Ilustrasi/Net
GENIAL. Pramuka adalah singkatan dari Praja Muda Karana. Pramuka adalah nama untuk salah satu gerakan kepanduan terbesar di Indonesia. Konon, gerakan kepanduan di dunia dirintis oleh sosok bernama Baden-Powell. Ajaran dasar Pramuka dikenal dengan istilah Dasa Dharma, sepuluh ajaran mulia.
 
Saya pernah aktif menjadi anggota Pramuka mulai dari tingkat Siaga, Penggalang dan Penegak. Bahkan, di tingkat Penegak, saya pernah dilantik menjadi seorang Bantara, kemudian Laksana. Di Pramuka, kami belajar pengetahuan (Dasar Dharma) dan berbagai keterampilan: berkemah, tali-temali, Morse, semapur,  baris-berbaris, jurit-malam, susur sungai, dll.
 
Selain itu, saya juga pernah aktif menjadi anggota Pramuka Saka (Satuan Karya) Bhayangkara. Berbeda dari Pramuka biasa yang berada di bawah koordinasi sekolah, Saka Bhayangkara berada di bawah koordinasi Kepolisian Republik Indonesia. Di Saka Bhayangkara ini, saya memilih untuk melatih diri di Krida Search and Resque (SAR).
 
Untuk menjadi anggota SAR itu, saya dan teman-teman mendapatkan pelatihan khusus selama 7 hari di Bumi Perkemahan Palutungan, di lereng Gunung Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat. Naik gunung, panjak tebing, susur sungai adalah kegiatan sehari-hari. Kami belajar untuk survival di hutan tanpa membawa perbekalan makanan dan pakaian. Kami juga berlatih mencari dan menolong korban yang hilang.
 
Fakta bahwa saya belajar di pesantren tidak menyurutkan minat saya untuk aktif di dalam kegiatan Pramuka. Bahkan, saat di pesantren, saya mendirikan gugus depan Pramuka di sekolah yang ada di bawah naungan pesantren kami. Kami melakukan kegiatan Pramuka seminggu sekali di tengah kesibukan mengaji setiap harinya.
 
Karir terakhir saya di dalam gerakan Pramuka adalah saat menjadi pengurus Dewan Kerja Cabang (DKC) di Kwartir Cabang (Kwarcab) Kabupaten Majalengka. Itu adalah sebuah posisi yang cukup membanggakan. Sebab, sebagai santri, saya bisa ikut membantu pembinaan gerakan Pramuka sekabupaten.
 
Saya menganggap kegiatan belajar di Pramuka sangat berpengaruh besar hingga sekarang. Karakter disiplin, kreatif dan tahan banting adalah di antara hal-hal penting yang saya pelajari dari Pramuka.
 
Dalam konteks itu, saya merasa cukup prihatin mendengar kabar bahwa kegiatan Pramuka telah menimbulkan korban jiwa siswa-siswi SMP Negeri 1 Turi, di Sleman, Yogyakarta, pada Jumat 21 Februari 2020. Menurut informasi, lebih dari 200 anak terlibat dalam kegiatan susur sungai. Sementara itu, para pembina kegiatan Pramuka itu tidak mengantisipasi kemungkinan datangnya air besar yang menyebabkan kematian 7 orang anggota Pramuka yang terlibat, serta 3 orang masih dinyatakan belum ditemukan.
 
Tentu saja, pihak sekolah dan pembina Pramuka di sekolah itu harus bertanggung jawab penuh atas terjadinya peristiwa tragis tersebut. Bentuk tanggung jawab dimaksud tidak cukup hanya dengan menyampaikan permintaan maaf. Proses hukum harus ditegakkan.
 
Kegiatan Pramuka sejatinya menjadi kegiatan yang mendidik, sekaligus menyenangkan. Para pembina kegiatan Pramuka sudah seharusnya melakukan analisis resiko dalam setiap perencanaan kegiatan Pramuka. Sebab, itu adalah pengetahuan dasar yang diajarkan oleh Pramuka.
 
Saya berharap agar para korban bisa segera ditemukan, serta keluarga yang ditinggal oleh anak-anak mereka diberikan ketabahan. Pada gilirannya, semoga kejadian ini bisa menjadi pelajaran bersama untuk kita semua. Terlebih, ini bisa mendorong para pembina Pramuka untuk senantiasa awas lan waspada atas berbagai kegiatan yang dilaksanakan.
Salam Pramuka. [***]

Iqbal Hasanuddin
Subject Content Specialist pada Character Building Development Center (CBDC), Binus University, Jakarta.

You may also like