Didi Kempot/Net
GENIAL. Sejak lagu Cucakrowo yang dinyanyikan oleh Almarhum Didi Kempot yang sebagian kecil orang menganggap sebagai lagu yang 'vulgar' dan banyak yang mencibir sinis, tapi sebagian besar menyambutnya sebagai lagu humor.

Kalau istilah saya waktu kecil, kategori lagu dolanan. Ya, lagu dolanan dimana semua umur bisa menyanyikan dengan gembira. Tapi tulisan ini tidak membahas soal Cucakrowo itu, tapi soal kebangkitan lagu lagu Jawa yang menurut saya penting kita cermati.

Banyak sekali seniman seniman Jawa Tengah/Timur dan bahkan penyanyi yang mengadu nasibnya dengan lagu-lagu daerah saja pilihannya. Karena kalau mau mennembus ke level nasional, logat Jawa susah leburnya. Misalnya pada konsonan D atau B menjadi sangat tebal bila diucapkan oleh penyanyi asli Jawa. Mungkin benturan inilah yang membuat para penyanyi Jawa hanya bisa ke Jakarta kalau diundang.

Lagu-lagu Jawa seperti campursarian memang sebuah penggabungan antara instrumen tradisional dengan intrumen modern, dengan tetap menggunakan bahasa Jawa dalam lagu lagunya.

Sudah beberapa dekade lagu-lagu berbahasa Jawa tidak muncul me-nasional, Sekelas Gombloh dengan lagu Hong Wilaheng, tidak bisa tembus Monas. Juga, Sujiwo Tejo dengan album Jawa-nya. Menurut saya belum bisa menaklukkan Monas.

Eh, dua tahun belakangan saya mulai mendengar Didi Kempot dengan lagu lagu berbahasa Jawa digandrungi oleh anak anak milenial. Anak anak milenial sekali lagi! Bagi saya ini fenomenal.

Lagu Stasiun Balapan sudah saya dengar lama tapi tidak seheboh sekarang ini. Heboh karena karena di konser-konser Didi Kempot, anak-anak milenial itu fasih koor. Sampai sampai Sang Penyanyi hanya sebagai pemantik lagu saja. Dan audience yang menyanyikan di depan penciptanya. Sungguh ini pameran yang terbalik. Seharusnya penyanyi yang heboh di depan penonton.   

Anak-anak milenial itu semakin jatuh cinta kepada Didi Kempot lantaran lirik lirik nya menggambarkan suasana dirinya, suasana galau, suasana patah hati yang mengecewakan. Tapi di tangan Didi Kempot, patah hati disulap menjadi hiburan massal. Patah hati bersama itu ternyata banyak kawannya. Patah hati itu bisa dirayakan secara kolosal. Dan hanya di panggungnya Didi Kempot.

Anak-anak milenial ini tidak hanya anak anak yang setiap harinya fasih berbahasa Jawa, tapi oleh anak-anak milenial dari semua suku bangsa ini. Sekali waktu saya dan kerabat lesehan di Malioboro, dan seperti sudah diduga pengamen pasti datang. Pengamen ini anak anak milenial betulan. Setelah saya tanya mereka terdiri dari beberapa Universitas di Jogjakarta. Mereka menawarkan lagu Pamer Bojo. Seketika itu di emperan Malioboro terjadi koor lagu Pamer Bojo, dengan senggakan Cendol Dawetnya yang khas itu, dengan fasih.

Saya berpikir inilah sebuah kebangkitan lagu-lagu Jawa. Lagu-lagu berbahasa Jawa yang digawangi oleh Didi Kempot dan diteruskan oleh anak anak milenial ini.

Beda usia Didi Kempot dengan anak-anak milenial ini sangat jauh sekali. Bisa dikatakan bahwa Didi Kempot adalah bapaknya anak-anak itu layaknya.

Konser konser Didi Kempot disebut sebagai Konser Ambyar. Ini sebutan superlative dari suasana yang selalu penuh dengan SADBOY dan SADGIRL tak terbendung jumlahnya. Bukan hanya di Lapangan terbuka, tapi juga melanda kampus-kampus.

Konser Ambyar yang ada di Youtube hampir tidak saya jumpai orang orang seumur Didi Kempot sendiri. Semuanya anak-anak milenial, Tak perduli kaya, miskin, kota, desa, atau status Jawa, Batak, Sunda dan lain-lain, asal patah hati, jadilah sobat Ambyar. Begitu mudahnya mereka bersatu dalam satu suasana yang diciptakan oleh seorang Legend, Didi Kempot.

Jadi begitu lekatnya suasana lirik lagu lagu Didi Kempot dengan suasana anak-anak milenial.

Ini juga menadai fenomena bangkitnya lagu lagu berbahasa Jawa. Maka kebudayaan yang Bhinneka Tunggal Ika ini penting dengan adanya anak anak milenial sebagai generasi penerusnya. [***]

Ahmad Faisal
Sobat Ambyar Kolonial', bukan Milenial.

You may also like