Istimewa
Genial - Beberapa tahun lalu ia terserang stroke yang melumpuhkan separuh tubuhnya, tapi tak mematahkan minatnya pada politik. Ia turut membentuk Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi), sayap Islam dalam PDI Perjuangan, yang baginya patut ada di tenda besar nasionalis itu.

Minatnya pada sejarah dan geografi membuat Bang Cholid juga berbeda dari kebanyakan rekan militernya. Dan ia merupakan satu-satunya perwira Angkatan Darat (AD) Indonesia yang belajar di dua sekolah militer Amerika Serikat.

Semua perwira AD kebanyakan belajar di Fort Benning atau Forth Leavenworth. Sebagian kecil belajar di US War College. Hanya Bang Cholid yang menikmati studi di keduanya.

Mungkin itulah, terutama untuk studinya di War College, yang membuatnya menekuni aspek-aspek strategis ketentaraan dan geopolitik. Ia pernah mengeluh hampir tak ada rekannya yang mendalami aspek yang sangat penting itu. 

“Padahal hal itu mutlak ditekuni,” katanya. “Kita harus tahu postur ideal suatu pasukan dalam keadaan umum maupun khusus. Situasi tertentu membutuhkan jumlah pasukan dengan spesifikasi masing-masing; berapa dan jenis senjata apa yang diperlukan; kapan mereka dikerahkan, dan sebagainya.” 

Hanya dengan memahami hal tersebut secara tajam, menurutnya, maka pengerahan pasukan akan efisien dan membuahkan hasil optimal.

Mungkin karena itu pula Bang Cholid menggandrungi permainan catur dengan dosis yang kadang sulit dipercaya. “Kepala saya pusing kalau tidak main catur,” katanya dengan datar, tanpa bermaksud menonjolkan ironi bahwa pada kebanyakan orang, hal sebaliknyalah yang selalu terjadi.

Stroke tak merintanginya untuk selalu dengan susah payah menggerakkan tangan kanannya untuk melakukan langkah diagonal gajah atau sekadar menggeser bidak selangkah. Kadang saya menyesali kenapa saya membuat meja makan selebar itu sehingga membuatnya kesulitan jika kami bertanding di rumah saya -- dengan hasil akhir yang selalu sama: saya kalah telak.

Akalnya selalu panjang, sangat panjang, untuk lolos dari jepitan keras dan akhirnya berhasil membalikkan keadaan. Saya hanya bisa memendam kejengkelan bahwa seandainya kami bermain dengan batasan jam catur seperti lazimnya dalam pertandingan profesional, pastilah dia sudah kalah sejak tadi. 

Tapi tidak ada yang sanggup menjinakkan kegigihannya menyimulasi berpuluh-puluh kemungkinan manuver untuk berkelit dari himpitan lawan -- tidak juga waktu. Ia bisa tahan memikirkan segala kemungkinan langkah itu selama 15-20 menit, sambil tak peduli pada lawan yang menunggunya dengan kesal.

Kadang-kadang Bang Cholid memberitahu saya bahwa pekan depan ada pertandingan internasional di sebuah hotel, dan dia mengajak untuk menontonnya. Saya tak pernah memenuhi ajakannya; dan dari lokasi pertandingan dia akan menelepon lagi sebagai upaya terakhir untuk meyakinkan saya bahwa pertandingan yang bakal sangat seru itu patut disaksikan.

Lulus dari Akabri pada 1965, Cholid Gozali menyandang dua bintang saat pensiun, setelah menduduki begitu banyak jabatan di TNI; bahkan pernah sekretaris jenderal di Departemen Perindustrian dan komisaris di sebuah BUMN, selain menjadi petinggi di Percasi.

Ia juga melakukan hal yang hampir tak pernah dikerjakan oleh kolega atau bekas rekannya di TNI AD: menulis kolom di majalah. Ia sedih penyakitnya menghalanginya mengerjakan olah intelektual yang digemarinya itu. 

Ia mengeluh bahwa kekuatannya untuk menjalankan hobi besarnya yang lain, membaca buku, juga sangat berkurang. Tapi puncak kesedihannya, yang membuat hatinya seakan luluh-lantak dan mengubah dirinya selamanya, adalah kehilangan seorang cucu laki-laki dengan cara yang teramat mengguncang jiwanya beberapa tahun silam.

Kami hanya bisa menangis bersama saat saya menyampaikan duka cita itu kepadanya. Saya hanya sanggup menggigit bibir dan menelan cairan hangat ketika saya mendengar isak tangisnya di ujung telepon.

Saya bahagia karena sempat membantu Bang Cholid menuntaskan buku semi-biografinya hingga menjadi bentuk yang membuatnya terkejut gembira. Mohon maaf, Bang Cholid, saya ternyata tidak mampu membantu untuk penerbitan edisi revisi buku itu. Kita juga mestinya menuntaskan pembuatan buku lain yang pernah kita bicarakan.

Telah lama kami tak bertanding. Sudah lama saya tak menggerakkan  buah-buah catur koleksinya yang dia dapatkan di Moskwa, Warsawa atau tempat-tempat lain. 

“Orang-orang kalau ke luar negeri selalu belanja barang-barang,” katanya sambil tersenyum. “Saya hanya belanja papan dan buah catur.” Ia pantas bangga dengan koleksinya yang memang bagus-bagus itu.

Pukul 8.10 pagi tadi saya mendengar Mayor Jenderal TNI Cholid Gozali memejamkan mata dan tak akan pernah lagi membukanya. Langkahnya selama 78 tahun terhenti.  Orang Majenang yang besar di Sumatera Selatan itu kali ini benar-benar terdesak. Saya tidak ingin menduga-duga manuver apa yang sedang ia pikirkan berulang-ulang untuk berkelit dari himpitan.

Saya memilih untuk berterima kasih kepada Bang Cholid, sambil membendung air mata, untuk persahabatannya yang hangat. Untuk kebaikan hati dan sikap kebapakannya. 

Dan untuk pelajaran penting yang ia berikan tanpa sengaja: bahwa apapun yang terjadi, kondisi apapun yang menjepit kita, menyerah adalah kata yang tidak boleh ada dalam kamus hidup. 

Never ever give up! Jangan pernah menyerah, kecuali jika segala bentuk pertahanan telah kita upayakan dan gagal. Seperti yang kadang-kadang terjadi pada Bang Cholid dalam pertandingan kami. *

*Penulis: Hamid Basyaib

You may also like