Istimewa
Genial- Pada masa kampanye Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tahun 2014  pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla, menyuarakan tentang “Indonesia Poros Maritim Dunia”. Meski pada Pilpres 2019 patut disayangkan pernyataan “Indonesia Poros Maritim Dunia”, tidak diungkap ulang secara tegas. Mungkin dikarenakan pada Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 yang diperingati di Jakarta dan Bandung (19-24 April 2015) Presiden Jokowi telah menggaungkan akan kekuatan poros maritim Indonesia di tingkat dunia, dirasa sudah cukup.

Visi Indonesia Poros Maritim Dunia telah menyadarkan kita semua bahwa rakyat Indonesia hidup di negara yang dominan lautan. Faham akan identitas diri bangsanya bagaimana hidup di negara yang dikelilingi lautan. Mengerti tentang bagaimana bersahabat dengan laut, memahami tentang bagaimana memanfaatkan laut, memproteksi, dan membela ruang serta sumber daya maritim. Tampaknya, selama ini kita terlena lantaran hidup di hamparan daratan, meski sejatinya Indonesia negara lautan dan berkepulauan. Setelah bencana Tsunami melanda beberapa daerah di Indonesia, barulah kita menyadari bahwa jari diri bangsa Indonesia sejatinya maritim.

Definisi Operasional

Sebelum mengetengahkan uraian, kiranya akan lebih baik jika menelaah tentang pengertian teknis operasional beberapa istilah dalam judul di atas. Sebab, tanpa mengetahui arti dan penjelasan suatu frasa judul, berimplikasi kepada kekaburan pemahaman. Dengan memahami pengertian frasa judul, diharapkan dapat memudahkan arah pembahasan yang dimaksud.

Istilah “fikih” rupanya istilah yang sudah mengindonesia, cukup akrab dalam lisan, telinga, dan literasi masyarakat Indonesia. Untuk menyebutkan diantaranya, sebut saja Fikih Lingkungan, Fikih Lintas Agama, Fikih Kebhinekaan, dan lain-lain. Adanya pengapitan kata “Fikih” dalam Fikih Lingkungan atau Fikih Kebhinekaan, memperlihatkan bahwa istilah “Fikih” sudah mengalami akulturasi bahasa dan terkulturalisasi dengan budaya literasi masyarakat Indonesia.

Kata “Fikih” terangkai dari huruf fa-qa-ha, yang secara leksikal bermakna persepsi tentang sesuatu dan mengetahuinya; daya tanggap terhadap sesuatu sampai sesuatu itu dapat difahami. Saya memahami berita, mengerti isi berita dimaksud diungkapkan dengan “Faqihtu al-hadits, afqahuhu”. Jika mendengar berita tapi tidak memahami isi dan kandungan yang diberitakan belum bisa dikatakan: “Faqihtu al-hadits”. Istilah “Fikih” selain dirinya faham dan mengerti juga dapat menerangkan kepada orang lain secara jelas sampai orang tersebut faham dan mengerti (Ibnu Faris, Mu’jam Maqayis al-Lughah, IV/442).

Tampaknya dalam arti leksikal “Fikih”, terkandung upaya memberikan pemahaman yang baik dan pencerahan yang mendalam. Selain dirinya faham juga mampu memahamkan kepada orang lain. Dalam praktik kefikihan menuntut kehadiran akal maksimal dalam mencermati dan menyelami permasalahan yang dikaji, sehingga orang dapat mencerna dan mengerti
Tinjaun terminologis, fikih mengandung arti pengetahuan tentang hukum Islam yang bersifat praktis yang diperoleh dari dalil-dalil detail. Dalam mendalilkan dalil-dalil yang digunakan menghasilkan suatu ketentuan hukum yang bertumpu pada empat pilar: Alquran, Hadis, Konsensus pakar hukum (Ijmak), dan analogi logik (qiyas) (Khalaf, 1942).

Qiyas sebagai salah satu pijakan fikih bernuansa adanya peranan akal. Tampaknya ada titik temu antara praktik fikih yang menuntut daya rasionalitas dengan keberadaan qiyas itu sendiri.

Adapun term “maritim” sebagaimana arti ringkas dalam Kamus Ilmiah Populer, bermakna mengenai perairan laut; kelautan (Tim Prima Pena, 2006). Pemaknaan tentang Laut dan Kelautan merujuk kepada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2014 Tentang Kelautan Pasal 1 Ayat (1 dan 2), laut adalah ruang perairan di muka bumi yang menghubungkan daratan dengan daratan dan bentuk alamiah lainnya, yang merupakan kesatuan geografis dan ekologis beserta segenap unsur terkait, dan yang batas dan sistemnya ditentukan oleh peraturan perundang-undangan dan hukum internasional. Kelautan adalah hal yang berhubungan dengan Laut dan/atau kegiatan di wilayah Laut yang meliputi dasar Laut dan tanah di bawahnya, kolom air dan permukaan Laut, termasuk wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Klausul di atas menunjukan bahwa laut bukan hanya berkaitan dengan air dan ikan belaka tetapi juga berhubungan dengan flora dan fauna, dasar laut, dan tanah di bawahnya. Logam mulia, mutiara, mineral, dan seluruh jenis macamnya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari term “laut”, melekat dengan istilah “laut” beserta kandungan kekayaan yang terdapat di dalamnya.

Laksamana Agus Suhartono dalam Makalah Sarasehan Indonesia Poros Maritim Dunia, (Jakarta, 2015) mengemukakan dalam doktrin Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL, 2001), kata “maritim” diartikan berkenaan dengan laut atau berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan. Pengertian luasnya, istilah “maritim” selain menyangkut sumber-sumber daya intern laut juga menyangkut faktor ekstern laut yaitu, pelayaran, perdagangan, lingkungan pantai, pelabuhan, serta faktor strategis lainnya. Tegasnya, istilah maritim mengandung makna gabungan (integral) dan menunjukan suatu lingkungan kelautan.

Deskripsi tersebut mengandung makna ganda: pertama, makna internalistik. Dalam makna pertama, istilah “maritim” tidak bisa dilepaskan dari arti harfiyahnya, yaitu kelautan atau mengenai laut. Menyangkut berbagai sumber daya yang ada di laut, baik air, ikan, garam, batu mulia, mutiara, dan mineral lainnya; kedua, makna eksternalistik. Menyangkut pemanfaatan dari perairan laut sekaligus perlindungannya. Laut dapat digunakan untuk jaringan lalu lintas perhubungan seperti pelayaran, perdagangan, pemanfaatan pelabuhan laut, dan kepentingan militer, pertahanan suatu negara. Dalam aspek perlindungannya menyangkut keamanan laut dari tindakan yang dapat mengancam kerusakan laut atau mengganggu kedaulatan laut. Kedua makna ini menyatupadu dan bersenyawa dalam term “maritim”.

Adapun frasa “Indonesia Poros Maritim Dunia” dalam judul di atas bermakna menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang besar, kuat, dan makmur melalui pengembalian identitas Indonesia sebagai bangsa maritim, pengamanan kepentingan dan keamanan maritim, pemberdayaan seluruh potensi maritim demi kemakmuran bangsa pemerataan ekonomi Indonesia melalui tol laut, dan melaksanakan diplomasi maritim dalam politik luar negerinya (Rahmawaty, “Peran Poros Maritim”, Jurnal. Vol. 8, No. 1, Juli 2014)
Berdasarkan definisi operasional yang dikemukakan, maksud judul Fikih Maritim, untuk Indonesia Poros Maritim Dunia mengandung arti bahwa “Fikih Maritim” makna operasionalnya adalah petunjuk hukum Islam tentang serangkaian tindakan manusia terhadap laut, baik tindakan positif seperti memanfaatkan Laut, memelihara, melindungi, dan mengelola untuk sebesar-besar kemakmuran rakyatnya, atau tindakan negatif seperti, mencemari Laut, illegal fishing (pencurian ikan), reklamasi, menangkap ikan menggunakan bahan peledak, dan lain sebagainya. Terhadap semua tindakan manusia itu, Fikih bertugas memberikan pernyataan yuridis apakah mesti (wajib), dianjurkan (mandub), terlarang (haram), kurang etis (makruh), atau diperkenankan (mubah).

Istilah “Fikih” disimpan sebelum term “Maritim” menunjukan bagaimana pemikiran agama Islam memberikan ketentuan aturan dan panduan moral tentang maritim; memberikan panduan-panduan etis yuridis dalam menempatkan dan memposisikan laut baik dalam makna internalistik maupun eksternalistik. Sehingga dengan begitu terciptalah kepastian, ketertiban, dan keadilan.

Sedangkan untuk Indonesia Poros Maritim Dunia adalah tujuan, semata-mata produk Fikih diberikan sebagai bentuk sumbangsih pemikiran positif untuk kemakmuran dan kejayaan negara Indonesia dalam posisinya sebagai “Poros Maritim Dunia”.* (bersambung)

*Penulis: Lam Lam Pahala (Intelektual Muda Persatuan Islam (Persis)

You may also like