Kowani laporkan demo pelibatan anak-anak ke KPAI
GENIAL.ID. Kongres Wanita Indonesia (Kowani) melaporkan Koordinator Lapangan Aksi Penolakan RUU HIP pada 24 Juni 2020, Edy Mulyadi, ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Laporan terkait dengan dugaan pelibatan anak-anak dalam demonstrasi tersebut
 
Ketua Bidang Sosial, Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga Kowani, Khalilah, mengatakan bahwa federasi dari 96 organisasi wanita lingkup nasional yang berdiri sejak 22 Desember 1928 melalui Kongres Perempoean Indonesia pertama di Yogyakarta. Kelahiran Kowani ini, melalui Kepres RI 316/1959.
 
 
"Kowani prihatin dan menyayangkan pelibatan anak-anak dalam demonstrasi. Apalagi di tengah kondisi dunia dan bangsa kita yang sedang mengalami krisis pandemi Covid 19 anak-anak justru dilibatkan dalam kegiatan demonstrasi," kata Khalilah di kantor KPAI, Jalan Teuku Umar, Menteng Jakarta, Senin sore (29/6).
 
Karena itulah, katanya, Kowani melaporkan Edy Mulyadi karena telah melanggar Pasal 15 UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak.
 
"Laporan ini mohon diteruskan  untuk diproses secara hukum agar ada efek jera," tegas Khalilal.
 
Kowani pun, sambungnya, merekomendasikan kepada KPAI untuk melarang ada eksploitasi anak di wilayah politik kekuasaan sebagaimana yang terjadi pada demonstrasi penolakan RUU HIP pada tanggal 24 Juni 2020. Termasuk melibatkan anak-anak dalam Pilkada 2020.
 
"Kowani juga mendorong KPAI walaupun dalam masa Pandemi Covid-19, untuk melakukan terobosan signifikan agar anak-anak Indonesia tetap merasa aman dan nyaman dalam belajar, bermain dan beribadah di rumah," ungkap Khalilah.
 
Sementara itu, anggota KPAI, Jasra Putra didampingi Susianah Affandi, yang menerima laporan Kowani ini mengatakan bahwa KPAI telah menerima laporan, yang disertai  foto-foto anak-anak dalam demo.
 
Dalam laporan itu, sambungnya, Kowani juga melihat anak-anak yang terlibat demo memiliki hubungan emosional dengan tokoh seperti habib atau kyai yang mengajak demo
 
"Kami juga menerima laporan bahwa demo yang melibatkan anak-anak pada 24 Juni kemarin itu melanggar protokol kesehatan padahal pemyebaran Covid-19 masih menjadi ancaman," demikian Jasra. [pmu]

You may also like