Penulis bersama dengan pimpinan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) berkunjung ke Masjid Jamkaran
GENIAL. Malam tahun baru 2020 ini, mari kita lanjutkan perjalanan di Qom, setelah sebelumnya kita jalan-jalan dan ziarah ke komplek Masjid Sayyidah Fatimah Maksomah (Haram).

Sobat Genial, mari kita lanjutkan perjalanan ke Masjid Jamkaran atau Masjid Imam Mahdi (Ajjalallahu Farajahu al Syarif). Jarak masjid ini sekitar 8 km dari Masjid Sayyidah Fathimah, dan bisa ditempuh dengan menggunakan bis atau taksi. Biasanya para peziarah akan langsung berkunjung ke Mesjid Jamkaran setelah selesai di Haram. Maka disarankan Kamu pun demikian.

Jamkaran sendiri adalah nama tempat di pinggiran kota Qom yang terdiri dari bebukitan gersang dan tandus. Nama Jamkaran ini menjadi sangat terkenal ketika mesjid ini dihubungkan dengan Imam Zaman, atau Imam terakhir dari Syiah Imamiyah. Masjid ini didirikan pada abad ke 4 H atau abad ke 14 M atas perintah Imam Mahdi sendiri yang disampaikan kepada salah seorang ulama Qom, yaitu Syeikh Hasan bin Mitslih Jamkarani, lewat perantara mimpi.

Walaupun banyak juga yang tidak sependapat, terlepas itu semua, amalan-amalan ketika berkunjung ke Mesjid ini diantaranya shalat dua rakaat sebagai shalat untuk Imam Mahdi dengan bacaan-bacaan khusus. Hal ini tertulis di dalam Kitab Mafatih Jinan, kitab yang ditulis Syeikh Abbas al Qummi, seorang ulama asli Qom yang makamnya di dekat makam Imam Ali bin Abi Thalib di Najaf Irak.

Mesjid Jamkaran ini terbuka 24 jam. Biasanya mesjid ini dipadati banyak sekali peziarah pada Selasa malam (waktu pembacaan doa Tawasul), Kamis malam (waktu pembacaan doa Kumail) dan Jumat pagi (waktu pembacaan doa Nudbah). Ketiga doa ini menjadi bagian doa dalam ritual rutin bagi penganut muslim Syiah.

Untuk Kamu ketahui juga, masjid ini akan sangat meriah, penuh lampu warna-warni dan bercahaya, adalah setiap tanggal 15 Syaban, yaitu bulan kedelepan dari kalander Hijriyah.Tanggal 15 Syaban ini merupakan hari kelahiran Imam Mahdi. Selain lampu masjid yang penuh pesona, setiap wajah pengunjung pun penuh keceriaan dan kegembiraan.

Luas Mesjid ini bertambah sampai 40 hektar setelah Revolusi Islam Iran tahun 1979. Setelah itu, manajemen Hauzah Ilmiah Qom memperkenalkan Kantor Wakaf dan Dewan Pengurus Mesjid Jamkaran yang dipimpin oleh seorang ulama. Dewan pengurus ini lengkap dengan beragam divisi, seperti Divisi Acara dan Dakwah, Divisi Hubungan Masyarakat, Divisi Pepustakaan dan Publikasi, serta lain lain.

Nah, jauh sebelum dikenal sebagai Masjid Jamkaran, masjid ini dikenal sebagai Masjid Qadamgah. Dalam bahasa Farsi, qadamgah artinya  tempat pijakan kaki. Hal ini dinamakan demikian karena di dalam mesjid ini terdapat batu marmer yang dipercaya sebagai tempat pijakan kaki Imam Mahdi. Sekarang, di tempat pihakan ini dibuatkan semacam mihrab. Para peziarah biasanya menciumi dan mengusap mihrab tersebut dengan chadur atau baju atau kain yang memang sengaja mereka bawa untuk tabarruk (mendapat berkah) Imam Mahdi.

Saya, datang pertama kali ke Mesjid ini pada akhir 2006. Saat itu, bangunan Mesjid dan Husainiyah (tempat mengaji, seperti majlis taklim di Indonesia) tidak sebesar sekarang. Ketika itu, masih banyak bangunan yang belum selesai, termasuk pada waktu itu hanya ada dua pintu gerbang.

Terakhir saya berkunjung pada awal 2018, menjelang pulang selamanya ke Indonesia. Kini, komplek Mesjid Jamkaran mempunyai enam pintu gerbang lengkap dengan para penjaganya yang ramah. Di sediakan pula chadur bagi perempuan yang tidak membawanya.

Di belakang masjid ini, ada sebuah sumur yang dipercaya oleh sebagian masyarakat sebagai sumur Imam Mahdi. Sumur ini sudah kering namun tidak pernah sepi dari pengunjung yang mengirimkan surat. Semacam surat curhat, surat permintaan dan surat permohonanuntuk Imam Mahdi. Para pengunjung melempar surat tersebut ke dalam sumur, dengan berdoa terlebih dahulu. Konon, semua surat tersebut selalu dibalas oleh Imam Mahdi dengan selalu terkabulnya semua keinginan yang ditulis pada surat tersebut. Wallahu a’lam. Sekarrang, bahkan pihak masjid menjual khusus kertas dan amplop surat yang lengkap dengan kop suratnya berbahasa Farsi berisi doa-doa untuk Imam Mahdi, dan kita bisa menulis surat di bawah kop surat tersebut.

Di sekeliling komplek Mesjid Jamkaran ini, banyak sekali yang berjualan. Ada penjual kaki lima dan ada juga toko-toko souvenir serta oleh-oleh. Bila berkunjung, pastikan Kamu membuat janjian dengan kolega untuk bertemu di tempat yang sama dengan melihat nomor pintu gerbang. Sebab komplek masjid ini sangat luas. Dan bahkan sampai sekarang pembangunan dan perluasan mesjid ini masih terus dilakukan.

Nah, untuk Kamu ketahui, tak jauh dari sini, atau antara Haram dengan Masjid Jamkaran, ada juga masjid Nabi Khidr. Nabi Khidr, menurut Annemarie Schimmel, dalam bukunya Mystical Dimension of Islam, merupakan seorang Nabi yang tetap hidup, sama dengan Nabi Idris, Nabi Ilyas dan Nabi Isa. Kalau dihitung,  usianya sudah lebih dari enam ribuan tahun.

FYI, Annemarie Schimmel ini merupakan orientalis Jerman yang banyak menulis tentang Islam dan Sufisme. Wasiatnya menarik, yaitu agar dibacakan Alfatihah ketika dimakamkan nanti. Dia meninggal pada tahun 2003 di Bonn.

Kembali ke Khidr. Nama Khidr sendiri berasal dari bahasa Arab yang artinya hijau. Disebut demikian karena selalu memakai baju berwarna hijau sebagai lambang kesegaran jiwa dan kesegaran pengetahuan. Menurut Ibnu Abbas, Nabi Khidr adalah seorang anak cucu Nabi Adam yang taat beribadah dan ditangguhkan ajalnya. Disebutkan juga bahwa ibu Khidr berasal dari Romawi dan bapaknya keturunan Persia. Lebih jelasnya, silakan Kamu cek deh di Kitab Fath al-Bari dan Kitab Al-Bidayah wa  al-Nihayah.

Dalam al-Quran sendiri, kisah Nabi Khadir disebutkan dalam Surat al Kahfi ayat 65-82. Dalam kisah hikmahnya, Khidr berpesan kepada Nabi Musa agar; jadilah kamu orang yang tersenyum, bukan tertawa; teruslah berdakwah; janganlah berjalan tanpa tujuan; dan ketika kamu melakukan kekhilafan, menangislah karena penyesalan kehilafan tersebut dan jangan putus asa.

Bagi yang percaya Nabi Khidr masih hidup sampai sekarang, maka Kamu harus mengunjungi sebuah Mesjid kecil berkubah biru muda ini. Di dalam mesjidnya semua berwarna hijau dan dipercaya tempat shalat dan bermunajatnya Nabi Khidr. Terletak di puncak gunung bebatuan nan tandus berusia lebih dari tiga ribuan tahun, gunung ini pun disebut dengan Gunung Khidr.

Tangga yang harus ditempuh dari bawah sampai ke puncak gunung berjumlah ratusan tangga. Tips dan triknya, kita sebaiknya berangkat pada waktu pagi hari, dan memakai sepatu yang cocok, khusus untuk hiking. [***]

Sifa Sanjurio

Staff Pengajar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

You may also like