Istimewa
GENIAL.ID, Opini - Sejumlah capaian positif yang ditorehkan Agus Suparmanto di Kementerian Perdagangan belum membuat Jokowi puas, penunjukan Muhammad Lutfi sebagai Menteri Perdagangan yang baru memberikan isyarat dibutuhkannya striker cepat dan haus gol untuk memimpin kementerian yang menjadi ujung tombak ekspor.

Di penghujung tahun 2020 pada hari Selasa (22/12) Presiden Jokowi mengumumkan pergantian sejumlah menteri yang akan membantunya di Kabinet Indonesia Maju. Selain untuk mengisi kekosongan 2 pos kementerian yang lowong, Jokowi juga mengganti sejumlah menteri. Salah satu yang terkena reshuffle adalah Agus Suparmanto di posisi Menteri Perdagangan.

Tepat di hari ulang tahunnya, Politisi PKB Agus Suparmanto harus rela  menyerahkan jabatan tersebut kepada Muhammad Lutfi. Belakangan, Muhammad  Lutfi disebut juga sebagai perwakilan dari PKB, “Benar, Mendag adalah  kader dari jalur profesional,” ungkap Jazilul Fuwaid, Wakil Ketua Umum PKB.

Sejatinya, Agus Suparmanto berhasil menorehkan beberapa catatan positif  antara lain mengubah posisi neraca dagang Indonesia yang defisit –Rp 43,8 triliun di tahun 2019 menjadi surplus +Rp278 triliun sepanjang  Januari-November 2020. Bahkan, Indonesia berhasil mencatatkan  ‘kemenangan’ melawan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, India,  Jepang, Inggris meskipun masih harus mengalami ‘kekalahan’ dari Republik  Rakyat Tiongkok, Korea Selatan, Australia, Prancis.

Keberhasilan lainnya yakni telah rampung dan ditandatanganinya sejumlah perjanjian perdagangan bebas yang membuka akses pasar bagi produk-produk Indonesia ke pasar global seperti RCEP antara 15 negara, Indonesia-Australia CEPA, Indonesia-Korea CEPA. Meskipun, perjanjian ini juga dapat memperparah defisit perdagangan Indonesia dengan Australia dan Korea Selatan.

Pergantian Menteri Perdagangan menimbulkan sinyal bahwa Jokowi ingin Indonesia bermain lebih menyerang di pasar global, untuk itu Jokowi butuh sosok striker cepat dan haus gol di posisi Mendag yang menjadi ujung tombak dalam kegiatan ekspor produk Indonesia.

Muhammad Lutfi boleh dibilang sosok yang komplit untuk mengisi jabatan  tersebut, lulus dari Purdue University, Amerika Serikat, ia langsung berkecimpung di dunia usaha sebagai Presiden Direktur Mahaka Group, usaha konglomerasi yang didirikannya bersama Erick Thohir dkk. Selain 
itu, sebagai mantan ketua umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia  (HIMPI), dapat dipastikan Lutfi memiliki kedekatan dengan para pelaku usaha tanah air ditambah lagi pengalamannya di birokrasi sebagai Kepala BKPM maupun Menteri Perdagangan di era SBY.

Lebih komplit lagi, Lutfi juga ditunjang dengan pengalaman internasional sewaktu menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Jepang dan Federasi Mikronesia serta Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat.

Gerak cepat wajib dilakukan Muhammad Lutfi sebagai Menteri Perdagangan yang baru untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi, antara lain pertama, di sektor perdagangan luar negeri, Mendag harus meningkatkan nilai ekspor produk Indonesia ke luar negeri dan menyelesaikan perundingan perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia-Uni Eropa CEPA.

Sejumlah perjanjian perdagangan bebas harus menghasilkan keuntungan bagi Indonesia bukan sebaliknya. Untuk itu, Mendag Lutfi harus betul-betul memetakan produk ekspor unggulan dalam negeri serta memberikan berbagai insentif maupun kemudahan bagi pelaku usaha yang berorientasi ekspor. Persoalan lain yang juga harus dibereskan adalah menyelesaikan berbagai hambatan perdagangan di negara tujuan ekspor baik itu hambatan tarif maupun non-tarif. Mendag baru harus seperti striker  haus gol guna menggenjot nilai ekspor Indonesia di pasar global.

Kedua, di sektor perdagangan dalam negeri, Mendag juga perlu menjaga  stabilnya harga-harga kebutuhan pokok yang sempat ‘kecolongan’ beberapa waktu lalu seperti melejitnya harga bawang merah dan gula pasir jelang Idul Fitri pertengahan tahun 2020. Kecepatan dalam menstabilkan harga kebutuhan pokok mutlak diperlukan dalam sosok Mendag agar masalah yang sempat terjadi di bulan April 2020 seperti harga beras yang tak kunjung turun bisa dibereskan dengan cepat agar Jokowi tidak perlu 'marah-marah’ lagi, mengingat isu kebutuhan pokok sangat sensitif dan bisa membuat emak-emak menjerit.

Ketiga, membangun budaya mencintai produk-produk dalam negeri di tengah  krisis daya beli. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia sangat ditentukan oleh konsumsi rumah tangga dari kelas menengah-atas yang berkontribusi  terhadap 82,30% pengeluaran. Ketika kelompok masyarakat ini menahan konsumsinya maka sangat berpengaruh terhadap perputaran ekonomi di tanah air, tak heran  banyak pedagang yang berteriak bahwa daya beli menurun.

Untuk itu, Mendag harus mampu memanfaatkan momentum kehadiran vaksin Covid-19 dapat mendorong kelas menengah-atas untuk kembali berbelanja dan mengkonsumsi produk-produk dalam negeri sehingga manfaat perputaran ekonomi dapat dirasakan oleh pelaku usaha dalam negeri termasuk membangkitkan usaha  mikro, kecil dan menengah yang terpuruk di tengah pandemi Covid-19.

Oleh: Eric Fernardo
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia. 


You may also like