Bung Karno dan Gamal Abdul Naseer/Net
GENIAL. ID. Dua dasawarsa silam, ketika menulis buku "Religi dan Religiusitas Bung Karno", saya sempat diskusi singkat dengan Gus Dur tentang popularitas Bung Karno di Timur Tengah. Ahmed Sukarno, begitu namanya dieja di negara-negara Arab, secara umum dikenal sebagai proklamator kemerdekaan, salah satu pendiri bangsa dan presiden Republik Indonesia.
 
"Ahmad Sukarno", demikian Qâmûs Al-Munjîd, yang editornya Louis Ma’luf, seorang Kristen Maronit dari Lebanon, menulis: siyâsiyun Indûnîsiyun a’lana istiqâlu baladihi ‘an Haulandâ (seorang politikus Indonesia yang memproklamasikan kemerdekaan negerinya dari Belanda).
 
Namun lebih dari itu, sebagai "pemikir-pejuang" dan "pejuang-pemikir", Bung Karno tidak hanya bisa mengimpor ide-ide modern Barat, seperti yang lazim dilakukan oleh negara-negara bekas jajahan yang akhirnya berhasil memerdekakan dirinya, melainkan menawarkan Pancasila sebagai Philosophische Gronslag atau Dasar Falsafah bagi negaranya yang digali dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, namun karena nilai universal dari weltanschauung yang digagasnya itu, dengan yakin bahkan Bung Karno telah menawarkannya kepada dunia.
 
Bung Karno adalah pemimpin besar dunia yang disegani kawan dan lawan politiknya, dan kemasyhurannya mengatasi bangsa-bangsa. "Pada hari ini”, kata Syekh Mahmud Syaltut dalam kata sambutannya di Universitas Al-Azhar ketika penganugerahan gelar Doktor Honoris kepada Bung Karno, tanggal 24 April 1964: 
فإن الأزهر باستقبال فخامتكم اليوم إنما يستقبل قائدا عظما من قواد حركات التحرير في البلاد الإسلامية. 

"Al-Azhar menyambut Paduka Yang Mulia sebagai salah seorang pemimpin besar gerakan kemerdekaan di negara-negara Islam."

Lebih-lebih dalam hubungan kekerabatan Mesir-Indonesia, Bung Karno yang dikenal dekat dengan Presiden Gamal ‘Abdel Nasser itu, khususnya saat-saat membaranya revolusi Mesir sejak tahun 1952, kemasyhuran Sang Putra Fajar tak diragukan lagi. Sosok Ahmad Sukarno banyak menginspirasi perjuangan Mesir,  khususnya setelah diselenggarakannya Konperensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955.
 
Konon, Gamal Abdel Nasser menggelari Bung Karno sebagai  Za’îm al-‘âlam al-‘Arabî (Pemimpin Dunia Arab). Bahkan Sang Presiden Republik Mesir itu, mengaku diri sebagai murid dari gerakan revolusi Sukarno.
 
Kaharuman nama Bung Karno di negeri Piramid tersebut bukan hanya dibuktikan dengan terkenalnya "Mangga Sukarno" yang ditanam Bung Karno di negeri sahabatnya itu, atau diabadikannya nama Pemimpin Besar Revolusi kita sebagai nama jalan di Cairo , tetapi juga turut disosialisasikannya pemikiran-pemikiran revolusioner Bung Karno. Mesir selalu mengamati perjuangan Indonesia yang saat itu sangat mewaspadai bangkitnya kolonialisme dan imperialisme baru, yang disebut Bung Karno sebagai Nekolim (Neokolonialime-Imperialisme).
 
Salah satu buktinya, tak lama setelah pidato bersejarah Bung Karno yang berjudul “Penemuan Kembali Revolusi kita”, tanggal 17 Agustus 1959, terjemahan pidato ini telah diterjemahkan dalam bahasa Arab “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ”, diterbitkan oleh Dâr al-‘Arabiyyah li al-‘Ulûm, Cairo, 1959. Pada bagian akhir terbitan pidato Bung Karno dalam bahasa Arab ini, dicantumkan glossary tentang falsafah bangsa Indonesia, khususnya Pancasila, yang dalam bahasa Arab diterjemahkan sila demi sila:
(1)  الإيمان بالله, Keimanan kepada Allah.
(2) الإنسانية, Kemanusiaan
(3)  القوميه الإندونيسيا , Kebangsaan Indonesia.
(4)  سيادة الشعب ,  Kedaulatan Rakyat.
(5) العدالة الاجتماعية , Keadilan Sosial
 
 
Selain Pancasila yang diterjemahkan dengan  al-Mabâdi al-Khamsah, sesanti dalam lambang negara kita yang berasal dari bahasa Jawa kuno “Bhinneka Tunggal Ika” diterjemahkan  al-Ta’addud fî al-Wihdah, sekaligus dijabarkan maknanya: ay ‘an ‘Indunisiyâ bi ragmi min ta’addud ‘aqâlîmihâ wa qâbâ’ilihâ takûnu wahdatan mutamâsikatan”  (yaitu bahwa Indonesia meskipun terdiri dari berbagai wilayah dan suku bangsa yang berbeda-beda, namun bersatupadu dalam kesatuan yang teguh).
 
Ungkapan “gotong royong”, yang dalam pidato Bung Karno 1 Juni 1945 disebut “ekasila” diterjemahkan al-Ta’âwun al-Musytarak” (A. Ginanjar Sya’ban, 2015).

Sebagaimana pidato bersejarah Bung Karno yang lain, misalnya  “To Build the world A New” (Membangun Dunia Kembali) di depan sidang umum PBB, tanggal 30 September 1960, terjemahan Pancasila dalam buku al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ ini,  lebih mengacu pada kebiasaan Bung Karno dalam menjelaskan Pancasila, hanya urutannya saja yang disesuaikan.
 
Bagaimana dengan rumusan Pancasila dalam Pembukaan UUD 1945?
 
Demikian terjemahan sila-sila Pancasila itu dalam bahasa Arab:
(1) الْوَاحِدَةُ الرَبَّانِيَّةُ , Ketuhanan Yang Maha Esa.
(2)  الإِنْسَانِيَةُ العَادِلَةُ المُهَذَّبَةُ, Kemanusiaan yang adil dan beradab
(3) . اِتِّحَادُ إنْدُ وْنِيْسِيَا Persatuan Indonesia
(4)  الشَّعْبِيَةُ المُوَجَّهَةُ بِاْلحِكْمَةِ الْمَوْعِظَةِ فِي الشُّوْرَى النِّيَابِيَةِ, Kerakyatan yang dilimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
(5)   اَلْعَدَ الَةُ الإِجْتِمَاعِيَّةُ لِجَمِيْعِ شُعُوْبِ الَإنْدُ وْنِيْسِيِّ , Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
 
Bung Karno yang gandrung dengan persatuan menemukan kata kuncinya bukan melalui istilah-istilah Barat, tetapi dalam prinsip "goyong royong", antara yang kaya dan miskin (tidak seperti Marxisme yang menempatkan keduanya dalam kutub-kutub pertentangan), antara Islam dan Kristen (berbeda dengan sistem teokrasi yang men-"subordinasi"-kan agama-agama lain dari agama negara), antara yang Indonesia tulen dengan yang peranakan. "Inilah saudara-saudara", kata Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945, "yang saya tawarkan kepada saudara-saudara" (Bernhard Dahm, 1987:425-436).
 
Nah, meskipun membaca teks Pancasila dalam bahasa Arab tidak akan lebih “syar’i”, namun secara psikologis mungkin lebih menyentuh relung-relung batin keagamaan seseorang. Tetapi kalau misalnya dengan di-“logat-arab”-kannya Pancasila menjadi بَنْجَاسِيْلا , lengkap dengan maknanya wa hiya al-mabâdî’u al-khamsati tushbihu falsafati daulati Indûnîsiya (yaitu lima asas filsafat negara Indonesia), ada yang tidak lagi meragukannya, ya syukurlah.
 
Kalau rakyat Mesir saja sangat mengagumi Bung Karno dan terinspirasi dengan “jalan revolusi”-nya, mengapa kita tidak membanggakannya, bahkan bangsa kita sendiri pernah mengkhianatinya? [pmu]
 
Bambang Noorsena
 

You may also like