Genial - Sejak tarif data internet menjadi sesuatu yang murah dan mudah dijangkau semua kalangan di negeri ini, seketika gawai menjelma menjadi sesuatu yang umum dan biasa di masyarakat kita. Kebutuhan akan internetpun kini sudah menjadi kebutuhan pokok di kalangan masyarakat. Ada sesuatu yang kurang rasanya, jika tidak membuka smartphone, tablet, laptop, untuk berselancar mengunjungi apa saja yang bisa diakses di dunia maya, walaupun luput sehari saja. Begitulah perilaku yang berkembang di masyarakat dari awal internet booming hingga sekarang ini.

Global Digital Report 2019 yang dirilis oleh situs We Are Social menempatkan Indonesia dalam peringkat ke 5, sebagai negara dengan pengguna internet terlama di dunia. Mengacu pada data tersebut, Indonesia nyata merupakan lahan subur bagi bisnis berbasis internet. Sebagai marketspace Indonesia menyimpan potensi pasar yang potensial, bagi provider jaringan, provider konten, provider produk dan provider jasa berbasis online.

Selain menyimpan potensi bisnis yang menjanjikan, kecenderungan orang Indonesia berlama-lama mengakses internet juga berpotensi menimbulkan masalah terkait kesehatan mental. Data yang dirilis situs We Are Social itu tidak hanya bisa dipandang sebagai potensi bisnis, namun juga menyimpan ancaman akan bahaya adiksi internet di kalangan masyarakat. Suatu gejala yang sebenarnya sudah diperingatkan sejak 2018 lalu, sebagaimana dikemukakan oleh Dimitri Mahayana, pimpinan Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, saat memaparkan hasil penelitian seorang mahasiswa pascasarjana Institut Teknologi Bandung (ITB), tentang tingkat adiktif atau kecanduan masyarakat kita terhadap internet, pada sebuah surat kabar nasional.

Nun jauh di Sillicon Valley, California, Amerika Serikat sana, relasi yang terlalu intensif dengan internet dan berbagai hal yang terkait dengannya mulai dirasakan sebagai suatu masalah. Intens bergaul dengan gawai, internet, segala hal yang terkait dengan digital teknologi, membuat banyak profesional muda di sana mengalami kelelahan mental. Untuk mengatasi problematika yang mereka alami, mereka  merasa perlu untuk jeda beberapa waktu dari segala sesuatu yang terkait dengan pekerjaan dan internet. Saat jeda itulah mereka melakukan apa yang kini dikenal dengan istilah Dopamine Fast.

Apa yang dimaksud dengan Dopamine Fast itu?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu mencari tahu tentang, "Apa itu dopamine?" dan "Apa hubungan dopamine dengan kecanduan internet?"

Jari Roomer, dalam artikel "I Did A 24-Hour 'Dopamine Fast'. This Is What Happened..." mengilustrasikan, setiap kali kita scrolling di Instagram, menonton film di Youtube atau Netflix, bermain game online, chatting di whatsapp group, atau mengakses konten-konten di situs dewasa, saat itulah tubuh kita, atau spesifiknya otak kita, memproduksi senyawa atau zat kimia yang disebut dopamine.

Dopamine adalah salah satu jenis neurotransmitter. Yaitu, suatu zat kimia yang diproduksi di dalam tubuh, yang memberikan sinyal ke jaringan syaraf dan ke dalam otak kita, sehingga kita merasakan ketenangan dan kepuasan. Zat ini diproduksi di dalam tubuh ketika ada stimulan. Stimulannya yaitu kegiatan yang mengarah pada kesenangan, termasuk diantaranya kegiatan yang terkait dengan internet, sebagaimana diilustrasikan oleh Jari Roomer sebelumnya.

Smitha Bhandari, seorang psikiater dari American Board Of Psychiatry And Neurology, mengemukakan, produksi dopamine yang terlalu banyak atau sebaliknya terlalu sedikit, bisa menimbulkan masalah bagi kesehatan fisik dan mental. Penyakit serius yang bisa ditimbulkan oleh kekurangan atau kelebihan dopamine diantaranya adalah penyakit Parkinson, seperti yang diderita petinju legendaris, Muhammad Ali. Penyakit ini membuat kita kehilangan fungsi koordinasi dalam menggerakkan tubuh, termasuk ketika berjalan, berbicara, bersantap dan menulis. Untuk mengatasi defisit atau surplus dopamine itulah, Dopamine Fast dipilih sebagai sebuah alternatif solusi.

Bagaimana cara melakukannya ?

Metode ini pada prinsip dan prakteknya sangatlah sederhana. Demikian dikatakan oleh praktisi Dopamine Fast, Dr. Cameron Sepah, dari University Of California, San Fransisco Medical School. Caranya cukup dengan menghentikan kegiatan rutin secara penuh dalam waktu 24 jam. Kegiatan rutin yang dimaksud termasuk diantaranya makan, mendengarkan musik, berolahraga, bekerja, melakukan kontak dengan layar media apapun, terlalu banyak bicara, dan tentu saja, mematikan semua gawai dan akses internet yang dimiliki.

Adakah testimoni dari Dopaminefaster yang telah merasakan dampaknya? Eksperimen Nathaniel Draw, seorang Youtuber kondang, adalah satu diantara banyak testimoni lain tentang metode ini. Dalam eksperimen yang ia liput sendiri dan diunggah ke channel Youtube-nya dengan judul,"How To Reset Your Mind : 24 Hour Dopamine/Water Fast", Drew memvisualisasikan saat ia menjalani puasa selama 24 jam, tanpa makan, tanpa internet, tanpa olahraga, tanpa bekerja, tanpa musik, tanpa bacaan, dengan sesekali melakukan meditasi dan relaksasi.

Pada akhir video Draw mengungkapkan bahwa selesai menjalani Dopamine Fast-nya, ia merasa mood-nya membaik dan pikirannya lebih fokus dari sebelumnya. Saat ia berjalan menyusuri taman dan menikmati suasana di taman yang terletak di salah satu sudut Mexico City, usai puasa 24 jamnya, Draw merasa lebih tenang, tenteram, rileks, dapat berpikir jernih, sehingga fokus pada pikiran-pikiran yang positif.

Apakah Dopamine Fast, sebagaimana dipaparkan oleh Dr. Cameron Sepah dan dipraktikkan oleh Nathaniel Drew itu relevan untuk mengatasi penggunaan internet berlebihan yang berdampak kecanduan bagi pengguna internet di Indonesia?

Ide Dopamine Fast ini adalah ide yang sebenarnya sederhana, yang kemudian menjadi trend di dunia barat. Di negara timur seperti Indonesia, metode pemulihan fisik dan psikis sejenis puasa bukanlah hal yang baru. Bahkan bagi umat beragama di Indonesia, puasa ini memang sesuatu yang diatur dalam ajaran agama. Bagi umat Islam sebagai mayoritas di Indonesia, puasa atau dalam syariat Islam secara spesifik dinamakan shaum, memiliki nilai ibadah sangat tinggi di hadapan Tuhan. Ada shaum yang wajib dilakukan pada bulan ramadhan, sementara shaum yang tak wajib (sunnah), bisa dilakukan dengan cara dan waktu tertentu di luar bulan ramadhan.

Dalam syariat Islam, secara jasmaniah shaum adalah menahan lapar dan dahaga, sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Secara ruhaniah shaum adalah menahan panca indera kita dari hal-hal yang tak bermanfaat, terlebih hal-hal yang berlebihan mengikuti nafsu syahwati. Setelah melakukan shaum diharapkan pengamalnya dapat meraih kesehatan lahir batin. Dalam artian, fisiknya kuat, akalnya cerdas dan hatinya bersih. Buah dari shaum adalah perbuatan lahiriah dan gerak-gerik batiniah yang bermanfaat dan menenteramkan diri serta orang-orang di sekitarnya.

Tampaknya bisa ditarik benang merah antara metode Dopamine Fast dengan metode puasa yang dilakukan oleh umat beragama, khususnya penganut Islam di Indonesia. Benang merah yang paling mudah ditarik adalah tujuannya, yaitu sama-sama memulihkan kesehatan fisik dan mental seseorang.

Kaum muslimin sendiri sebetulnya tinggal memodifikasi praktik shaum wajib ataupun shaum sunnah-nya, dengan menambahkan "puasa gawai" atau "puasa internet", setelah ritual shaum yang biasa dilakukan. Itu artinya, selain menahan lapar dan dahaga, shaum juga seharusnya mencegah diri kita dari membuang-buang waktu atau melupakan kewajiban yang pokok seperti, bekerja, berkomunikasi dengan keluarga di rumah, bersosialisasi dengan sesama, disebabkan terlalu asyik scrolling instagram, menonton youtube, main game online, larut dalam ber-sosmed-ria, atau keasyikan menyimak konten porno.

Pertemuan konsep Dophamine Fast yang sedang trending di barat dengan syariat shaum umat muslim di Indonesia, tampaknya cukup relevan tidak hanya dalam menekan angka ketergantungan atau kecanduan masyarakat akan internet. Pertemuan dua konsep tersebut pada akhirnya bisa mewujud ke dalam praktik pengendalian diri termutakhir, yang dapat diterapkan untuk mengeliminasi dan meminimalisir dampak-dampak buruk dari sisi negatif perkembangan teknologi dan internet di masa kini. Sebagai suatu negara dengan tradisi puasa yang kuat dan mengakar, seharusnya Indonesia menjadi negara yang paling bisa menekan kecenderungan adiktif terhadap internet pada masyarakatnya.*

*A Eddy Adriansyah

Penulis adalah pegiat Tajdid Institute. Saat ini bermukim di Portsmouth, United Kingdom.

 

You may also like