Shabah Syamsi
GENIAL.ID, Opini - Di usia yang tidak lagi muda. Meskipun juga belum terlalu tua. Setua-tua orang muda. Semuda-muda orang tua. Di saat memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 75., tiba-tiba saya kangen dengan tempat asal kelahiran saya. Suatu kampung yang tidak masuk dalam google maps saking kampungnya, desa Bulubrangsi, kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Teringat masa kecil, ketika saya bebas merdeka bermain bersama teman-teman. Bebas merdeka menggembala kambing di hamparan tanah luas menghijau. Ratusan kambing milik masyarakat dilepas merumput di padang luas itu. Ada yang memiliki 10 ekor, 15 ekor, 5 ekor kambing. Saya memiliki 6 ekor kambing. Ketika ratusan kambing itu merumput, kami anak-anak yang menggembala bebas bermain bola plastik, berkejaran main di sungai, sampai sore kambing kenyang siap pulang. 

Teringat masa kecil, ketika saya bebas mencari ikan dengan cara mancing, jala, njegog, njenu, nyulo, di sungai-sungai yang jernih itu. Berbagai macam ikan mudah didapatkan. Melimpah rizki tanpa harus beli. Bebas mengambil kapan menghendaki. Memberi keberkahan penduduk negeri. Kebutuhan ikan cukup diambil dari sungai yang jernih mengalir. Tanpa prosedur. Tanpa protokoler. Tanpa banyak aturan.

Teringat masa kecil, saat saya bebas mencari burung di hutan dan kebun. Bebas menangkap burung untuk dikonsumsi, seperti burung blekok, kuntul, dan tekukur. Bebas menangkap burung untuk dipelihara, seperti emprit, betet, jalak, ketilang, dan kacer. Suara indah sahut menyahut di pagi hari. Memecah keheningan, meramaikan kesunyian. Dunia menjadi indah. Suara merdu mendendangkan lagu keagungan dan kebahagiaan. Menyemangati berbagai kegiatan. Kicauan burung jalak menyemangati sapi dan kerbau yang tugas membajak. Kicauan burung tekukur, membangunkan setiap orang yang masih tidur mendengkur.  

Betapa indah tanah airku Indonesia. Hamparan sawah ladang hijau membentang luas. Sungai berkelok-kelok, airnya mengalir deras. 
Duh Indonesia... Serpihan surga yang jatuh ke muka bumi.

Sudah 75 tahun merdeka. Alam subur itu kini kemana. Hamparan subur itu gundul adanya. Hasil tanaman melimpah itu kini tergusur. Kalah dengan produk impor dari negeri tetangga. Dibangun rumah dan apartemen mewah. Bebas merdeka artinya bebas menggusur. bebas merdeka artinya rakyat menganggur.

Sudah 75 tahun merdeka. Sungai mengalir itu kini mengering. Airnya kotor penuh limbah. Mematikan ikan yang dulu melimpah. Pabrik industri masuk desa. Masyarakat menghirup udara pengap menyesakkan dada. Hasil produksi dibawa ke kota. Dibangun besar-besaran untuk memuasi para konglomerat kaya.

Sudah 75 tahun merdeka. Beraneka burung  itu kini hilang entah kemana. Kicauannya lenyap ditelan polusi. Suara merdu sirna ditelan bumi. Yang tersisa tinggal suara keras dan kasar. Marah penuh angkara. Kebisingan terdengar dimana-mana. Teriakan, ancaman dan gertakan membahana. Mematikan kebebasan. Membunuh kemerdekaan.

Merdeka dimaknai bebas menggusur. Merdeka dimaknai bebas menggertak.
Merdeka dimaknai bebas merampas.

Saya jadi teringat kiai saya, Pak Zar (KH. Imam Zarkasyi, pimpinan dan pendiri Pondok Modern Gontor Ponorogo). Ketika Beliau memberi wejangan tentang makna kebebasan dan kemerdekaan. Biasanya disampaikan dalam wejangan menjelang perpulangan liburan santri. Bahwa saat di rumah nanti santri lebih bebas tidak seperti di Pondok. Tapi tidak berarti bebas segalanya. Bebas bukan berarti bebas tidak salat, bebas tidak makan, dan bebas melakukan hal-hal negatif. Beliau kemudian memberi contoh, bahwa orang yang tinggal dalam hutan sekali pun tidak bisa bebas. Dia tidak bebas melakukan apa saja. Dia terkena aturan hutan. Dia tidak bebas dari binatang buas. Bahkan tidak bebas dari seekor nyamuk. Beliau lalu mensitir kata mutiara Arab yang diajarkan dalam pelajaran Tarbiyah di kelas 3 KMI, Gontor: Hurriyatul mar'i mahdudatun bi hurriyah ghairihi (kebebasan seseorang itu dibatasi oleh kebebasan orang lain). 

Bebas merdeka tidak berarti menindas dan menumpas. Bebas merdeka tidak berarti menguasai dan mengeksploitasi. 

Merdeka itu ketika mampu mengatakan kebenaran di tengah kemaksiatan. Merdeka itu ketika mampu berdiri tegak di tengah kezaliman. Merdeka itu berani hidup tak takut mati. Merdeka itu pantang menyerah walau dengan berbagai tantangan yang dihadapi. Merdeka itu ketika mampu menegakkan keadilan dan mewujudkan kemakmuran.

*Oleh: Shabah Syamsi
Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Imam Besar Masjid Al Azhar


You may also like