuk disumbangkan.

Untuk melawan Virus Corona atau Covid-19 ini memang tidak bisa hanya mengandalkan dari pemerintah saja. Sebagai masyarakat kita juga harus turut bahu membahu untuk melawan virus ini.

Karena virus ini dapat menyebar kepada siapa saja, tidak mengenal jabatan atau kedudukan. Maka mulailah hidup sehat dari diri sendiri, mencuci tangan dengan bersih, mengkonsumsi makanan yang sehat. Dan jika memiliki harta yang berlebih dapat disumbangkan agar semua data terlindungi [*]

*Penulis:  Musthafa Bayyin A
Katua Bidang Politik dan Hukum Hima Persis DKI Jakarta


You may also like