Foto: Suasa penyerahan bantuan kepada keluarga pak Nanang
Genial - Kemiskinan masih menjadi tantangan bangsa Indonesia. Kesenjangan antara yang kaya dengan yang miskin kian hari semakin tajam dan memprihatinkan. Hari-hari ini, tidaklah sulit untuk menemukan masyarakat yang hidupnya menderita, miskin, lemah, terbelakang, hidup terkatung-katung dengan kebutuhan hidup yang sangat tinggi. Banyak yang kami temukan, di antaranya keluarga Pak Nanang, penduduk asli Kp. Tlajung – Bogor yang kami pilih sebagai obyek dalam gerakan pemberdayaan keluarga Dhuafa yang kami lakukan.

Berangkat dari kesadaran dan spirit Qur’an surat Al-Ma’un ayat 104, kami (Siti Farida, Dwi Apriliana, dan Meila mahasiswa FKIP Uhamka) ingin memberdayakan kaum dhuafa di sekitar kami dimulai dengan melakukan penelusuran (observasi). Setelah kurang lebih satu minggu kami mencari informasi, akhirnya kami menentukan bahwa keluarga Pak Nanang yang layak kami bantu untuk diberdayakan. Alasan kami memilih keluarga Pak Nanang karena keluarga Beliau termasuk kategori kaum dhuafa, Ia memiliki banyak anak, memiliki pekerjaan yang bisa diberdayakan, serta memiliki motivasi untuk menjadi lebih baik.

Pak Nanang (lahir di Bogor,18 April 1970) memiliki seorang istri yaitu Ibu Rumsiyah (lahir di Bogor, 8 Oktober 1976) dan memiliki 5 orang anak laki - laki. Anak yang pertama lahir di (Bogor, 12 Oktober 1994) bernama Ahmad Budiman, anak kedua Muhamad Lukman (Bogor, 20 Juli 2001), anak ketiga Ananda Sudrajat (Bogor, 20 Juni 2004), anak keempat Deni Kusuma (Bogor, 8 Juli 2006) dan yang terakhir adalah Wendi Ardiansyah (Bogor, 31 Januari 2013).

Pak Nanang bekerja sebagai pengrajin jala baja semenjak Ia kecil, pekerjaan itu merupakan pekerjaan yang telah dilakukan turun-temurun dari orang tuanya. Setelah menikah, karena keperluan rumah tangga yang semakin banyak, Pak Nanangpun mencari pekerjaan sampingan sebagai penggali sumur. Dalam proses pembuatan jala baja Pak Nanang hanya bekerja sendiri tanpa bantuan mesin, pembuatannya manual hanya dengan tangan dan beberapa alat bantu. Terkadang anak dan istri Pak Nanangpun suka membantu dalam proses pembuatan jala baja.

Baca Juga: 

Berdayakan Penyandang Disabilitas, Lazismu Salurkan Bantuan Ekonomi Produktif

Istri Pak Nanang bekerja sebagai kuli cuci-gosok di perumahan untuk membantu meringankan biaya rumah tangga. Tetapi, pekerjaan tersebut dilakukan jika ada panggilan saja. Keseharian istri Pak Nanang hanya sebagai ibu rumah tangga. Penghasilan pun tak tentu setiap harinya, anak pertama Pak Nanang menjaga empang saja, anak keduanya hanya jadi tukang parkir di minimarket sedangkan 3 anak lainnya masih bersekolah.

Dari latar belakang keluarga Pak Nanang tersebut kami berniat untuk membantu keluarga Pak Nanang agar bisa meringankan sedikit beban keluarganya. Kami membuka donasi untuk orang-orang yang mau berbagi sedikit hartanya kepada keluarga Pak Nanang. Proses pengumpulan donasi dilakukan selama kurang lebih 1 bulan. Kelompok kami membuat pamflet untuk penggalangan dana dan menyebarkannya di sosial media serta menghubungi kerabat dan teman. Dalam proses pengumpulan dana berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan. Alhamdulillah, kami dapat mengumpulkan dana sebesar Rp. 4.260.000,-. 

Dana yang terkumpul kami salurkan ke keluarga Pak Nanang dalam bentuk barang (keperluan rumah tangga, alat tulis sekolah, dan pakaian) serta sebagiannya dalam bentuk uang cash untuk modal membeli bahan membuat jala baja dan berjualan nasi uduk. 

Keluarga Pak Nanang merupakan penduduk asli Kp. Tlajung – Bogor, sejak kecil mereka memang tinggal di kampung tersebut. Pak Nanang bersekolah hanya sampai kelas 3 SMP tetapi tidak sampai lulus sekolah, sedangkan istri pak nanang tamat SD, anak pertama hanya sampai SMP tidak sampai tamat, anak kedua tamat SD, anak ketiga masih duduk di bangku SMK, anak keempat dan kelima masih duduk di bangku SD.

Saat Pak Nanang duduk di bangku SMP, ia berfikir bahwa pendidikan tidak penting dan hanya membuang biaya, maka Pak Nanang hanya fokus untuk mencari uang. Bahkan anak pertama dan anak keduanya tidak melanjutkan sekolah karena biaya dan kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan. Biaya kebutuhan hidup yang semakin besar dan sulit mencari pekerjaan karena latar belakang pendidikan. Akhirny Pak Nanang berfikir bahwa pendidikan itu sangat penting untuk masa depan anak - anaknya. 

Baca Juga: 

Berkah Pemberdayaan Ekonomi dari Lazismu, Udin Kembangkan Usaha Susu Fermentasinya

Harapan Pak Nanang dan Istri untuk kelima anaknya adalah agar anak - anaknya tidak bernasib sama dengan orang tuanya. Pak Nanang dan istri ingin menyekolahkan anak ketiganya, anak keempatnya dan anak bontotnya sampai ke perguruan tinggi dan bisa meningkatkan derajat orang tua dan nama baik keluarga. 

Harapan Pak Nanang juga ingin memiliki modal untuk membuat pabrik atau toko untuk membuka jala bajanya dan membuka lapangn pekerjaan bagi masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan, kemudian harapan istri pak Nanang yaitu ingin berdagang apabila memiliki modal (nasi uduk).

Respon dari keluarga Pak Nanang mereka sangat berterimakasih dengan adanya donasi ini,  melihat Ibu Rumsiyah dari mimik wajahnya, ia nangis karena bahagia. Serta anak-anaknya merasa senang karena mendapatkan peralatan untuk sekolah mereka. "Terimakasih yah dek adanya kalian membantu ibu, ibu bisa mencari rezeki dengan cara berdagang nasi uduk" kata Ibu Rusmaiyah, dan alhamdulillah kamipun turut bahagia dengan bahagianya keluarga Pak Nanang.

Melalui cerita keluarga Pak Nanang ini, hal yang harus kita refleksikan dan menjadi kesadaran bersama bahwa, sebagai sesama warga bangsa, apalagi sesama umat Islam, sudah seharusnya kita saling membantu meringankan beban sesama. Memang tugas Negara untuk mensejahterakan rakyat, tetapi sebagai warga Negara dan umat Islam sejatinya kita ikut membantu sesama dan sekaligus membantu Negara dalam membangkitkan dan membangun ekonomi keluarga Indonesia, khususnya keluarga dhuafa. Ungkapan John F Kennedy, Presiden ke-35 Amerika yang mengatakan, “Jangan tanyakan apa yang Negara berikan padamu, tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan pada negara”. Sepertinya relevan untuk kita jadikan motivasi bersama dalam membantu saudara sesama warga bangsa yang susah bahkan menderita secara ekonomi.

Di Muhammadiyah sendiri, semangat menolong kesengsaraan umum menjadi salah satu ruh dakwah Muhammadiyah dari waktu ke waktu. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan dari semangat tersebut, lahirlah rumah sakit, poliklinik, panti asuhan, rumah miskin, rumah yatim, dan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat.

“Dasarnya ada pada surat Al-Ma'un, bahwa beragama itu harus terwujud dalam gerakan membebaskan, memberdayakan, dan memajukan masyarakat dhu'afa mustadh'afin. Inilah dasar lahirnya teologi Al-Ma'un sebagai teologi pembebasan,” ajarnya, Selasa (9/5).

Menurut Haedar, teologi Al-Maun memiliki beberapa prinsip. Pertama, Islam sebagai agama amal yang menjunjung tinggi perbuatan baik sebagai bagian dari iman. Kedua, Islam agama pembebasan yang mengangkat kaum lemah dari penindasan. Ketiga, Islam agama praksis, yakni aksi yang bersifat humanisasi dan emansipasi, lalu membawa orang lemah menjadi berdaya dan maju.

Di Muhammadiyah, kata dia, semangat menolong kesengsaraan umum teraplikasi dalam lima gerakan. Antara lain melalui amal usaha kesehatan, pelayanan sosial, gerakan pemberdayaan masyarakat, penanggulangan bencana, serta gerakan lembaga amil zakat infak sedekah (lazis) untuk memobilisasi dana umat.

Semua gerakan itu, menurut Haedar, diarahkan pada program-program lapangan agar orang-orang lemah tidak sekadar disantuni. Tapi mereka bisa menjadi orang-orang yang berdaya, mandiri, dan memiliki kemampuan usaha. (Lihat Harian Republika, Pemberdayaan keluarga dhuafa jadi fokus gerakan Muhammadiyah, 17/05/10).  

Sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, utamanya ketika mendapat mata kuliah kemuhammadiyahan, kami mendapat momentum kesadaran bahwa hidup yang mulia itu tatkala kita dapat membantu sesama, membela yang susah, dan bermanfaat untuk kemanusiaan. Semoga sedikit bantuan yang kami kumpulkan dan salurkan kepada keluarga Pak Nanang dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan keluarganya, khususnya pengembangan ekonomi, sehingga keluarga Pak Nanang tumbuh sebagai keluarga yang mandiri dan mampu menyekolahkan anak-anaknya. Wallahualam *


*Penulis: 
Siti Farida Sarlina, Dwi Apriliana, dan Meila Asysyaffa (Mahasiswa FKIP Uhamka)


You may also like