Ian Suherlan/Net
GENIAL.ID. Bendungan Ciawi dan Sukamahi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat tercatat sebagai dry dam atau bendungan kering pertama di Indonesia. Istilah bendungan kering” mungkin masih asing terdengar di telinga, karena bendungan umumnya “basah” dengan air yang tergenang. Keterasingan akan istilah “bendungan kering” dapat dimaklumi, karena memang baru pertama kali sepanjang sejarah bendungan di Indonesia dibangun bendungan kering.

Berbeda dengan bendungan-bendungan umumnya yang menampung air, bendungan kering ini tidak menampung air dalam waktu lama. Bendungan kering hanya menampung air sementara ketika musim hujan tiba. Setelah musim hujan selesai, maka bendungan tersebut tak lagi berair seperti umumnya bendungan. Lokasi yang semula tergenang akan kembali kering seiring dengan selesainya musim hujan dan mengalirnya air ke hilir.

Dalam kondisi normal, air sungai akan dibiarkan mengalir dengan bebas. Ketika curah hujan tinggi yang berpotensi menimbulkan banjir, bendungan ini menahan kelebihan air dan mengalirkannya secara terkendali agar di daerah hilir tidak terjadi luapan air. Jika bendungan-bendungan pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan air baik untuk irigasi, air baku, maupun pembangkit tenaga listrik serta mengendalikan banjir, “bendungan kering” hanya bertujuan untuk mengendalikan banjir.

Bendungan kering merupakan salah satu konsep penataan sumber daya air yang tujuan utamanya mengatur debit air. Konsep dry dam ini dirintis oleh Miami Conservancy District yang membangun lima bendungan pada Sungai Miami Raya (Great Miami River) untuk mencegah banjir di lembah Miami dan Dayton, Ohio, USA. Seperti yang dilansir www.mcdwater.org, sistem pengendalian banjir ini telah melindungi kota-kota di sepanjang Sungai Miami Raya sejak 1922.

 Bendungan Ciawi dan Sukamahi merupakan bagian dari proyek strategis nasional di bidang sumber daya air. Dari 61 bendungan yang telah dan sedang dibangun dalam kurun 2015-2024 oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat—yang terdiri dari 16 bendungan lama dan 45 bendungan baru—hanya Bendungan Ciawi dan Sukamahi yang berstatus “bendungan kering”.

Pembangunan kedua bendungan yang dikelola oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane ini merupakan bagian dari rencana induk pengendalian banjir Jakarta dan sekitarnya yang direncanakan rampung pada 2021. Gagasan pembangunan Bendungan Ciawi dan Sukamahi sebenarnya sudah ada sejak 2005, bahkan Bendungan Sukamahi, sudah lebih lama direncanakan, yaitu sejak 1990-an namun kegiatan konstruksinya baru dimulai tahun 2016.

Berdasarkan penghitungan Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), Bendungan Ciawi didesain dengan kemampuan daya tampung 6,45 juta M³ dan luas genangan 39.40 hektar. Bendungan ini akan mengurangi debit banjir yang masuk ke Jakarta dengan menahan aliran air sejumlah sungai dari Gunung Gede dan Gunung Pangrango sebelum sampai ke Bendungan Katulampa yang kemudian mengalir ke Sungai Ciliwung. Jika mulai beroperasi, Bendungan Ciawi dapat mengurangi debit banjir sebesar 160 M³/detik.

Sedangkan Bendungan Sukamahi, volume dan kapasitas tampungnya lebih kecil dibanding Bendungan Ciawi, yaitu sebesar 1,68 juta M³ dan luas area genangan hanya 5,23 hektar. Bendungan ini menahan air dari Sungai Sukabirus yang dapat mengurangi debit banjir sebesar 29 M³/detik. Penyelesaian proyek kedua bendungan ini agak lambat dari yang ditargetkan, karena terkendala pembebasan lahan. Pekerjaan fisik Bendungan Ciawi dan Sukamahi hingga Desember 2020 rata-rata mencapai 65 persen.

Meskipun Bendungan Ciawi dan Sukamahi dapat mengurangi debit banjir, namun tak akan cukup untuk menyelamatkan Jakarta dan sekitarnya dari bencana banjir. Dengan kapasitas kedua bendungan sebesar 8,13 juta M³, maka daya dukungnya terhadap pengendalian banjir tak begitu besar. "Bendungan Ciawi dan Sukamahi ini akan mengurangi masalah banjir di Jakarta kurang lebih 30 persen," kata Presiden Jokowi saat melakukan peninjauan ke kedua bendungan tersebut 2017 lalu.

Dengan demikian, kehadiran Bendungan Ciawi dan Sukamahi baru dapat mengurangi sepertiga “pasokan” air dari hulu Sungai Ciliwung yang mengakibatkan Jakarta banjir. Oleh sebab itu, masih banyak pekerjaan lain yang harus dikerjakan secara terpadu dari hulu sampai hilir yang memerlukan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota yang berada di kawasan Jabodetabek

 Masalah di hulu lainnya adalah kerusakan hutan dan lahan di kawasan Puncak. Berdasarkan data Forest Watch Indonesia (FWI), kawasan Puncak mengalami kerusakan hutan dan lahan sepanjang tahun 2000-2016 seluas 5.700 hektar karena berubah fungsi menjadi hutan produksi, pertanian, dan permukiman. Pemerintah mesti meninjau ulang atau bahkan moratorium alih fungsi hutan dan lahan di kawasan tersebut.

Sedangkan masalah di hilir antara lain perpercepatan penyelesaian normalisasi Sungai Ciliwung yang baru rampung 16 Km dari target 33 Km, pembuatan terowongan penghubung antara Ciliwung ke Kanal Banjir Timur yang baru selesai 600 meter dari target sepanjang 1,27 Km, dan tentu saja peningkatan disiplin warga dalam menjaga lingkungan.

Jika kelak Bendungan Ciawi dan Sukamahi beroperasi dan berhasil mengurangi sepertiga masalah banjir di Jabodetabek, mungkin model “bendungan kering” ini dapat diterapkan di daerah lain yang masalahnya kurang lebih sama seperti yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya. [***]

Ian Suherlan

Peneliti Policy Research Center (PRC)

You may also like