Istimewa
Genial – Demonstrasi (Demo) sebagai aktifitas atau gerakaan protes yang dilakukan sekelompok orang yang bertujuan mengkritisi kebijakan misalnya pemerintah atau legislasi sebagai pembuat Undang-undang, bukanlah tindakan yang salah, akan tetapi kejadian akhir-akhir ini yang sangat memperihatinkan adalah pelibatan siswa (anak sekolahan) yang masih usia remaja/anak juga ikut turun kejalan berdemonstrasi sampai melakukan tindakan-tindakan anarkis yang sangat merugikan bukan hanya masyarakat tetapi mengancam masa depan sang anak itu sendiri.

Menyikapi demonstrasi yang melibatkan pelajar, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendi segera mengambil sikap dengan menerbitkan Surat edaran nomer 9 Tahun 2019 tentang Pencegahan Keterlibatan Peserta didik dalam aksi unjuk rasa berpotensi kekerasan. Surat edaran tersebut berdasar pada Undang-undang tentang perlindungan anak yang menyatakan bahwa setiap anak didukung untuk mendapatkan perlindungan dari pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan. Sikap tegas tersebut perlu kita dukung bersama karena sebagaiman yang kita pahami siswa yang masih duduk di bangku SMP-SMU/STM masih dikategorikan usia anak, yang oleh UU wajib mendapat perlindungan baik oleh pemerintah, guru, orang tua, maupun orang dewasa yang ada lingkungan dimana anak tersebut berada.

Cara memberikan pemahaman dan perlindungan terhadap anak agar tidak terlibat dalam kegiatan destruktif (merusak) adalah menciptakan lingkungan yang kondusif, yakni dengan menghadirkan keteladanan yang baik (uswatun hasanah) dalam lingkungan anak. Berdasarkan teori perkembangan, anak memiliki 3 ranah (wilayah) belajar yakni : 1) lingkungan rumah, 2) lingkungan sekolah dan 3) lingkungan masyarakat. Di tiga ranah inilah anak seharusnya mendapatkan keteladanan yang baik sehingga dapat mendukung tumbuh kembang yang positif bagi seorang anak khususnya di usia sekolah.

1) Lingkungan keluarga merupakan aspek yang pertama dan utama dalam mempengaruhi perkembangan anak. Menurut Ki Hadjar Dewantara Keluarga adalah suatu tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan sosial. Keluarga adalah tempat pendidikan yang lebih sempurna sifat dan wujudnya dari pada pusat-pusat pembelajaran lainnya ke arah kecerdasan budi pekerti (pembentukan karakter/watak individu) dalam masyarakat. Rosulullah mencontohkan keteladanan sikap dan kesederhanaan dalam rumah dari bagaimana beliau menjahit sendiri pakaiannya yang robek, atau bagaimana Rosulullah bersikap terhadap anggota keluarga dengan penuh kasih sayang.

Keluarga inilah pondasi pertama dan utama tatanan nilai terbentuk dalam masyarakat. Jika aksi-aksi anarkisme itu dipertontonkan masuk ke media TV atau Gedjet anggota keluarga, maka perlu perhatian khusus, bagaimana dampak negative teknologi jangan sampai merusak tatanan kehidupan keluarga dan merusak tumbuh kembang anak. Sehingga perlu pemhaman dan keteladanan bagaimana bermedia sosial yang sehat dan positif dalam keluarga. Tidak jarang kita temui anggota keluarga bertemu secara fisik di rumah tetapi masing-masing sibuk dengan gedjet ditangan sehingga tidak hadir interaksi, komunikasi dan kehangatan dalam rumah tangga.

Orang tua juga berkewajiban membantu pemerintah dalam mencegah terjadinya tindakan anaris/perkelahian pelajar sebagaimana Peraturan Mendikbud Nomer 30 Tahun 2017 tentang pelibatan keluarga pada penyelenggaraan pendidikan. Di dalam pasal 8 ayat (1) menyatakan pihak keluarga berperan untuk mencegah peserta didik dari perbuatan yang melanggar peraturan satuan pendidikan dan atau yang mengganggu ketertiban umum dan mencegah terjadiya tindak anarkis dan/atau perkelahian yang melibatkan pelajar.

Dengan keteladanan orang tua dalam berkomunikasi, bersikap dan bermedia sosial, serta komitmen memberikan perlindungan dan pengasuhan terbaik pada tumbuh kembang anak khususnya dalam proses pencarian jati diri (usia puberitas, SMP/SMA), maka akan melahirkan generasi yang cerdas, unggul dan berkarakter.

2. Lingkungan sekolah adalah lingkungan dimana seorang anak mendapat pendidikan formal. Belajar bertanggungjawab atas tugas yang diberikan guru. Guru sebagai pendidik disekolah merupakan central keteladanan bagi anak didik. Seperti pesan Bapak Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang berbunyi “Ing Ngarso Sung Tulodo, ing madyo mbangun karso, tutwuri handayani : Artinya sebagai pendidik guru sejatinya berada : di depan menjadi contoh, di tengah memberi semangat, dan dan di belakang memberi dorongan kepada anak didik. Banyaknya kekerasan yang terjadi di sekolah tak lepas dari ketidakmampuan seorang guru memberi keteladanan.

Fungsi guru seharusnya menjadi fasilitator tercapainya fungsi sekolah dan tujuan pendidikan yakni untuk memfasilitasi proses perkembangan anak, secara menyeluruh sehingga dapat berkembang secara optimal sesuai dengan harapan-harapan dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Meskipun tampaknya di sekolah guru sangat dominan dalam mendidik aspek intelektual dan kognisi anak, namun sebenarnya guru juga wajib berperan dalam mengembangkan segenap aspek perilaku positif anak termasuk perkembangan aspek-aspek sosial moral dan emosi anak didik. Jika sekiranya keteladanan hadir sebagai penuntun sikap siswa dalam aktifitas sekolah maka perilaku menyimpang seperti tawuran, demonstrasi dan anarkisme tidak akan kita temui di lingkungan pendidikan kita.

3.Lingkungan Masyarakat bisa dibilang tempat tinggal dan tempat bermain, nongkrong dan berinteraksi anak sebagai makhluk sosial, sejak dini memang sebaiknya anak kita kenalkan pada lingkungan masyarakat. Karakter tiap-tiap kelompok masyarakat itu sendiri berbeda-beda, pasti ada yang baik dan ada yang buruk. Karena anak tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dan belum mampu mengambil eputusan terhadap dirinya, maka tugas orang dewasa yang ada dalam lingkungan tersebut memberikan pendidikan etika, sopan santun dan adat istiadat serta budaya yang benar dimana seorang anak berada.

Lingkungan disini juga termasuk media yang keberadaannya di luar kontrol orang tua di rumah dan guru di sekolah. Dalam lingkungan masyarakat global. Pengaruh media sangat berbahaya dalam menggiring tumbuh kembang anak kearah negatif atau positif. Penggunaan media online yang berisi konten-konten kekerasan, Hoax dan sejenisnya memberikan stimulus pada siswa untuk melakukan hal yang sama. Tontonan yang tidak mendidik seperti perkelahian, pornografi, dan caci-maki/anarkis yang dipertontonkan juga sangat mempengaruhi sikap dan perilaku generasi penerus.

Kerusuhan, demonstrasi, intoleransi, pemahaman kegamaan yang tidak moderat, saling mengkafirkan, dan diviralkan melaui media social, dinikmati anak usia sekolah tanpa penjelasan dan pemahaman yang baik menimbulkan dampak buruk terhadap anak. Tak jarang anak SMA berkata sesaat setelah berdemonstrasi, dengan bangga bahwa ia berhasil seperti layaknya yang dicontohkan para mahasiswa, mahasiswa pun merasa bangga karena berhasil memobilisasi massa seperti yang dilakukan orang tua/orang lebih dewasa atas nama “membela Tuhan/agama dan sejenisnya”, oleh kelompok tertentu tanpa penjelasan akan makna dan tujuan dari tindakan yang dilakukannya tersebut. Dan ini berlangsung terus menerus sehingga menggiring siswa yang masih usia anak juga meniru aktifitas demo tersebut dan menjadi ironi.

Sebagai Penutup; kita sama tau dan sadar kondisi kebangsaan akhir-akhir ini sangat memperihatinkan. Demonstrasi terjadi hampir semua wilayah, Siswa usia anak sekolahan pun turun kejalan, bahkan ada yang memakan korban. Hanya dengan kejernihan berfikir, keteladanan bersikap, mengedepankan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi, golongan, ras dan agama. Kita dapat keluar dari ujian disintegrasi bangsa ini. Mari kita benahi dan perkuat ketahanan keluarga, menciptakan kondisi yang kondusif di sekolah, para pengambil kebijakan, pemimpin, ulama dan tokoh masyarakat memberikan teladan yang baik khususnya untuk generasi muda penerus masa depan bangsa. Karena kita tau bersama bahwa ditangan anak-generasi mudalah urusan umat dan bangsa kita sandarkan. Jangan biarkan generasi miskin keteladanan.(*)

* Ulfah Mawardi
Dosen/Wakil Sekretaris Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat
Ketua Litbang PP Baitul Muslimin Indonesia (BAMUSI)

You may also like