Ilustrasi/Net
GENIAL.id. Selama hampir setahun pandemi Covid-19—lebih-lebih empat bulan pertama—entah berapa buku yang kubaca dan berapa film yang kutonton. Mungkin puluhan. Mungkin pula ratusan, bila itu adalah film serial. Untuk film serial, bisa jadi dalam satu film itu ada 45 episode atau bahkan 60 episode.

Film serial yang kusuka adalah film-film Tiongkok. Ini tak aneh. Film serial Tiongkok telah ku kenal sejak kecil. Sebut saja: Legenda Siluman Ular Putih, Pedang dan Kitab Suci, Pendekar Mabuk, Pendekar Ulat Sutera... dan tentu saja Trilogi yang diambil dari Novel karya Jin Yong: Pendekar Pemanah Rajawali, Kembalinya Pendekar Pemanah Rajawali serta Golok Naga dan Pedang Langit.

Tiga film terakhir ini sangat memikat, selain karakter para tokoh yang kuat, jurus-jurus kung fu yang sangat dahsyat, juga karena punya irisan sejarah yang dikenalkan secara populer. Misalnya Pendekar Pemanah Rajawali dengan sejarah Tiongkok yang dipimpin Dinasti Yuan dari Mongol. Atau Tio Buki dalam Golok Naga yang punya relasi dengan pendirian Dinasti Ming. Dalam film itu, Zhu Yuanzhang atau Chu Yuan-chang, pendiri Dinasti Ming, adalah salah seorang murid Tio Buki.

Saking menariknya, untuk film wuxia yang diadopsi dari Jin Yong ini malah sudah kutonton dalam beberapa versi. Dan menurutku—pasti anak-anak 90-an tahu Bibi Lung—sosok Xiau Lung Nu yang bertahun-tahun hidup di dalam Kuburan Kuno di Lembah Putus Cinta itu paling OK saat diperankan Liu Yi Fei.

Nah, selama pandemi Covid-19, ada beberapa film serial yang kutonton secara bersamaan di WeTV. Pertama, Rookie Agent Rouge, yang pemeran utamanya adalah Zhao Liying, yang mengisahkan mata-mata Tiongkok di era penjajahan Jepang. Kedua, Legend of Fei, yang juga diperankan Zhao Liying. Ketiga--ini sebenarnya serial Korea--Chicago Typewriter yang diperankan Yoo Ah-in. Keempat, adalah Qin Dinasty Epic.

Film keempat yang terdiri dari 78 episode dengan rata-rata durai 45 menit per episode ini yang sangat memikat perhatian, hingga tiga film lainnya saya pending dulu untuk menonton. Qin Dinasty Epic ini film sejarah sebagaimana juga film Zheng He Xia Xiyang, film serial Laksamana Cheng Ho yang diperankan Gallen Lo Ka-leung, yang ku tonton tahun 2010-an.

Tak main-main, film Dinasti Qin ini digarap serius selama 14 tahun, tak kalah dengan serial Game of Thrones. Hasilnya juga tak main-main. Film sejarah Kaisar Pertama Tiongkok sangat luar biasa, benar-benar epik, dan sangat perhatian pada detail-detail kecil.

Ini adalah film yang mengisahkan sejarah Tiongkok di fase peperangan atau zaman negara berperang. Saat itu ada tujuh negara yang berkonflik, yaitu negara Qin, negara Chu, negara Han, negara Qi, negara Zhao, negara Wei dan negara Yan. Dan meski dalam kondisi berperang, sebenarnya negara-negara ini memiliki banyak pertalian di antara keluarga kerajaan akibat pernikahan atau perdagangan. Atau dengan kata lain, ikatan pernikahan adalah diplomasi halus untuk menjalin koalisi.

Di antara tujuh negara ini, dua negara yang paling berseteru, yaitu negara Qin dan negara Zhao. Boleh dikatakan, negara-negara lainnya semacam ikut arah angin yang berkembang di antara konflik ke dua negara.

Film yang diproduksi Tencent Penguin Pictures ini dimulai ketika putera Mahkota Qin, Ying Yiren, menjadi tahanan negara Zhao. Zaman itu, menawarkan putera mahkota merupakan salah satu cara dan jaminan agar tak terjadi peperangan terbuka secara langsung.

Di Ibukota Zhao, kota Handan, Ying Yiren bertemu dengan seorang pengusaha bernama Lu Buwei.  Lu Buwei pula yang mengenalkan Ying Yiren kepada seorang penari bernama Zhao Ji--- yang kelak menjadi Ibu Suri negara Qin dan menanam skandal di dalam Istana kerajaan dengan seorang kasim palsu bernama Lao Ai—yang sama-sama orang Zhao—hingga melahirkan dua anak.

Paling tidak, di film sejarah ini ada tiga tokoh paling penting. Pertama adalah Ying Zheng. Dia merupakan anak dari Ying Yiren dan Zhao Ji--yang orang negara Zhao itu. Kehidupan masa kecil  Ying Zheng yang pahit karena menjadi tahanan negara Zhao membentuk karakternya. Pun demikian dengan lika-liku perjalanan kembali ke Istana Qin hingga diakui secara resmi sebagai keluarga Kerajaan. Kehidupannya di Istana pun diwarnai dengan aksi kudeta dari neneknya sendiri--yang merupakan orang bangsa Chu.

Ying Zheng ini lah yang kemudian mempunyai tekad untuk menyatukan tujuh negara. Tujuannya adalah agar tidak ada lagi peperangan antar-negara, sehingga rakyat bisa fokus bertani dan berdagang dan akhirnya bisa sejahtera. Menyatukan tujuh negara ini tak mudah. Selain tantangan dari negara lainnya,  Ying Zheng juga menghadapi rencana kudeta dari dalam yang dirancang Kasim Lao Ai--yang merupakan simpanan Ibunya sendiri, Ibu Suri  Zhao Ji.

Tokoh kedua paling penting dalam film ini adalah Lu Buwei, sang pengusaha yang disinggung di atas itu. Di film ini, ia benar-benar digambarkan pengusaha yang berwawasan ke depan. Ia berani mengambil resiko menyelamatkan Ying Yiren saat jadi tahanan di Handan. Prediksi Lu Buwei tak meleset, sebab Ying Yiren kemudian menjadi raja. Ketika Ying Yiren meninggal dunia, dan kerajaan diserahkan kepada Ying Zheng, Lu Buwei menjadi perdana menteri. Sejatinya, cita-cita Lu Buwai membuat legacy sangat baik—namun sifat pragmatisme sebagai pengusaha tak hilang. Agenda dia pula yang kemudian menjadikan Ibu Suri Zhao Ji terjebak skandal dengan Lao Ai, si kasim palsu itu.

Rencana-recana Lu Buwei sebenarnya sudah dikritik oleh Li Si, seorang cendekiawan. Li Si mengingatkan agar seorang pejabat itu hanya menjalankan titah Raja, bukan membuat legacy sendiri. Dengan caranya, Li Si pula yang mengingatkan Kaisar untuk berhati-hati dengan Lu Buwei. Bahkan Li Si mengajak Kaisar memeriksa lumbung pangan dan senjata, yang disana tertulis dalam setiap senjata itu nama Lu Buwei, bukan nama Kaisar. Nah, Li Si ini merupakan tokoh ketiga paling penting di film ini. Dari seorang akademisi, Li Si menapak karir hingga menjadi orang kepercayaan Kaisar dalam menaklukan enam negara lainnya dan menjadi Kaisar Pertama Tiongkok.

Film ini sangat keren sekali. Saya membandingkan dengan film Game of Thrones. Sama-sama film paket lengkap: ada perang dengan berbagai strategi para jenderal, ada percintaan dan skandal, ada teori-teori politik dalam mencapai tekad kekuasaan, dan di saat yang sama ada teori-teori pembangunan dalam mensejahteraan rakyat. Juga tak kalah menarik adalah nasihat-nasihat bijak dan pelajaran-pelajaran penting dalam mengelola pemerintahan.

Menonton film ini sama dengan membaca buku-buku politik, strategi peperangan dan pemerintahan. Dan dalam kenyataan, meski Dinasti Qin tak berumur panjang, hanya 14 tahun, namun berhasil membangun peradaban kekaisaran hingga 2.000 tahun kemudian. Nama China sendiri, diambil dari Dinasti Qin—yang bila dibaca berbunyi Dinasti Chin. Di antara basis-basis kekaisaran yang dibangun di era ini adalah penghapusan gelar bangsawan secara warisan, menata administrasi pemerintahan serta mengumpulkan kota-kota kecil menjadi 31 kabupaten di bawah pemerintah pusat langsung, memberikan tanah bagi rakyat yang mau membuka lahan, serta endirikan ibukota baru di Xianyang yang lebih strategis secara geografis. Lebih dari itu, Dinasti ini juga menyatukan segala macam ukuran dan tulisan untuk memperkokoh persatuan.

Menonton film ini adalah menonton bagimana sebuah bangsa dibangun dengan tekad yang sangat kuat untuk menyatukan negara-negara yang ada. Tujuannya adalah mewujudkan kesejahteraan bagi semua rakyat. [***]

Yayan Sopyani Al Hadi, penikmat film dan novel. Sinopsis ini ditulis menjelang Imlek 2021. Selamat Imlek!

 

You may also like