Nova Andika/Net
GENIAL. Pernyataan mantan Sekjen Demokrat Marzuki Ali bahwa SBY melakukan upaya pencolongan sehingga Megawati Soekarnoputri kecolongan dua kali, merupakan bukti bahwa SBY mempraktekkan politik viktimisasi. Sebab di saat yang sama, di hadapan publik di tahun 2004 itu, SBY merengek kemana-mana merasa didzalimi.

“Pernyataan Marzuki ini membuat SBY terlihat berusaha memanipulasi keadaan dengan tujuan tertentu, yaitu untuk mengkonstruksi kepentingan politiknya sendiri menjelang kontestasi Pilpres tahun 2004 saat itu,” kata pengamat Indonesia Bureaucracy and Service Watch (IBSW), Nova Andika.

Nova sependapat dengan ungkapan Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, bahwa apa yang dilakukan SBY itu merupakan bukti SBY tidak memenuhi dan mempraktekkan hukum moralitas sederhana.

Nova mengungkapkan bahwa untuk mendapatkan simpati dan dukungan dari publik luas, tak melulu harus dengan mempraktekkan politik viktimisasi yang pernah diterapkan Partai Demokrat. Karena masyarakat pun kini menjadi lebih kritis dalam menilai praktek kegiatan berpolitik di Indonesia.

“Politik viktimisasi dan pencitraan yang tidak essensi adalah potret rapuhnya demokrasi. Publik pun semakin cerdas memahami demokratisasi Indonesia,” ucap Nova yang juga Ketua Bidang Hukum dan Kebijakan Publik Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia.

Nova menilai, politik korban ala SBY ternyata diikuti oleh anaknya yang juga Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Agus menduplikasi SBY dalam mempraktekkan teori politik viktimisasi atau memposisikan diri sebagai korban dalam isu kudeta Partai Demokrat.

“AHY itu duplikat SBY dalam hal pencitraan dan politik korban. Namun, sekarang rakyat sudah sangat cerdas,” demikian Nova.

You may also like