Azry Ilmi Kaloko
GENIAL.ID, Opini - Setelah melalui 5 bulan masa pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat pandemi Covid-19, dan hingga hari ini belum mereda, Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerjasama dengan 3 Kementerian lainnya yaitu Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Kementerian Agama (Kemenag) memutuskan untuk melakukan penyesuaian terhadap penyelenggaraan pembelajaran pada tahun ajaran baru 2020/2021 dan tahun akademik 2020/2021 di masa pandemi Covid-19. Keputusan tersebut mengizinkan sekolah yang berada di zona kuning dan hijau untuk melakukan pembelajaran tatap muka namun tetap dengan protokol Covid-19 yang ketat. 

Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (Dirjen Paudasmen)  Kemendikbud, Jumeri, pembelajaran tatap muka akan dilakukan secara bertahap dengan syarat 30-50% dari standar peserta didik per kelas, serta jumlah hari dan jam belajar juga dikurangi, dengan sistem pergiliran rombongan belajar (shift) yang ditentukan oleh masing-masing satuan pendidikan yang disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan di tiap daerah. 

Ini adalah keputusan yang diplomatis dan penuh tantangan bagi dunia pendidikan di Indonesia, banyaknya satuan pendidikan di daerah 3T yang selama hampir 5 bulan telah melakukan PJJ dengan akses yang sangat minim dan terbatas menjadi alasan besar dilakukannya pembukaan kembali sekolah tatap muka. Namun saat ini yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana efektivitas serta tantangan dibukanya kembali pembelajaran tatap muka ini?

Sudah banyak media yang memberitakan terkait dampak buruk dari PJJ yang telah terlaksana selama ini, bukan hanya di daerah 3T saja yang mengalami kendala berat, namun bagi masyarakat tidak mampu dimana pun berada di seluruh nusantara mau tidak mau harus memiliki “perangkat” untuk melakukan PJJ ini, sebut saja handphone atau laptop serta kuota internet sebagai perangkat yang harus dimiliki untuk dapat mengakses pembelajaran secara daring. 

Walaupun Pemerintah Pusat telah memberikan keputusan kepada tiap daerah di zona kuning dan hijau untuk melakukan pembelajaran tatap muka, sekolah tidak dapat melakukan pembelajaran tatap muka tanpa adanya persetujuan dari pemda/kanwil, kepala sekolah, komite sekolah, dan juga Orang tua. Jadi jika misalnya ada orang tua yang tidak setuju anaknya untuk mengikuti, maka peserta didik dapat tetap mengikuti PJJ. 

Saat ini merujuk pada peta zonasi risiko Covid-19  yang bersumber dari https://covid19.go.id/  per 13 Agustus 2020, terdapat 33 kabupaten/kota yang berada di zona merah, 222 kabupaten/kota berada di zona oranye, 177 kabupaten/kota berada di zona kuning, dan sisanya 82 kabupaten/kota berada di zona hijau dan zona tidak terdampak. Berarti ada sekitar 259 kabupaten/kota yang mungkin akan melakukan pembelajaran tatap muka. 

Keputusan pemerintah pusat yang mengizinkan daerah untuk menentukan sendiri nasib pembelajaran di satuan pendidikan masing-masing ini banyak mendapat respon seolah-olah pemerintah ingin melepas tanggungjawab, namun nyatanya keputusan ini dapat dilihat sebagai bentuk respon diplomatis oleh pemerintah pusat atas pandemi Covid-19 yang belum dapat diprediksi kapan berakhirnya. Terbukti pemerintah pusat tetap memberikan aturan untuk melakukan protokol pencegahan Covid-19 yang ketat, pemberlakukan kurikulum baru yaitu kurikulum mandiri dan kurikulum khusus bagi satuan pendidikan serta diluncurkannya modul bagi para siswa yang berbasis kegiatan sehingga mudah dipahami siswa. 

Kesimpulannya, pemerintah telah melakukan dukungan yang sebesar-besarnya, sekolah pun diberikan hak untuk membuat keputusan, begitu juga dengan orang tua siswa juga mendapatkan hak untuk memilih bagi anaknya apakah mengikuti pembelajaran daring atau tatap muka. 

Abu Dhabi Department of Education and Knowledge (ADEK) menerbitkan buku panduan bagi orang tua dalam melakukan pendampingan terhadap anak saat melakukan pembelajaran daring, buku ini telah diterbitkan sejak Maret 2020. (Dapat diakses di https://www.adek.gov.ae/-/media/Project/TAMM/ADEK/Health/ADEK-PARENT-GUIDE.pdf

Dalam buku tersebut disebutkan bahwa di masa pandemi ini, orang tualah yang memiliki peran paling besar bagi tumbuh kembang anak dalam segala aktivitasnya termasuk menuntut ilmu. Orang tua menjadi tumpuan bagaimana proses psikis anak berjalan selama pandemi. 

Orang tua di masa pandemi ini harus mampu menjadi tumpuan bagi pendidikan anak, tidak hanya pendidikan secara formal tetapi juga informal. Orang tua harus menjadi penyelaras pendidikan karakter anak. Dalam pembelajaran yang dilakukan baik itu tatap muka ataupun daring dimasa pandemi ini, guru tetaplah bukan pendidik yang utama, mengapa? Karena guru memiliki keterbatasan waktu, akses serta sarana.

Apakah orang tua siswa siap memiliki komitmen dan tanggungjawab yang sama dengan guru di sekolah apabila pembelajaran tatap muka dilakukan? Karena pembelajaran tatap muka telah diizinkan pemerintah pusat sebagai respon terhadap keluhan orang tua akan keterbatasan dalam mengikuti pembelajaran daring selama ini. 

Orang tua harus siap untuk mendampingi secara langsung mau pun tidak langsung anaknya yang mengikuti pembelajaran tatap muka, jangan sampai ada pelanggaran terhadap protokol pencegahan Covid-19. Sekolah juga harus mempersiapkan dengan matang baik sarana hingga protokol kesehatan, jangan sampai pembelajaran tatap muka menjadi bumerang, saling tuding bagi orang tua atau sekolah atas penyebaran Covid-19 nantinya. 

Komunikasi guru, orang tua dan siswa juga harus selaras. Dengan pola komunikasi yang baik maka segala macam permasalahan akan dapat dipecahkan dengan baik sehingga tidak akan menjadi beban psikologis bagi guru, orang tua apalagi siswa. Segalanya memang harus dipikirkan secara diplomatis di tengah pandemi yang dilematis, kuncinya semua memang harus berkomitmen serius untuk sama-sama memecahkan masalah, sehingga nantinya tidak ada berita atau kasus baru yang menyebutkan bahwa sekolah menjadi klaster baru penyebaran Covid-19. [*]

*Oleh: Azry Ilmi Kaloko
Penulis adalah Mahasiswi Hubungan Internasional, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


You may also like