Ilustrasi
Pentingnya Keterampilan Mendengar

GENIAL.ID, Tafkir - Suatu hari saya bertanya pada seorang kawan, yang kebetulan hadir dalam meeting kantor, ketika saya berhalangan hadir. Meeting itu telah membahas sesuatu yang penting, yaitu tentang teknis pemberangkatan ke lokasi tempat kami dinas ke pelosok-pelosok. Karena saya ketinggalan info, maka saya menanyakan beberapa hal mendasar tentang teknis pemberangkatan tersebut kepadanya. Poin pertanyaan saya diantaranya adalah, pukul berapa akan berangkat, pakai seragam yang mana, dan hari apa kita bisa kembali pulang.

"Soal kendaraan gue kurang pasti ya, kalau enggak salah kita bawa Jeep atau apa minibus gitu ya...sepertinya yang Jeep ya... tadi enggak jelas juga tuh, pokoknya daerahnya kan banyak tanjakan gitu ya, bro."

Begitu rentetan jawabannya. Kata-kata 'kurang pasti', 'sepertinya' dan 'enggak jelas' itu membuat saya kontan mengerutkan dahi.

"Seragam boleh pakai apa saja kalau tidak salah. Untuk di perkebunan, atasannya kita pakai seragam, bawahnya boleh pakai jeans. Begitu rasanya ya kata panitia..."

Kata-kata 'kalau tidak salah' dan 'begitu rasanya' membuat saya semakin ragu. Wah, mesti tanya sendiri ke ketua panitia nih kalau begini, pikir saya ketika itu.

Hal-hal seperti ini seringkali saya alami. Atau saya duga sering juga dialami orang lain pada umumnya. Bisa saja terjadi di lingkungan pekerjaan, saat kita ketinggalan pertemuan orangtua murid, atau saat ada rapat rukun warga, dan kita tak ikut sebab ketiduran atau memang malas datang. Semuanya membuat kita tertinggal informasi penting.

Pada kesempatan ini, kita tidak akan membahas soal mengapa dan bagaimana agar kita tak tertinggal informasi itu. Tetapi, kita akan membahas, mengapa orang yang hadir dalam pertemuan atau rapat, ketika diminta untuk menyampaikan info atau menjelaskan hasil rapat, terkadang tidak bisa memuaskan penanyanya. Bahkan terkadang malah serupa dengan yang tidak hadir. Sama-sama ragu dan tidak tahu, apa sebetulnya yang tadi disampaikan dalam pertemuan yang ia ikuti.

Ismail Marahimin, seorang akademisi bahasa dan novelis Indonesia pada tahun 80an mengatakan, hal tersebut diduga terjadi karena orang yang hadir di pertemuan itu 'tidak bisa mendengar'. Bukan tidak mendengar dalam artian budeg atau tuli. Melainkan tak bisa menangkap isi pembicaraan dalam pertemuan. Meskipun pembicara telah menyampaikannya secara lengkap dan jelas.

Tapi hal itu bukanlah mutlak kesalahan para pendengar yang 'tidak bisa mendengar' itu, ujar beliau. Menurut beliau, salah satu penyebabnya secara tak langsung adalah, karena mendengar memang tidak diajarkan secara formal di sekolah-sekolah kita.

Ada sebuah kata mutiara. Saya belum gugling atau cek literatur, tepatnya dari siapa. Dikirim oleh tetangga saya di grup whatsapp kompleks rumah yang isinya begini : "Mulut kita satu, telinga kita dua, artinya Tuhan memerintahkan kita untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara."

Walaupun belum tahu pasti, apakah kalimat itu diucapkan oleh seorang tokoh terkemuka, atau dari kebetulan saja yang mengirim menyadurnya dari dinding warung mie ayam dekat kompleks (yang penuh quotes dalam bingkai kayu), namun bila direnungkan rasanya ada benarnya juga kata mutiara itu. Minimal, ada secercah keinsyafan, bahwa kegiatan mendengar itu sangat penting, setelah merenungkan hakikat fungsi dari salahsatu panca indera kita tersebut.

Listening Wisdom

Umumnya kita menganggap untuk eksis maka harus bisa atau berani berbicara. Untuk menyatakan opini dalam rapat, untuk menyatakan pendapat kepada khalayak, hingga untuk menyatakan cinta agar gebetan terpikat, porsi perhatian kita lebih besar pada pertanyaan : bagaimana berbicara, bukan bagaimana mendengarkan.

Bukan salah kita dan mereka yang awam jika selama ini punya asumsi begitu. Sebab sebagaimana mendengarkan tidak menjadi mata pelajaran di sekolah-sekolah, kutipan yang sering kita lihat di dinding kelas kita dulu, yaitu "diam itu emas", kerap dimaknai sekadar duduk mendengarkan saja. Hanya berhenti pada maksud, agar murid diam selama guru mengajar.

Peribahasa itu redaksi lengkapnya sebenarnya adalah, "bicara itu perak, diam itu emas". Diterjemahkan dari salahsatu paragraf dalam novel sastrawan Inggris, Thomas Carlyle, yang berjudul Sartor Resartus (terbit tahun 1833).  Umur peribahasa itu sudah lebih dari 100 tahun lamanya jika berpatokan pada usia novel tersebut. Mengisyaratkan, sejak dahulu sekali proses mendengar ini, jika saya mengartikan diam adalah mendengarkan dengan baik dan seksama, sudah dipandang lebih utama daripada berbicara.

Abu Hurairah, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, meriwayatkan sebuah sabda Nabi yang epikal, yang memiliki benang merah atau beririsan makna dengan proverb yang dikutip Carlyle diatas. “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”begitu Nabi bersabda.

Diam dalam sabda Nabi SAW yang dimuat dalam kitab Shahih Bukhari itu dimaknai oleh kolumnis muslimah asal Kanada, Heba Al Sharif, sebagai bukan sekadar diam. "Silence is a great gift, because it can allow all the parties involved time to think and reflect on what they want to say and what is being said."tulisnya dalam artikel “What Did You Say?” : The Art of Listening. Jadi diam dalam hadits tersebut bukanlah sekadar duduk, mendengar, dan tidak melakukan apa-apa. Diam yang disabdakan Nabi itu hendaknya dimanfaatkan untuk merenung dan berpikir, tentang apa yang terbaik untuk disampaikan sebagai respon, berikut kalimat terbaik mana yang digunakan untuk menyampaikannya.

 Menjadi Pendengar Yang Baik

Dalam kosa kata bahasa Inggris, ada dua kata yang berpadanan dengan kata dengar. Ada kata 'listen' dan ada kata 'hear'. Kata mendengar diverbalkan dengan kata 'listening' atau 'hearing' dalam pengucapan bahasa Inggris.

Walau sama-sama mengandung arti mendengar, 'listening' berbeda dengan 'hearing' secara maknawi. 'Hearing' terkait dengan apakah telinga kita sanggup mendengar bunyi atau suara. Sedangkan 'listening' lebih dari itu. Ia terkait dengan apakah kita mengerti kata/kalimat, serta mampu memahami apa yang disampaikan oleh orang yang berbicara.

Keterampilan mendengar atau 'listening' ini memiliki fungsi yang sangat penting dalam hubungan antar manusia. Keterampilan ini adalah dasar dari hubungan personal dan komunikasi yang berkualitas, terutama jika kita ingin menarik atensi, dan memengaruhi seseorang ataupun sekelompok orang.

"Untuk menjalin hubungan yang baik dan memberi kesan saat berjumpa dengan seseorang, atau saat hadir di tengah suatu kelompok, kita cukup menjadi pendengar yang baik,"kata Dr.Rachel Naomi Remen.

"Menjadi pendengar yang baik lebih penting daripada berbicara. Pendengar yang baik dapat lebih memahami kondisi orang lain, sehingga dapat memilah mana kalimat terbaik untuk disampaikan dan mana kata-kata yang tak perlu disampaikan."tambah kolumnis Caleb Storkey.

Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa menjadi pendengar yang baik ?

Apa saja syarat yang dibutuhkan oleh seseorang sehingga dia bisa terkriteria sebagai pendengar yang baik ?

Pendengar yang baik sederhananya bisa dikenali dari tiga perilaku. Pertama, dia tidak berbicara ketika orang lain berbicara. Kedua, menunjukkan dirinya sedang menyimak yang berbicara lewat ekspresi wajah atau gerak-gerik tubuh. Ketiga, bisa mengulang secara verbal apa-apa yang disampaikan oleh orang yang berbicara di hadapannya, ketika dikonfirmasi.

Ketiga hal tersebut kelihatannya mencukupi jika dipraktekkan pada momen-momen informal, yang sederhana, semisal saat kita menjadi pendengar dihadapan pasangan, anggota keluarga, pertemuan warga, atau rapat-rapat kecil di kantor. Namun untuk menjadi atau disebut pendengar yang excellent, tentu saja upaya-upaya itu belum mencukupi.

Mendengar Tingkat Advance

Menjadi pendengar yang baik adalah keterampilan dasar yang bisa meningkatkan kualitas diri kita dalam pergaulan sehari-hari, dalam lingkup lingkungan sekitar. Menjadi pendengar yang excellent adalah tahap berikutnya yang harus ditempuh, jika kita ingin kemampuan mendengar kita membuat diri kita berkembang dalam karir pekerjaan, atau dalam lingkup human relations dan business relations yang lebih luas.

Jack Zenger dan Joseph Folkman, dua petinggi perusahaan konsultan Zenger/Folkman, menyampaikan uraian berikut tips, bagi personal maupun institusi yang ingin mengembangkan keterampilan mendengar ini, untuk pencapaian-pencapaian pribadi atau organisasi yang lebih tinggi. Dikutip dari artikel yang mereka tulis bersama dan dimuat dalam Harvard Business Review, mereka menguraikan empat ciri dan bentuk proses yang bisa diupayakan, untuk mengoptimalkan benefit dari keterampilan mendengar ini.

Pertama, pendengar yang baik, lebih dari sekadar diam ketika orang lain berbicara. Pendengar yang baik secara berkala dan teratur mengajukan pertanyaan, yang mendorong solusi dan memperjelas manfaat serta output dari pertemuan.

Kedua, pendengar yang baik, dalam interaksinya selalu berupaya membangun harga dirinya, harga diri pembicara, dan harga diri setiap orang yang hadir mendengarkan. Pendengar yang baik membuat lawan bicara merasa didukung dan dipercaya. Jika pendengar yang baik ini berkumpul dalam suatu pertemuan, maka akan terwujud situasi dan kondisi yang aman, di mana masalah dan perbedaan dapat didiskusikan secara terbuka.

Ketiga, pendengar yang baik memandang diri dan pembicara dalam sudut pandang kooperatif. Dalam interaksinya ia memberikan feedback secara halus, tanpa upaya defensif atau dalam rangka memenangkan argumen pribadi. Pendengar yang baik mungkin saja tidak setuju dengan apa yang disampaikan pembicara. Namun pendengar yang baik lebih menunjukkan respon untuk membantu, daripada memenangkan perdebatan.

Keempat, pendengar yang baik cenderung memberi saran daripada kritik dan nyinyiran. Artinya, jika ada yang tak sesuai dengan pandangan dan hati nurani, ia menyampaikan keberatannya dengan cara yang dapat diterima oleh pembicara, dan juga orang lain yang mendengarkan. Dengan begitu, memberi saran berarti bukan hanya sekadar terkait dengan isi dari saran tersebut. Melainkan terkait pula dengan bagaimana cara penyampaiannya.

Fiuh, ternyata, cukup kompleks juga ya uraian tentang 'listening' atau 'mendengar' ini. Mudah-mudahan, sampai di sini, kita bisa menyadari bahwa untuk menunjukkan eksistensi dalam pergaulan formal maupun informal, tidak cukup dengan keberanian dan keterampilan berbicara. Baru utuh jika dilengkapi juga dengan, keterampilan dan keberanian untuk mendengarkan.

Sejatinya, bukan hanya dengan bicara orang-orang merasa kita ada atau eksis. "Aku mendengar, maka aku ada." Dengan menjadi pendengar yang baik sebagaimana telah diuraikan diatas, kita bahkan bisa lebih mengoptimalkan eksistensi dan kualitas pribadi serta kelompok.

 

* Oleh : A Eddy Adriansyah

Penulis adalah koresponden Genial.Id dari Inggris dan pegiat Tajdid Institute

You may also like