Ibnu Prakoso
GENIAL.ID, Opini -  Pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia hingga saat ini terus berjuang  melawan pandemi  virus Covid-19 yang memang tidak mudah untuk dihadapi.  Negara sekuat Amerika Serikat (AS) pun  kedodoran karena menghadapi  musuh yang tidak keliatan. Bahkan sampai bisa menembus Gedung Putih, yang mengakibatkan Presiden Donald Trump dan istri harus menjalani karantina dan perawatan khusus.

Di tengah seriusnya pemerintahan Jokowi-Amin dan jajarannya bekerja keras menghadapi pandemi ini, ada saudara-saudara kita sesama anak bangsa pada tanggal 18 Agustus 2020  mendeklarasikan diri, dan menyatakan diri sebagai kelompok penjaga "Moral Bangsa", dan menamakan dirinya "KAMI".

Pada mulanya penulis cukup menghargai dengan KAMI ini yang mana akan menambah dinamika dalam alam demokrasi yang sudah kita sepakati bersama. Tapi dalam gerakannya, semakin lama kurang simpati dengan melakukan deklarasi di daerah-daerah yang tidak mengikuti protokol kesehatan yang harus kita laksanakan dengan "tingkat disiplin yang tinggi".

Selain itu,  dalam gerakannya menghembuskan isu-isu yang bisa memecah warga bangsa, khususnya TNI, hubungan antara TNI/Polri, isu PKI dan buruh.  Beruntung situasi dan kondisi sekarang ini kepemimpinan TNI/Polri dalam satu komando yang kuat, punya integritas, tegak lurus dalam politik negara bukan politik praktis. Politik negara adalah kesetiaan kepada rakyat dan wilayah NKRI serta pemerintah yang sah. 

Coba bisa kita bayangkan jika TNI/Polri tidak "Solid", maka akan terjadi peristiwa seperti tahun 1965. Sebab yang bisa mengkudeta pemerintah adalah yang pegang senjata dan punya pasukan. 

Sebagai sesama anak bangsa dan mempunyai jiwa patriotisme, cinta Tanah Air, alangkah baik dan indah jika dalam berpolitik dan bernegara selalu mengedepankan sikap sebagai seorang negarawan yang menghormati dan  menghargai konstitusi, yang merupakan hasil kesepakatan. Siapa pun WNI boleh dan mempunyai mimpi untuk menjadi pemimpin nasional atau presiden dan memang kalau bisa bermimpilah setinggi bintang di langit, karena sebuah mimpi tidak ada yang melarang. 

Namun ada sedikit catatan yang harus dipenuhi untuk menjadi presiden yang akan datang, diantaranya calon tersebut harus  mempunyai kualifikasi yang tidak terafiliasi atau menjadi pendukung gerakan yang mau menjadikan Negara Islam Indonesia, karena ini sudah keluar dari kesepakatan para pendiri bangsa. 

Selain itu juga adalah sosok yang anti korupsi, dalam arti harta, kekayaan dan makanan yang disantap hari ini tidak ada jejak korupsi. Juga sosok yang menghormati dan menghargai lembaga keluarga/wanita, dalam arti cukup satu istri saja. Kenapa ? Sebab ketahanan suatu bangsa sangat ditentukan oleh ketahanan keluarga-keluarga yang ada di dalamnya. 

Dan untuk para donatur dan penggembira KAMI, semoga dengan catatan ini bisa membuka mata, apakah calon yang sekarang ini dielus-elus pantas untuk diajukan ke Partai Politik dalam perhelatan tahun 2024 nanti. Jika pantas silahkan lanjutkan ! Dan jika tidak pantas, silahkan untuk cari sosok lain yang punya kapasitas. Kecuali kalau mempunyai tujuan atau taktik yang lain.

Bersyukur sekarang ini kita punya Presiden Jokowi, pribadi yang menghargai lembaga perkawinan, anti korupsi,  menghargai dan menghormati kesepakatan para pendiri bangsa, yaitu tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki empat (4) konsensus bangsa yaitu Pancasila, UUD'1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. 

Mengapa harus ada kriteria diatas ? Sekarang jaman "Now" semua informasi sudah terbuka dan Indonesia punya sejarah yang harusnya hari ini Bangsa Indonesia lebih maju seperti bangsa lain. Ukuran salah satunya adalah menguasai teknologi dan informasi,  rakyat hidup makmur, adil dan sejahtera.  Semoga catatan di atas bermanfaat dan bisa mencerahkan. [*] 

Oleh: Ir. Ibnu Prakoso
Penulis merupakan politisi, alumni PPRA LVIII Lemhannas RI-2018


You may also like