Istimewa
GENIAL.ID, Opini - Selama ini, PDI Perjuangan dikenal sebagai “rumah besar” kaum nasionalis. Dan nasionalisme ala PDI Perjuangan berpijak pada pikiran Bung Karno, yaitu nasionalisme yang berperikemanusiaan, berbudi pekerti, dan menjujung tinggi nilai-nilai luhur agama, khususnya nilai-nilai luhur Islam. Sebab itu pula, nasionalisme ala Bung Karno berbeda dengan paham nasionalisme di negara-negara lain, termasuk nasionalisme di Timur-Tengah sekalipun.

Sejak tahun 2007 lalu, PDI Perjuangan mendirikan organisasi sayap keislaman, yaitu Baitul Muslimin Indonesia (BAMUSI). Artinya, rumah besar kaum Muslim Indonesia. BAMUSI ingin agar umat Islam berperan penting dalam mengukuhkan solidaritas kebangsaan dan memajukan negeri ini. 

Almarhum H. Taufiq Kiemas sebagai inisiator berdirinya BAMUSI memandang, bahwa PDI Perjuangan harus menjadi rumah besar bagi kaum nasionalis, termasuk kalangan Muslim yang berperan penting dalam membangun visi kebangsaan. Dalam sejarah republik, kaum Muslim mempunyai peran yang sangat besar dalam menumbuhkan nasionalisme yang dikenal dengan “cinta Tanah Air bagian dari iman” (hubbul wathan minal iman). Bung Karno sendiri menulis tentang frase “cinta Tanah Air bagian dari iman” pada tahun 1940. Dan dalam setiap forum internasional, Bung Karno selalu menyampaikan kekhasan nasionalisme ala Indonesia ini.

Maka dari itu, mendirikan BAMUSI bagi PDI Perjuangan merupakan sebuah keniscayaan untuk memperkokoh visi kebangsaan dan menjembatani aspirasi umat Islam dalam bingkai kebangsaan. Apalagi dalam berbagai survei ditegaskan, bahwa pemilih terbesar PDI Perjuangan dalam pemilu adalah umat Islam. Hal ini mengonfirmasi bahwa umat Islam Indonesia mempunyai karakteristik yang khas yaitu mempunyai visi kebangsaan dan kerakyatan yang kukuh.

Alhamdulillah, saya bergabung dengan PDI Perjuangan sejak berdirinya BAMUSI hingga sekarang ini. Saya sendiri bergabung dengan BAMUSI sebagai representasi dari Nahdlatul Ulama. Setidaknya ada 10 orang yang berlatarbelakang NU di BAMUSI. Selain dari unsur NU, juga ada 10 orang dari representasi Muhammadiyah di BAMUSI. Kalau dijumlah, pengurus daerah dan pengurus cabang bisa mencapai ratusan dan ribuan dari unsur NU dan Muhammadiyah.

Kita semua tahu, bahwa NU dan Muhammadiyah mempunyai sejarah masa lalu dan masa kini. Sulit rasanya mempertemukan kader kedua ormas besar ini dalam satu wadah organisasi. Tapi, alhamdulillah, PDI Perjuangan berhasil mempersatukan kader NU dan Muhammadiyah dalam satu wadah organisasi BAMUSI untuk bersama-sama memperkukuh solidaritas kebangsaan dan menyalurkan aspirasi umat Islam. Karenanya, kami di BAMUSI menyebut wajah keberislaman kita dengan “Islam Nusantara Berkemajuan”, karena mampu membangun solidaritas kebangsaaan NU dan Muhammadiyah. 

Saya menjadi saksi sejarah, bahwa PDI Perjuangan terus membangun jembatan dialog dengan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah melalui kader-kadernya yang berada di BAMUSI. Hasto Kristiyanto, Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan kerap melakukan kunjungan ke PBNU dan PP Muhammadiyah untuk terus menyerap aspirasi dari dua ormas yang telah berjasa dalam melahirkan, menjaga, dan membumikan Pancasila di negeri tercinta ini. Bahkan dalam polemik RUU HIP pun, kami menyampaikan aspirasi dari NU dan Muhammadiyah, termasuk aspirasi dari Majelis Ulama Indonesia. Alhamdulillah, PDI Perjuangan langsung merespons masukan tersebut.

Namun, meskipun demikian, masih banyak fitnah dan provokasi yang berseliweran yang menarasikan seolah-olah PDI Perjuangan anti-Islam, bahkan ada yang memfitnah PKI dan ingin mengubah Pancasila. Kami sebagai generasi yang tumbuh dari pesantren, perguruan tinggi Islam, dan organisasi Islam tidak rela dan menolak segala fitnah tersebut.

Dalam 15 tahun terakhir, kami menyaksikan bahwa Pancasila yang kami baca dalam setiap acara-acara Partai adalah Pancasila yang tertera dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Setahu kami, hanya PDI Perjuangan satu-satunya organisasi di negeri ini yang membacakan Pancasila dalam setiap kegiatannya dari tingkat Pusat hingga Ranting. 

Adapun Pidato Pancasila 1 Juni 1945 yang disampaikan Bung Karno, menurut kami, merupakan khazanah berharga untuk memahami dan menjiwai substansi Pancasila. Kami memandang pidato tersebut merupakan salah satu rujukan penting dalam memahami kesejarahan dan kandungan Pancasila untuk diterjemahkan dalam tindakan. Bagi kami, seluruh kader PDI Perjuangan, bahwa Pancasila adalah ideologi yang harus hadir dalam tindakan nyata (working ideology). 

Perihal Trisila dan Ekasila, bagi kami yang tumbuh dari tradisi Pesantren, tidak sulit untuk memahaminya. Sebab kami diajarkan di pesantren tentang ilmu al-Quran untuk memahami al-Quran, ilmu hadis untuk memahami hadis, ilmu ushul fiqh untuk memahami fikih. 

Para ulama ilmu al-Quran, termasuk Imam al-Ghazali, menyebutkan bahwa jumlah ayat di al-Quran sebanyak 6.236 ayat dan 114 Surat. Kalau diperas menjadi “Surat al-Fatihah”, dan kalau diperas lagi menjadi “Basmalah”. Esensi al-Quran adalah kasih-sayang, cinta kasih, dan toleransi. Pertanyaanya, apakah para ulama itu ingin mengubah al-Quran? Jawabannya, pasti “tidak”. Para ulama ingin agar kita mudah memahami esensi al-Quran.

Nah, bagi kami untuk memahami Pancasila membutuhkan banyak rujukan dan dimensi sehingga kita mempunyai kebeningan hati, kejernihan pikir, dan visi yang jelas. Kami sebagai kader Sukarnois, izinkan memahami Pancasila melalui Bung Karno, bertawasshul secara pemikiran (al-tawasshul al-fikri) dengan Bung Karno. Bagi kami, Pidato Pancasila 1 Juni 1945 adalah “ilmu Pancasila” untuk memahami esensi dan kandungan Pancasila. 

Kami setuju dengan pandangan Bung Karno, bahwa esensi Pancasila adalah gotong-royong. Sebab itu pula, di tengah pandemi ini, PDI Perjuangan membangkitkan semangat gotong-royong dengan membagikan jutaan masker, sembako, hads sanitizer, jamu, dan lain-lain kepada warga di seantero negeri. Intinya, kami ingin Pancasila menjadi ideologi yang hadir di tengah-tengah masyarakat.

Walhasil, tidak ada sedikitpun niatan untuk mengubah Pancasila. Kami justru bangga menjadi bagian dari warga bangsa yang istiqamah menjaga dan mengamalkan Pancasila. PDI Perjuangan sejalan dengan sikap NU dan Muhammadiyah, bahwa Pancasila bersifat final. Tugas kita sekarang adalah mengamalkan Pancasila, sehingga cahayanya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Kami berterima kasih pada pihak-pihak yang selama ini ditengarai anti-Pancasila, bahkan mengharamkan Pancasila, tapi sejak RUU HIP ini bergulir mereka terdepan membela Pancasila. Ini hikmah yang luar biasa, bahwa pada akhirnya kita berada dalam satu barisan untuk menjaga dan mengamalkan Pancasila. Alhamdulillah. Merdekaaaaa!!!  [*]

*Oleh : Zuhairi Misrawi

Penulis merupakan Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia (BAMUSI), Cendekiawan Nahdlatul Ulama, dan Lulusan Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir.

You may also like